Mengungkap Rahasia di Balik Film Mother Mary
Film Mother Mary (2026) menghadirkan pengalaman yang mendalam dan penuh makna, memicu banyak pertanyaan dari penonton. Apa sebenarnya yang menghantui karakter utama? Apakah itu roh gaib atau hanya luka batin yang belum terobati? Film ini berhasil menyusup ke dalam relung kehilangan, penyesalan, dan rekonsiliasi dua tokoh utamanya, Mary (Anne Hathaway) dan Sam (Michaela Coel), dengan narasi yang ambigu dan penuh makna.
Disutradarai oleh David Lowery, film ini memadukan keindahan visual dengan narasi yang puitis, mengingatkan pada pendekatannya di A Ghost Story (2017). Di tengah cerita yang kompleks, banyak elemen yang menjadi pertanyaan, seperti sosok hantu merah yang muncul di berbagai adegan. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai beberapa aspek menarik dari film ini.
1. Makna Sosok Hantu Merah
Sosok hantu atau roh merah dalam Mother Mary bukan sekadar entitas horor. Ia digambarkan sebagai luka yang punya tubuh sendiri, menggambarkan perasaan yang tak bisa diungkapkan melalui kata-kata. Bagi Sam, entitas ini adalah metafora dari cinta yang patah—seperti gigi yang retak, terus sakit meski tidak disentuh. Namun bagi Mary, roh itu lebih dari sekadar metafora. Ia melihatnya, merasakannya, bahkan “menampungnya” di dalam dirinya.
Film ini tidak memberikan jawaban pasti tentang arti roh tersebut. Ia bisa dibaca sebagai manifestasi rasa bersalah, depresi, atau trauma yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Bahkan ketika ada unsur ritual dan kejadian supranatural, semuanya tetap berakar pada emosi manusia. Alih-alih menjadi ancaman eksternal, roh merah ini terasa seperti akumulasi rasa sakit yang tidak pernah diproses. Ia bukan jahat, tapi juga tidak jinak. Ia hanya ada. Ketika Mary dan Sam akhirnya “mengusirnya” bersama-sama, momen itu terasa seperti proses terapi emosional yang divisualkan dengan apik.
2. Hantu Itu Nyata Atau Hanya Metafora?

Di sinilah film bermain dengan pikiran penonton. Ia tidak memilih satu jawaban, dan justru membiarkan keduanya berdampingan. David Lowery menjelaskan bahwa ia tidak ingin mengganggu interpretasi orang lain saat mereka menonton film ini. Menurutnya, baik Sam maupun Mary memiliki pandangan yang benar: Sam tahu apa yang dilihatnya, namun ia juga tahu bahwa itu tidak nyata. Kedua hal itu bisa benar.
Pendekatan ini membuat film terasa seperti mimpi setengah sadar. Kita tahu ada sesuatu, tapi tidak bisa sepenuhnya memastikan bentuknya. Lalu, mengapa hantu? Lowery selalu tertarik dengan kematian dan sifat fana dari segala sesuatu. Ia mencoba mengejawantahkan hal itu dalam bentuk visual. Baginya, hantu dalam Mother Mary adalah perasaan yang terlalu besar untuk diucapkan, sehingga ia memilih untuk “menampakkan diri.”
3. Inspirasi dari Film Possession (1981)

Ada satu momen yang sulit dilupakan, yakni ketika Mary menari tanpa musik. Gerakannya patah, liar, hampir seperti sedang bertarung dengan sesuatu yang tak terlihat. Sekilas, ini mirip dengan adegan ekstrem dalam Possession karya Andrzej Żuławski. Lowery menjelaskan bahwa referensi ini bukan hanya pada adegan tari, tetapi juga pada banyak hal yang terjadi setelahnya.
Adegan tari ini lebih terasa seperti ekspresi mentah dari kondisi batin Mary. Gerakan yang dibuat bersama koreografer Dani Vitale menjadi semacam bahasa baru, bahasa tubuh untuk emosi yang tidak bisa diucapkannya. Di titik ini, film seakan berkata, “ketika kata-kata gagal, tubuh lah yang akan berbicara.” Meskipun kita tidak pernah mendengar lagu itu, apa yang ingin Mary sampaikan? Film ini berhasil mengungkapkan hal tersebut melalui tarian yang penuh makna.







