Sejarah dan Perkembangan Museum Penataran
Museum Penataran memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan makna. Awalnya, koleksi benda-benda bersejarah ini dimulai dari inisiatif Warso Kusumo, seorang tokoh daerah di Blitar. Pada tahun 1866, ia mulai mengumpulkan ratusan benda arkeologi yang kemudian disimpan di Pendopo Ronggo Hadinegoro, yang terletak di sisi utara alun-alun Kota Blitar. Awalnya, jumlah koleksi hanya sekitar 142 benda.
Seiring waktu, jumlah koleksi semakin bertambah, sehingga kebutuhan akan tempat penyimpanan yang lebih layak pun muncul. Pada tahun 1915, koleksi tersebut diresmikan sebagai Museum Blitar. Fungsi museum pada masa itu adalah sebagai balai penyelamatan benda cagar budaya di wilayah Blitar. Museum ini juga menjadi awal dari pelestarian benda-benda bersejarah yang ditemukan di berbagai wilayah Blitar, seperti arca, prasasti, hingga artefak peninggalan masa Hindu-Buddha.
Pemindahan yang Sarat Makna
Perkembangan signifikan terjadi pada akhir abad ke-20. Tepatnya pada tahun 1998, Museum Blitar dipindahkan ke kawasan wisata Penataran, yaitu di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Sejak saat itu, nama museum berganti menjadi Museum Penataran dan terus berkembang hingga saat ini.
Proses pemindahan koleksi dari Pendopo Ronggo Hadinegoro ke Museum Penataran pada Juni 1998 dilakukan dengan cara yang unik dan penuh makna. Seluruh benda arkeologi dipindahkan dengan diiringi musik gamelan Kebo Giro atau klenengan. Setiap benda dibungkus kain mori dan diarak menggunakan kendaraan secara perlahan, mulai pagi hingga tengah malam. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap benda bersejarah agar tetap terjaga dan terhindar dari kerusakan.
Tradisi tersebut menarik perhatian masyarakat. Banyak warga yang datang untuk menyaksikan proses pemindahan, bahkan mengunjungi museum pada hari berikutnya. Namun, tidak semua koleksi bertahan di lokasi baru. Salah satu arca bernama Agastya dikembalikan ke lokasi semula di Pendopo Ronggo Hadinegoro beberapa bulan setelah pemindahan. Peristiwa ini dikaitkan dengan kepercayaan spiritual masyarakat setempat yang meyakini bahwa arca tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pendopo.
Peran Museum Penataran
Selain sebagai tempat penyimpanan koleksi, Museum Penataran juga memiliki fungsi edukatif yang kuat. Museum ini menjadi sarana untuk memahami sejarah dan nilai budaya dari Candi Penataran, salah satu kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Museum ini berperan sebagai penghubung antara peninggalan fisik candi dengan konteks sejarahnya.
Pengunjung dapat memahami perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Timur, khususnya pada masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Koleksi yang dimiliki museum tidak hanya terbatas pada arkeologi, tetapi juga mencakup etnografi, numismatik, dan keramikologi. Hal tersebut menjadikan Museum Penataran sebagai pusat informasi sejarah yang cukup lengkap di wilayah Blitar.
Keberadaan museum ini juga mendukung kegiatan penelitian dan pendidikan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Koleksi Ikonik yang Menjadi Daya Tarik
Museum Penataran memiliki sejumlah koleksi ikonik yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Salah satunya adalah arca Trimurti yang terdiri dari Dewa Siwa, Wisnu, dan Brahma dalam kondisi lengkap. Keberadaan arca Trimurti yang utuh tergolong langka dibandingkan koleksi serupa di museum lain. Arca tersebut disusun berjajar sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat secara keseluruhan.
Selain itu, terdapat pula arca Dewi Durga Mahisasuramardini yang menjadi ikon utama museum. Arca ini dikenal memiliki detail pahatan yang masih jelas dan menggambarkan sosok Durga sebagai pelindung dari ancaman. Diketahui, Museum Penataran menyimpan ratusan koleksi benda cagar budaya dari berbagai era, mulai dari Kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Singasari, hingga Majapahit.
Dengan koleksi yang terus bertambah dan peran strategisnya dalam pelestarian sejarah, Museum Penataran kini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Blitar sekaligus destinasi edukasi budaya di Jawa Timur.







