Pengembangan Lebos Menjadi Oleh-Oleh Khas Sragen
Sragen, yang dikenal dengan berbagai kekayaan budaya dan sejarahnya, kini tengah menghadirkan inovasi baru dalam dunia kuliner. Sebuah kelompok penggiat sejarah di Kabupaten Sragen mencoba mengembangkan makanan tradisional lebos menjadi oleh-oleh khas daerah. Inisiatif ini dilakukan oleh tim Ekspedisi Sukowati yang berupaya memperkenalkan lebos sebagai produk yang lebih tahan lama dan mudah dikonsumsi.
Lebos sendiri merupakan makanan tradisional yang memiliki ciri khas dari racikan Adipati Martapura. Menurut Lilik Mardiyanto, Ketua Pusat Studi Sukowati (Pastika), lebos terbuat dari daun pohon ketela yang ditumbuk dan dicampur dengan bumbu-bumbu seperti kelapa, ikan asin, serta bahan lainnya. Meskipun lebos memiliki rasa yang khas, namun sifatnya basah dan tidak tahan lama. Oleh karena itu, tim Ekspedisi Sukowati berupaya mengubah lebos menjadi serundeng lebos agar bisa bertahan lebih lama.
Proses Pembuatan Serundeng Lebos
Salah satu anggota tim Ekspedisi Sukowati, Sri Maryatun, menjelaskan bahwa proses pembuatan serundeng lebos melibatkan beberapa tahapan. Bahan-bahan utama yang digunakan antara lain kelapa setengah tua, tempe, ikan teri, serta bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan kemiri. Dalam racikannya, Sri Maryatun menggunakan dua jenis tempe, yaitu tempe biasa yang digoreng dan tempe bosok sebagai penyedap.
Tempe bosok dipilih karena menurut cerita dari orang tuanya, bahan ini dapat membantu menghilangkan cacingan di dalam perut. Untuk meningkatkan rasa dan tekstur, Sri Maryatun juga menggoreng tempe dan ikan teri agar lebih krispi. Bumbu-bumbu dihaluskan, lalu dicampur dengan sedikit air dan gula Jawa. Setelah mendidih, parutan kelapa dimasukkan dan direbus hingga setengah kering.
Teknik Masak Tradisional
Proses masak lebos menggunakan teknik tradisional. Dahulu, masakan ini dimasak dengan kompor kayu dan wajan yang ditaruh di belakang, sehingga dipanaskan dengan bara. Saat ini, prosesnya tetap dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan api besar hingga setengah kering, lalu api dikurangi. Setelah itu, bahan tempe goreng dan teri dimasukkan dan dioseng terus-menerus hingga kering.
Menurut Sri Maryatun, isian dari lebos bisa bervariasi, mulai dari daun ketela hingga daun singkong. Namun, untuk memastikan rasa yang umum disukai, ia memilih menggunakan tempe dan ikan teri sebagai bahan utama. Selain sebagai lauk, serundeng lebos juga bisa disajikan sebagai camilan.
Potensi sebagai Oleh-Oleh Khas Sragen
Dengan pengemasan yang tepat, serundeng lebos memiliki potensi untuk bertahan selama 1 hingga 2 bulan. Hal ini membuatnya cocok sebagai oleh-oleh khas Sragen. Sri Maryatun menyatakan bahwa tujuan dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya untuk keuntungan pribadi.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan makanan tradisional Sragen. Dengan inovasi yang dilakukan, lebos yang dulunya hanya dikenal sebagai makanan basah kini berpotensi menjadi salah satu ikon kuliner daerah yang bisa dinikmati oleh banyak orang.
Kesimpulan
Inovasi serundeng lebos menunjukkan betapa pentingnya pelestarian budaya melalui pemanfaatan bahan lokal. Dengan kombinasi antara tradisi dan inovasi, makanan khas Sragen bisa hadir dalam bentuk yang lebih modern dan praktis. Semoga keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi bagi penggiat kuliner lainnya untuk terus mengembangkan makanan tradisional menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.







