Pengalaman Menjajal Teknologi VLA 2.0 di Xpeng P7
Xpeng telah menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi mobil pintar melalui sistem VLA 2.0 yang ada di Xpeng P7. Tidak hanya sebatas klaim, redaksi Infomalangraya.com juga sudah mencoba langsung kemampuan sistem ini saat melakukan test drive di jalanan kota Beijing, Cina. Hasilnya benar-benar membuat takjub.
Kesan Pertama yang Membuat Kagum
Saat awal mencoba, kesan pertama yang terasa adalah betapa pintarnya sistem ini. Pengemudi nyaris tidak perlu melakukan apa pun, cukup duduk dan biarkan mobil mengambil alih. Hal ini sejalan dengan penjelasan Yin Ruizhe, Senior Manager of Intelligent Cockpit Product Operations Xpeng, yang menyebut sistem ini dirancang agar mudah digunakan oleh semua orang.
“Kami ingin autonomous driving tidak hanya untuk early adopters, tapi bisa digunakan oleh semua orang, bahkan orang tua kita,” ujar Ruizhe saat sesi workshop.
Seperti Memiliki Sopir Pribadi
Saat test drive di jalanan kota Beijing yang terkenal padat dan dinamis, VLA 2.0 menunjukkan kemampuannya membaca kondisi lalu lintas dengan sangat baik. Baik saat kondisi macet maupun lancar, mobil bisa menyesuaikan gaya berkendara secara otomatis.

Mobil ini bukan sekadar ‘bisa jalan sendiri’, tapi benar-benar seperti sopir pribadi. Sistem VLA 2.0 mampu melakukan hampir seluruh aktivitas mengemudi mulai dari berjalan lurus, berbelok, menyalakan lampu sein sebelum belok dan mematikannya kembali, berhenti saat lampu merah dan jalan lagi saat lampu hijau, menyalip kendaraan di depan, berpindah lajur, sampai menghindari hambatan di jalan. Semuanya dilakukan secara natural tanpa intervensi pengemudi.
“VLA 2.0 bisa memprediksi kondisi jalan di depan seperti pengemudi yang sudah sangat berpengalaman,” jelas Ruizhe.
Gaya Mengemudi yang Halus dan Nyaman
Hal lain yang patut diapresiasi adalah karakter berkendaranya yang halus. Akselerasi dan deselerasi terasa smooth, tidak agresif atau bikin kaget. Sensasinya benar-benar seperti duduk sebagai penumpang dengan sopir pribadi yang sudah berpengalaman.

Hal ini juga sebelumnya dijelaskan oleh Ruizhe, dimana sistem VLA terbaru ini memang dikembangkan agar mobil dapat mengemudi dengan sangat baik. “Sistem sebelumnya tidak membuat pengemudi tenang, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi,” lanjut Ruizhe. Bahkan, saat melalui jalanan yang relatif sempit, sistem VLA 2.0 tetap mampu menyesuaikan diri dengan baik, termasuk saat harus berbagi jalan dengan kendaraan lain.
Ajak Komunikasi Driver Agar Selalu Waspada
Hal lain yang membuat saya takjub saat menjajal teknologi ini adalah mobil ini seolah mengajak driver berkomunikasi. Selama berkendara, mobil akan sesekali mengeluarkan alarm sebagai bentuk komunikasi.

Saat alarm berbunyi, pengemudi harus menyentuh setir sejenak lalu melepasnya kembali. Tujuannya sederhana, yakni memastikan pengemudi tetap sadar, tidak tidur, dan siap mengambil alih kapan saja.
Bukan Teknologi Gimmick
VLA 2.0 bukan teknologi gimmick sebab Xpeng mengembangkan sistem ini dengan pendekatan AI besar berbasis dunia nyata (physical world). Data yang dikumpulkan lengkap dengan dukungan chip Turing dan simulasi virtual X World.
“Ini bukan soal berapa banyak chip yang digunakan, tapi seberapa besar komputasi efektif yang benar-benar dirasakan pengguna,” tegas Ruizhe dalam sesi workshop.
Dari pengalaman langsung menjajalnya, VLA 2.0 benar-benar memberikan gambaran seperti apa masa depan mobil otonom. Mobil tidak hanya bisa mengemudi sendiri, tapi juga mampu bertindak layaknya sopir pribadi yang paham situasi jalan. Pengalaman ini terasa menyenangkan, praktis, sekaligus membuka perspektif baru soal bagaimana teknologi akan mengubah cara kita berkendara.
Dengan perkembangan seperti ini, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mobil akan semakin pintar, aman, dan benar-benar bisa diandalkan tanpa banyak campur tangan manusia.







