Sosialisasi QRIS Cross Border untuk Persiapan Penerbangan Internasional Belitung
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BI Babel) mengadakan sosialisasi transaksi antarnegara kepada pelaku pariwisata di Kabupaten Belitung. Acara yang berlangsung di Gedung Serbaguna Ishak Zainudin, Pemkab Belitung, bertujuan untuk mempersiapkan sektor pariwisata menghadapi penerbangan internasional rute Singapura–Belitung yang akan dimulai pada 3 Mei 2026.
Deputi Kepala Perwakilan SPMIPUR BI Babel, Farid Tamsil, menjelaskan bahwa sosialisasi ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan layanan QRIS Cross Border. Layanan tersebut dirancang untuk memudahkan wisatawan mancanegara dalam melakukan transaksi selama berkunjung ke Belitung.
“Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pelaku pariwisata di Kabupaten Belitung dalam rangka memperkenalkan QRIS Cross Border,” ujar Farid.
Pentingnya Penerbangan Internasional bagi Sektor Pariwisata
Keberadaan penerbangan langsung dari Singapura ke Belitung menjadi momen penting bagi sektor pariwisata daerah. Dengan adanya layanan ini, diharapkan jumlah wisatawan mancanegara akan meningkat, sehingga perlu dipersiapkan sistem pembayaran yang efisien dan mudah digunakan.
QRIS Cross Border diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Belitung. Dalam acara sosialisasi tersebut, BI Babel mengundang pelaku restoran, UMKM, general manager hotel, hingga perbankan. Tujuannya adalah agar seluruh pelaku usaha memahami penggunaan QRIS Cross Border dan siap mengimplementasikannya di masing-masing merchant.
“Sehingga saat wisatawan mancanegara datang ke sini, mereka sudah siap menggunakan QRIS di masing-masing merchant, baik UMKM, hotel maupun restoran,” kata Farid.
Cara Kerja QRIS Cross Border
Melalui QRIS Cross Border, wisatawan mancanegara dapat langsung bertransaksi hanya dengan memindai barcode QRIS. Selain itu, pelaku usaha tidak perlu repot menghitung kurs mata uang saat melayani wisatawan.
“Misalnya membeli barang kerajinan seharga Rp10 ribu atau Rp100 ribu, maka nominal di aplikasi mereka akan otomatis terkonversi sesuai kurs pada hari itu,” ujar Farid.
Terkait implementasi di Bangka Belitung, Farid menyebut bahwa QRIS Cross Border saat ini telah diterapkan pada sejumlah usaha besar. Namun, untuk kesiapan UMKM masih terus didorong.
“Pada dasarnya QRIS yang sudah ada, itu bisa digunakan untuk bertransaksi melalui semua bank, bahkan juga melalui penyedia jasa pembayaran,” tuturnya.
Pengalaman di Negara Lain
Lebih lanjut, Farid mengatakan bahwa implementasi QRIS Cross Border telah lebih dahulu berjalan di sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. “Jadi saat masyarakat Indonesia datang ke Singapura atau Malaysia, mereka sudah bisa menggunakan QRIS untuk bertransaksi di negara tersebut,” katanya.
Peran Pelaku Wisata dan UMKM
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Belitung, Paryanta, dalam sambutannya menekankan pentingnya penerapan kanal pembayaran non-tunai. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk percepatan digitalisasi di area publik, khususnya Bandara HAS Hanandjoeddin Belitung untuk mendukung ekosistem pembayaran modern.
“Untuk itu, melalui perannya para pelaku wisata diharapkan juga menjadi edukator juga fasilitator bagi para wisatawan mancanegara mengenai implementasi sistem pembayaran nontunai ini,” kata Paryanta.
Selain itu, keterlibatan pelaku UMKM terhadap penggunaan transaksi nontunai juga harus terus diupayakan. Sebab, pemanfaatannya memang terbukti memberikan rasa aman, nyaman, dan efisien, serta membuka dan memperluas akses pasar UMKM, hingga ke pasar Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“Mengingat pentingnya tujuan dari sosialisasi ini, saya mengajak seluruh peserta untuk menyimak dengan baik sehingga informasi yang diperoleh dapat diimplementasikan secara berkelanjutan,” tutur Paryanta.






