Iran Menetapkan Batas Waktu Satu Bulan untuk Kesepakatan Damai dengan AS
Pada hari Sabtu (2/5/2026), Iran memberikan tenggat waktu satu bulan kepada Amerika Serikat (AS) terkait negosiasi kesepakatan damai yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Tuntutan Iran meliputi pencabutan blokade angkatan laut AS, ganti rugi perang, serta pengakhiran konflik di Iran dan Lebanon secara permanen.
Sebelumnya, pada hari Kamis (30/4/2026), Iran telah menyerahkan proposal revisi 14 poin untuk kerangka perjanjian kepada AS. Dua sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut menyebutkan bahwa proposal ini menetapkan tenggat waktu satu bulan yang ketat untuk mengamankan kesepakatan yang mencakup akses maritim, mengakhiri blokade angkatan laut AS, dan gencatan senjata yang langgeng di kedua front.
“Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk — tetapi untuk saat ini, kita akan lihat,” ujar seorang pejabat Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump merespons dengan dingin terhadap tuntutan tersebut. Ia justru menyebut blokade AS sebagai tindakan “sangat ramah” dan tidak dipersoalkan.
Perang yang Masih Berlangsung
Meskipun gencatan senjata tiga minggu telah menghentikan sementara perang AS-Israel terhadap Iran, situasi tetap rapuh. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa mereka tetap dalam “siaga penuh” untuk kembali ke permusuhan, dengan alasan kurangnya komitmen AS terhadap perjanjian sebelumnya.
Kendala teknis juga muncul dalam membuka kembali Selat Hormuz, termasuk keberadaan ranjau laut Iran. Selain itu, keputusan Trump untuk menarik 5.000 tentara AS dari Jerman memicu keretakan dengan sekutu NATO.
Kekacauan Ekonomi di Iran
Di Iran, dampak ekonomi dari perang semakin memburuk. AS telah memberlakukan sanksi baru terhadap tiga perusahaan mata uang Iran dan memperingatkan perusahaan lain agar tidak membayar “pungutan” untuk jalur aman melalui Hormuz, seperti yang diminta oleh Iran.
Militer AS mengatakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai 6 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi di Iran, yang sudah tinggi sebelum perang, telah melonjak melewati 50 persen.
“Bagi banyak orang, membayar sewa dan bahkan membeli makanan menjadi sulit, dan sebagian tidak memiliki apa pun lagi,” kata Mahyar, seorang warga Iran berusia 28 tahun, kepada seorang reporter AFP yang berada di luar negeri.
Ancaman dan Peringatan
Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan pada hari Jumat bahwa “pemilik bisnis yang terkena dampak harus sebisa mungkin menghindari PHK dan pemutusan hubungan kerja.” Ia juga mengancam musuh-musuh Iran dengan “jihad ekonomi dan budaya.”
Selain itu, Iran juga menyerukan pencabutan blokade angkatan laut AS, ganti rugi perang, dan pembebasan semua aset yang dibekukan. Rencana 14 poin Iran dilaporkan menyerukan jangka waktu 30 hari untuk menyelesaikan persyaratan perdamaian, sebuah jangka waktu yang bertentangan dengan preferensi Washington untuk transisi yang lebih panjang.
Perjalanan Diplomasi yang Penuh Tekanan
Meskipun Trump mengatakan pada Jumat (1/5/2026) bahwa dia tidak puas dengan proposal Iran, ia mengatakan kepada wartawan pada hari Sabtu sebelum meninggalkan Palm Beach menuju Miami bahwa dia akan meninjainya selama penerbangan. “Saya sedang mempelajarinya. Nanti saya beri tahu,” katanya.
Beberapa saat kemudian, Trump melontarkan pernyataan yang jauh lebih tajam di Truth Social, mengatakan bahwa dia “tidak dapat membayangkan hal itu dapat diterima” dan bersikeras bahwa Iran “belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir.”
Dalam pernyataan yang sama kepada media, Trump menggambarkan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan yang “sangat ramah” dan tidak dipersoalkan, serta menegaskan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan klaimnya bahwa permusuhan telah “diakhiri.”






