Keterbatasan Bukan Penghalang, Dua Siswi Sekolah Pinggiran Lolos ke Tingkat Nasional
Di tengah keterbatasan pembelajaran, dua murid dari sekolah pinggiran Kota Palangka Raya: SDN 2 Petuk Katimpun melangkah jauh. Lewat Olimpiade Obor Langit mata pelajaran Bahasa Inggris, Theresa dan Desi membuktikan bahwa kemampuan bukan soal fasilitas, tapi kemauan untuk belajar dan berani mencoba.
Perjalanan Theresa Septi Dwitri
Rasa kaget masih membekas di wajah Theresa Septi Dwitri (12) saat namanya diumumkan sebagai salah satu perwakilan menuju tingkat nasional dalam Olimpiade Obor Langit. Bagi siswi kelas 6 ini, pencapaian itu datang tanpa banyak dugaan.
“Jujur kaget. Senang, tapi juga bingung kenapa bisa terpilih,” ujarnya polos.
Namun di balik itu, ada proses yang tak instan. Seleksi di sekolah menjadi pintu awal. Dari sejumlah murid, Theresa terpilih karena nilai yang paling tinggi. Dukungan keluarga pun menjadi dorongan tambahan.
“Orang tua senang. Di keluarga cuma aku sama kakakku yang bisa,” katanya. Motivasi awalnya pun sederhana bahkan cenderung jujur tanpa basa-basi. “Karena hadiah dan juga pengalaman,” ucapnya sambil tersenyum.
Namun seiring proses berjalan, motivasi itu berubah. Ia mulai menyadari bahwa kompetisi ini bukan sekadar soal hadiah, tapi juga kemampuan dan pengalaman.
Persiapan dilakukan intens bersama guru di sekolah. Materi khusus olimpiade diberikan, mulai dari pemahaman kosa kata hingga latihan soal. Tantangan pun datang saat menghadapi soal esai yang mengharuskan peserta mengenal budaya negara lain dalam bahasa Inggris.
“Itu susah, harus hafal nama festival, makanan, dan ditulis dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.
Meski begitu, ia berhasil menyelesaikan seluruh soal. Kini, menjelang tahap nasional di Malang, Theresa mengaku lebih siap baik dari sisi materi maupun mental.
“Di rumah sering belajar lagi, grammar juga. Kalau mental cukup percaya diri,” katanya.
Perjalanan Desi Tri Anggraini
Hal serupa juga dirasakan Desi Tri Anggraini (10), murid kelas 4 yang turut lolos ke tahap berikutnya dalam ajang yang sama. Berbeda dengan Theresa, Desi mengaku awalnya hanya ingin mencoba.
“Mau ikut saja dan cari pengalaman,” katanya singkat. Motivasinya pun tak jauh berbeda hadiah menjadi salah satu alasan utama. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada kebiasaan belajar yang perlahan terbentuk.
Ia mengaku rutin belajar di rumah. Tujuannya sederhana: ingin bisa berbicara bahasa Inggris.
“Biar bisa bicara bahasa Inggris,” ujarnya.
Meski mengaku masih merasa gugup menghadapi tingkat nasional, Desi tetap berusaha mempersiapkan diri. Rasa takut dan deg-degan dianggap sebagai hal yang wajar.
“Takut pasti ada, tapi tetap siap,” katanya.
Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
Di balik keberhasilan dua siswi ini, ada peran guru yang membimbing mereka dari awal. Rizqa Aulia, guru Bahasa Inggris di SDN 2 Petuk Katimpun, menjadi sosok yang mendampingi proses tersebut.
Ia menjelaskan, keikutsertaan sekolah bermula dari undangan mengikuti Olimpiade Obor Langit mata pelajaran Bahasa Inggris. Dari situ, dilakukan seleksi internal untuk mencari siswa yang benar-benar siap.
“Kami pilih dua orang, satu kelas 6 dan satu kelas 4, yang memang punya dasar cukup baik,” ujarnya.
Dengan waktu persiapan yang terbatas sekitar dua minggu, latihan dilakukan secara intensif. Materi diberikan berdasarkan kisi-kisi lomba, dengan pendekatan bertahap.
“Satu topik harus benar-benar paham dulu, baru lanjut ke berikutnya. Kalau tidak, nanti mereka bisa blank saat lomba,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya penguasaan kosa kata sebagai kunci utama dalam bahasa Inggris, terutama untuk anak-anak.
Meski menghadapi keterbatasan waktu dan fasilitas, hasil yang diraih justru di luar dugaan. Kedua siswinya berhasil masuk 12 besar dan berhak melaju ke tingkat nasional di Malang.
“Awalnya ragu, karena lawannya dari sekolah yang sehari-hari pakai bahasa Inggris. Tapi ternyata mereka bisa,” katanya.
Rasa bangga pun tak bisa disembunyikan. Bagi Rizqa, pencapaian ini menjadi bukti bahwa siswa dari sekolah dengan fasilitas terbatas pun mampu bersaing.
Harapan Masa Depan
Ke depan, persiapan akan ditingkatkan. Materi akan lebih kompleks, latihan lebih intens, dan waktu belajar ditambah. Namun ia menegaskan, target utama bukan semata kemenangan.
“Menang itu harapan, tapi bukan keharusan. Yang penting mereka dapat pengalaman dan tidak patah semangat,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, langkah Theresa dan Desi menjadi bukti sederhana: mimpi bisa dimulai dari mana saja. Dari ruang kelas biasa, dari latihan seadanya, hingga keberanian untuk mencoba.
Kini, perjalanan mereka berlanjut ke Malang. Bukan hanya membawa nama sekolah, tapi juga harapan bahwa dari Palangka Raya, anak-anak pun bisa bersaing di tingkat nasional.






