Perubahan Perilaku Konsumen dan Dampaknya pada Industri Makanan
Di era digital saat ini, perilaku konsumen semakin dipengaruhi oleh media sosial. Tidak hanya mencari rasa yang enak, konsumen juga tertarik pada pengalaman dan sensasi yang unik. Hal ini membuat menu-menu viral memiliki daya tarik tersendiri di kalangan masyarakat.
Kondisi ini mendorong brand untuk menghadirkan menu yang sesuai dengan tren yang sedang ramai dibicarakan. Momentum ini bisa menjadi peluang emas untuk menarik perhatian konsumen dan meningkatkan penjualan dalam waktu singkat.
Namun, strategi ini tidak lepas dari risiko. Di balik potensi keuntungan yang ditawarkan, muncul pertanyaan apakah adopsi menu viral benar-benar berdampak jangka panjang atau justru menjadi tantangan bagi keberlangsungan brand.
Yuswohady, seorang pengamat branding dan pemasaran, menjelaskan bahwa dunia usaha yang berhubungan langsung dengan konsumen saat ini memasuki era attention economy. Dalam konsep ini, perhatian manusia dianggap sebagai komoditas berharga di tengah arus informasi yang sangat dinamis.
Dulu, untuk mencari perhatian, medium promosinya masih terbatas pada cara-cara konvensional seperti billboard. Namun, saat ini, setiap orang bisa membangun viralitasnya sendiri melalui media sosial.
“Viralitas menjadi pengganti iklan tradisional. Brand berlomba-lomba menciptakan atau masuk ke dalam viralitas untuk mendapatkan exposure,” ujarnya.
Yuswohady menyebutkan bahwa ada brand yang berhasil menciptakan viralitasnya sendiri. Namun, banyak brand lain yang kemudian mencoba peruntungan dengan menyajikan hal serupa untuk mendompleng viralitas yang sudah ada, salah satunya dengan menghadirkan variasi menu yang mirip.
Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, sering dijumpai sebuah menu atau produk menjadi viral, misalnya tren bahan tertentu seperti pistachio atau matcha. Adopsi mereka bisa sangat cepat karena dipicu oleh fear of missing out (FOMO) dan hype.
Namun, penting dipahami bahwa viralitas tidak menjamin keberhasilan jangka panjang. Banyak produk yang viral dan laris di awal, tetapi tidak bertahan.
Yuswohady menegaskan bahwa para pelaku usaha sah-sah saja jika ingin mengadopsi viralitas ke dalam menu baru mereka. Namun, pastikan fondasi usaha mereka tidak berdasarkan pada viralitas semata. Kunci utamanya tetap pada product-market fit, yaitu sejauh mana produk tersebut benar-benar sesuai dengan preferensi konsumen.
Menurutnya, viralitas hanya mendorong orang untuk mencoba. Akan tetapi, apakah konsumen akan membeli kembali, itu bergantung pada pengalaman mereka terhadap produk tersebut. Jika setelah mencoba mereka merasa cocok, maka akan terjadi pembelian ulang dan loyalitas. Sebaliknya, jika tidak sesuai ekspektasi, maka produk tersebut hanya akan menjadi tren sesaat.
“Dalam industri makanan, ini sangat terlihat. Banyak restoran atau menu yang viral, tetapi siklus hidupnya sangat cepat. Konsumen mungkin hanya datang satu atau dua kali, lalu berpindah ke tren berikutnya. Hanya sedikit yang benar-benar menjadi langganan jangka panjang,” tegasnya.
Dia menekankan bahwa viralitas memang penting di era attention economy sebagai “pintu gerbang” untuk menarik konsumen. Namun, untuk mempertahankan kesuksesan, brand harus memastikan adanya product-market fit dan kualitas produk yang konsisten. Hal inilah yang akan menentukan positioning brand.







