Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Persipura Melaju ke Playoff Usai Kalahkan Persiku 2-0 di Stadion Lukas Enembe

    6 Mei 2026

    Doa Setelah Sholat Subuh dan Manfaat Waktu Subuh untuk Rezeki Lancar

    5 Mei 2026

    Stok Hewan Kurban Jatim Melimpah, Khofifah Targetkan Ekspor ke Arab Saudi

    5 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 6 Mei 2026
    Trending
    • Persipura Melaju ke Playoff Usai Kalahkan Persiku 2-0 di Stadion Lukas Enembe
    • Doa Setelah Sholat Subuh dan Manfaat Waktu Subuh untuk Rezeki Lancar
    • Stok Hewan Kurban Jatim Melimpah, Khofifah Targetkan Ekspor ke Arab Saudi
    • Kuliner Makassar di Surabaya: Daeng Banna Sajikan Konro Bakar Asli
    • Jatim Paling Dicari: Mobil Tabrak 8 Motor & Tips Pilih Daycare
    • 61.000 Jemaah Tiba di Madinah, Umrah Wajib Dimulai di Makkah
    • Prakiraan Cuaca Sulawesi Utara 4 Mei 2026: Wilayah Berpotensi Hujan Lebat
    • Bawa suara anak Indonesia ke dunia, tim Garuda Baru berangkat ke Meksiko
    • Sawah Kering: Gajah di Tengah Kekeringan
    • Klasemen MotoGP Prancis 2026 Ditunggu, Lihat Jadwal Moto3, Moto2, dan Balapan MotoGP
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»Sawah Kering: Gajah di Tengah Kekeringan

    Sawah Kering: Gajah di Tengah Kekeringan

    adm_imradm_imr5 Mei 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kehidupan di Balik Layar Aplikasi

    Pagi itu, seorang pengemudi ojek daring berhenti di warung kecil di pinggir jalan. Ia tidak langsung memesan makanan. Ia membuka aplikasi dan menatap angka yang bergerak tanpa suara. Menghitung dalam diam. Harga bensin naik lagi. Harga beras belum turun. Order belum tentu datang.

    Ia menutup aplikasi sejenak, lalu membuka lagi, seolah berharap angka itu berubah. Tidak berubah. Jalanan mulai ramai. Waktu berjalan, ia tahu, setiap menit yang terlewat adalah biaya yang tidak terlihat.

    Di meja makan rumahnya nanti malam, mungkin akan ada satu lauk yang dikurangi. Atau porsi nasi yang sedikit diperkecil. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang meledak. Hanya pelan-pelan, hidup menjadi lebih sempit.

    Di tempat lain, ribuan kilometer dari sana, grafik harga minyak dunia bergerak naik turun. Konflik di Timur Tengah dibahas dalam bahasa geopolitik: stabilitas kawasan, gangguan pasokan, risiko rantai energi global.

    Anggaran negara dihitung ulang. Istilah seperti defisit, subsidi, dan penyesuaian harga menjadi wacana yang terdengar rasional, bahkan perlu.

    Namun di jalanan, rasionalitas itu berubah menjadi sesuatu yang sangat konkret: berapa liter bensin hari ini, dan apakah cukup untuk pulang. Inilah wajah paling jujur dari krisis energi global. Ia tidak terasa di ruang konferensi. Ia terasa di dapur.

    Sistem yang Tidak Netral

    Di balik layar aplikasi yang tampak rapi dan efisien, ada sebuah sistem yang bekerja tanpa suara. Algoritma menentukan siapa mendapat order. Siapa menunggu. Siapa diprioritaskan. Siapa yang perlahan “menghilang” dari radar permintaan. Semua terlihat objektif. Semua terasa netral.

    Namun sebenarnya, sistem ini sedang melakukan sesuatu yang sangat manusiawi—ia memilih siapa yang menanggung risiko. Dan hampir selalu, yang dipilih adalah mereka yang paling kecil.

    Gig economy menjanjikan kebebasan: jam kerja fleksibel, otonomi, peluang penghasilan tambahan. Namun di lapangan, ia sering berubah menjadi sesuatu yang lain: sebuah ladang luas yang tampak subur, tetapi tanahnya mulai kehilangan air. Sawah digital.

    Para pengemudi menanam waktu, tenaga, dan bensin. Mereka bergerak mengikuti ritme kota, mengikuti notifikasi, mengikuti insentif. Ironisnya hasil panennya tidak selalu mereka tentukan.

    Biaya operasional ditanggung sendiri. Risiko kecelakaan ditanggung sendiri. Ketidakpastian pendapatan ditanggung sendiri.

    Sementara itu, platform tetap berjalan. Komisi tetap dipotong. Nilai tetap mengalir ke atas. Di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar model bisnis. Ini adalah arsitektur distribusi risiko. Hari ini arsitektur ini tidak netral.

    Kita sering berpikir bahwa teknologi membawa efisiensi. Itu benar. Sebaliknya tidak lengkap. Teknologi juga membawa keputusan: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung beban.

    Dalam ekosistem gig hari ini, terjadi satu pergeseran diam-diam: risiko yang dulu ditanggung perusahaan, kini dipindahkan ke individu.

    Perubahan dalam Hubungan Kerja

    Dulu, ongkos operasional adalah tanggung jawab organisasi. Hari ini, ia menjadi tanggung jawab pekerja. Dulu, ketidakpastian pasar dikelola oleh perusahaan. Hari ini, ia dialihkan ke pengemudi. Dulu, hubungan kerja memiliki perlindungan. Hari ini, ia dibungkus dengan istilah “kemitraan”.

    Kata yang terdengar setara, tetapi sering kali tidak setara dalam praktik. Kemitraan tanpa perlindungan bukan kemitraan. Ia adalah pemindahan beban. Algoritma, yang tampak dingin dan matematis, menjadi alat yang memperhalus proses ini.

    Ia tidak berteriak. Ia tidak memaksa. Ia hanya mengatur. Tetapi di balik pengaturan itu, ada tekanan yang nyata. Target insentif. Rating. Ancaman suspend. Semua membentuk perilaku.

    Banyak pengemudi akhirnya bekerja lebih lama, lebih cepat, lebih berisiko. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena sistem mendorong ke arah itu. Sawah tetap luas. Tetapi airnya tidak mengalir merata.

    Pertanyaan tentang Keadilan

    Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal teknologi. Bukan juga soal efisiensi. Pertanyaannya lebih mendasar: apakah sistem ini adil?

    Kita sedang hidup di masa di mana kemajuan teknologi berjalan sangat cepat, tetapi keadilan sosial tertatih mengejarnya.

    Di satu sisi, platform tumbuh menjadi raksasa. Valuasi meningkat. Ekosistem berkembang. Di sisi lain, pekerja gig hidup dalam ketidakpastian harian, tanpa jaminan, tanpa perlindungan, tanpa kepastian masa depan.

    Di satu sisi, data menjadi aset paling berharga. Di sisi lain, manusia yang menghasilkan data itu justru paling rentan. Ini bukan kontradiksi kecil. Ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita membangun ekonomi digital.

    Kelas menengah yang dulu menjadi tulang punggung konsumsi mulai tergerus. Daya beli menurun. Tabungan terkuras. Strategi hidup berubah, dari merencanakan masa depan menjadi sekadar bertahan hari ini.

    Solusi yang Perlu Dilakukan

    Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Ia membutuhkan aksi bersama: negara, platform, dan masyarakat. Bukan untuk menghentikan teknologi, lebih untuk memastikan teknologi tetap manusiawi.

    Pertama, negara harus hadir dengan akal sehat. Regulasi tidak boleh tertinggal dari inovasi. Penetapan tarif yang adil, transparansi algoritma, serta batasan potongan komisi bukanlah hambatan bisnis. Itu adalah fondasi keberlanjutan.

    Negara harus berani menetapkan standar minimum, bukan untuk menghambat pertumbuhan, tetapi untuk menjaga keseimbangan. Pasar kita sekarang, dalam kondisi asimetri kekuatan, jarang mampu mengoreksi dirinya sendiri.

    Kedua, redefinisi status pekerja. Istilah “mitra” tidak boleh menjadi celah hukum untuk menghindari tanggung jawab. Kita membutuhkan kategori baru: pekerja mandiri yang tetap fleksibel, tetapi memiliki perlindungan dasar.

    Akses ke jaminan sosial, kesehatan, dan perlindungan kecelakaan bukanlah kemewahan. Itu adalah hak. Fleksibilitas tidak boleh dibayar dengan kerentanan.

    Ketiga, membangun koperasi digital. Jika platform adalah alat produksi baru, maka kepemilikan atasnya harus mulai dipikirkan ulang. Koperasi digital bukan nostalgia. Ia adalah adaptasi. Dengan kepemilikan bersama: risiko bisa dibagi, margin bisa kembali ke pekerja, daya tawar meningkat.

    Kita tidak sedang kembali ke masa lalu. Kita sedang mencari bentuk baru dari keadilan ekonomi di era digital. Sawah tidak lagi dimiliki segelintir pihak. Ia menjadi ruang bersama yang dikelola bersama.

    Menentukan Arah Teknologi

    Pada akhirnya, kita tidak sedang melawan teknologi. Kita sedang menentukan arah dari teknologi itu sendiri. Apakah ia akan menjadi alat yang memperluas kesejahteraan, atau justru memperdalam ketimpangan?

    Sawah digital kita tidak kekurangan benih. Tidak kekurangan tenaga. Tidak kekurangan potensi. Yang kurang adalah air—keadilan yang mengalir merata. Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang perlu kita jawab hari ini adalah: Apakah kita akan terus membiarkan sawah ini mengering, sementara kita sibuk menghitung hasil panen?

    Atau kita mulai bersama-sama mengalirkan kembali airnya—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk musim-musim yang akan datang.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Perbandingan Internet Rakyat vs MyRepublic Air, 100 Mbps Hanya Rp100 Ribu

    By adm_imr5 Mei 20260 Views

    Toyota Calya 2026: Desain Modern, Hemat BBM, Harga Terjangkau

    By adm_imr5 Mei 20261 Views

    Vivo Y21d: Kamera 50MP dan Suara Menggelegar, Ini Spesifikasi dan Harganya

    By adm_imr5 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Persipura Melaju ke Playoff Usai Kalahkan Persiku 2-0 di Stadion Lukas Enembe

    6 Mei 2026

    Doa Setelah Sholat Subuh dan Manfaat Waktu Subuh untuk Rezeki Lancar

    5 Mei 2026

    Stok Hewan Kurban Jatim Melimpah, Khofifah Targetkan Ekspor ke Arab Saudi

    5 Mei 2026

    Kuliner Makassar di Surabaya: Daeng Banna Sajikan Konro Bakar Asli

    5 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?