Penurunan Debit Sumber Mata Air di Kota Batu
Beberapa tahun terakhir, sejumlah sumber mata air di Kota Batu mengalami penurunan debit. Hal ini disampaikan oleh Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, yang menyatakan bahwa meski penurunan tidak signifikan, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Menurut Heli Suyanto, saat ini terdapat sekitar 273 titik sumber mata air yang terdata. Namun, jumlah ini belum mencakup seluruh potensi yang ada di wilayah Kota Batu. Ia menekankan pentingnya klasifikasi sumber mata air, apakah itu sumber utama, anak sumber, atau rembesan, dan semua harus dihitung secara bersama.
Penurunan debit air juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya pemanfaatan air hingga alih fungsi lahan di kawasan hulu. Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan kajian teknis lebih lanjut.
Sebagai langkah pencegahan dan penanganan, Pemkot Batu mulai menggencarkan program revitalisasi kawasan hutan yang menjadi daerah resapan air. Program ini melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH), baik yang telah memiliki izin perhutanan sosial maupun yang belum.
Heli Suyanto menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng kelompok tani hutan untuk terlibat dalam revitalisasi. Mereka yang sudah memiliki SK perhutanan sosial akan dilibatkan secara aktif.
Pendekatan Kolaboratif dalam Revitalisasi
Konsep revitalisasi yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan nilai ekonomi masyarakat. Hutan harus tetap berfungsi secara ekologis, tetapi masyarakat juga perlu mendapatkan manfaat ekonomi. Karena itu, jenis tanaman yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi kawasan sekaligus memiliki nilai jual.
Pengelolaan sumber daya air ini tidak bisa dilakukan secara sektoral. Koordinasi antar organisasi perangkat daerah (OPD) perlu diperkuat, khususnya antara Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bidang sumber daya air. Pendekatan sektoral harus dikurangi karena urusan lingkungan dan keberlanjutan memerlukan partisipasi semua pihak.
Langkah-Langkah yang Dilakukan
- Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Pemkot Batu mendorong adanya kegiatan pelestarian seperti ‘nguri-uri’ atau menjaga keberlangsungan sumber mata air.
- Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan: Melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok tani hutan, untuk menjaga ketersediaan air.
- Peningkatan Keterlibatan Masyarakat: Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air agar lebih efektif dan berkelanjutan.
- Koordinasi Lintas Sektor: Memperkuat kerja sama antar OPD untuk memastikan pengelolaan air yang optimal dan berkelanjutan.
Peran Kelompok Tani Hutan
Kelompok Tani Hutan (KTH) memiliki peran penting dalam program revitalisasi kawasan hutan. Mereka tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan bantuan KTH, Pemkot Batu dapat memastikan bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan dan merata.
Tantangan dan Solusi
Meskipun ada tantangan dalam pengelolaan sumber daya air, Pemkot Batu terus berupaya untuk mencari solusi yang efektif. Salah satu solusi yang diterapkan adalah revitalisasi kawasan hutan yang menjadi daerah resapan air. Dengan pendekatan kolaboratif, Pemkot Batu berharap dapat memulihkan debit air dan menjaga keberlanjutan sumber mata air di Kota Batu.
Selain itu, Pemkot Batu juga mengedepankan pendekatan teknis dalam mengidentifikasi penyebab penurunan debit air. Dengan kajian teknis yang lebih mendalam, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat dan berkelanjutan.







