Kekerasan Diplomasi antara AS dan Iran Terus Berlanjut
Tegangnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah upaya diplomasi terbaru gagal mencapai kesepakatan yang diharapkan. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal damai yang diajukan oleh Teheran, dengan menganggap tawaran tersebut belum memenuhi standar dan kepentingan Washington.
Sebelumnya, ada harapan bahwa negosiasi akan berjalan lancar setelah kedua pihak membuka peluang untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Namun, harapan itu meredup setelah Trump membatalkan rencana pertemuan penting yang dimediasi pihak ketiga, dengan alasan tawaran Iran dinilai tidak cukup signifikan.
Penolakan Iran terhadap Tekanan dan Tuntutan AS
Iran dikabarkan telah mengajukan sejumlah poin kesepakatan, termasuk isu strategis seperti pencabutan sanksi dan pengaturan jalur vital energi global. Meski begitu, Washington menilai proposal tersebut belum mampu menjamin kepentingan keamanan, terutama terkait program nuklir Iran.
Situasi ini membuat jalur diplomasi semakin tersendat, bahkan terancam buntu total di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. Upaya mediasi oleh negara-negara lain pun belum menunjukkan hasil konkret, sementara kedua pihak tetap bertahan pada posisi masing-masing.
Kini, dunia internasional menyoroti perkembangan ini dengan kekhawatiran, mengingat kegagalan negosiasi berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Trump Batalkan Perjalanan Utusan ke Pakistan
Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa tawaran pejabat Iran untuk menyetujui kesepakatan perdamaian abadi tidak cukup. Ia juga membatalkan perjalanan Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad sambil menunggu panggilan lain tentang kesepakatan tersebut.
“Mereka memberi kami dokumen (penawaran) yang seharusnya lebih baik, dan yang menarik, segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit kami mendapatkan dokumen baru yang jauh lebih baik,” kata Trump dikutip dari CBS News, Minggu (26/4/2026).
Meskipun tidak menyebutkan secara pasti apa yang ditawarkan Iran dalam negosiasi tersebut, ia mengulangi argumen yang sudah umum bahwa Iran harus mengakhiri program nuklirnya.
“Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir, sesederhana itu. … Mereka menawarkan banyak hal, tetapi tidak cukup,” ujar Trump.
Iran Menolak Negosiasi Paksa
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan memasuki negosiasi paksa dengan AS, menurut stasiun penyiaran negara Iran, IRIB. Dilansir CNN, Minggu (2/4/2026), dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Pezeshkian mengatakan tindakan AS yang sedang berlangsung merusak kepercayaan dan mempersulit jalan menuju dialog.
Ia menambahkan bahwa kemajuan akan tetap sulit kecuali “tindakan permusuhan dan tekanan operasional” dari Washington dihentikan. Pezeshkian mengatakan Washington harus terlebih dahulu menghilangkan hambatan operasional. Itu termasuk blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan Iran untuk menciptakan kondisi bagi penyelesaian masalah.
Sharif meyakinkan Pezeshkian bahwa Islamabad “akan melanjutkan upaya tulus dan jujurnya untuk mempromosikan perdamaian dan keamanan regional,” menurut pernyataan resmi dari Kantor Perdana Menteri Pakistan.







