Pengertian Tawaf Wada’ dalam Ibadah Haji
Tawaf wada’ adalah tawaf yang dilakukan sebagai penutup dari rangkaian ibadah haji. Dalam prosesnya, jemaah haji melakukan tujuh putaran di sekitar Ka’bah, dimulai dari posisi sejajar dengan Hajar Aswad dan posisi Kabah berada di sisi kiri jemaah. Tawaf ini memiliki makna penting sebagai penghormatan akhir kepada Baitullah.
Beberapa ulama menyatakan bahwa hukum tawaf wada’ adalah wajib bagi jemaah haji yang akan meninggalkan Makkah. Hal ini didasarkan pada pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad serta kebanyakan ulama. Namun, terdapat keringanan (rukhshah) bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, serta jemaah dengan kondisi tertentu yang tidak dapat melaksanakannya tanpa dam.
Perempuan yang sedang haid atau nifas dan tidak bisa melakukan tawaf wada’ cukup berdoa di pintu Masjidilharam sebagai bentuk penghormatan kepada Baitullah. Sementara itu, menurut pendapat Imam Malik, Dawud, dan Ibnu Mundzir, tawaf wada’ hukumnya sunah, sehingga tidak dikenakan dam jika tidak dilakukan.
Doa Saat Tawaf Wada’
Setelah melaksanakan tawaf wada’, jemaah haji dianjurkan untuk berdiri di Multazam, yaitu antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, lalu membaca doa berikut:
“Allāhumma innal-baita baituka wal-‘abda ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika ḥamaltanī ‘alā mā sakhkharta lī min khalqika ḥattā sīratanī fī bilādika wabalaghtanī bini‘matika ḥattā a‘antanī ‘alā qaḍā’i manāsikika, fa in kunta raḍīta ‘annī fazdad ‘annī riḍā, wa illā famunna al-āna ‘alayya qabla tabā‘udī ‘an baitika wa hādzā awānu inṣirāfī in adzinta lī ghaira mustabdalin bika wa lā bibaitika wa lā rāghibin ‘anka wa lā ‘an baitika.”
Artinya: “Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu, aku ini hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Engkau telah membawa aku di atas kendaraan ciptaan-Mu (unta) yang Engkau tundukkan untukku, dan Engkau sendiri memudahkan perjalananku, serta mengantarkan aku sampai ke negeri-Mu ini dan menolongku dengan nikmat-Mu sehingga dapat menunaikan ibadah haji. Kalau Engkau rida padaku, maka tambahkanlah keridaan itu padaku. Jika tidak, maka karuniailah aku sekarang sebelum aku jauh dari rumah-Mu.”
Doa Setelah Tawaf Wada’
Setelah melakukan tawaf wada’, jemaah haji juga membaca doa berikut:
“Bismillāh, Allāhu akbar, subḥānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika wattibā‘an lisunnati nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam…”
Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, tiada daya (untuk meraih manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Jemaah yang Mendapatkan Rukhsah
Ada beberapa kelompok jemaah yang mendapatkan keringanan untuk tidak melakukan tawaf wada’. Antara lain:
- Jemaah perempuan yang sedang haid atau nifas,
- Jemaah yang mengalami kondisi medis seperti istihadhah, beser, atau luka yang terus mengeluarkan darah,
- Anak-anak,
- Jemaah yang mengalami tekanan psikologis berat, atau yang tertinggal dari rombongan,
- Jemaah yang secara fisik lemah karena usia lanjut atau sakit, sehingga kesulitan untuk melaksanakan tawaf wada’.
Hikmah Tawaf Wada’
Ungkapan Syukur atas Selesainya Ibadah
Tawaf wada’ menjadi momen untuk bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi kesempatan menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji atau umrah. Syukur ini bukan hanya diucapkan, tetapi juga dirasakan dalam hati sebagai bentuk pengakuan atas rahmat Allah.Harapan agar Ibadah Diterima (Haji Mabrur)
Saat tawaf perpisahan, jemaah memohon agar semua amal ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah SWT. Harapan terbesar adalah mendapatkan haji yang mabrur, yaitu haji yang diterima dan membawa perubahan baik dalam kehidupan.Doa untuk Keselamatan Perjalanan dan Kehidupan
Dalam tawaf wada’, jemaah memanjatkan doa agar diberikan keselamatan, kesehatan, dan perlindungan, baik dalam perjalanan pulang maupun dalam kehidupan setelah kembali ke tanah air.Kerinduan untuk Kembali ke Baitullah
Tawaf wada’ bukan sekadar perpisahan, tetapi juga awal dari kerinduan. Banyak jemaah yang merasa haru bahkan meneteskan air mata karena harus meninggalkan Ka’bah. Dari sini tumbuh harapan agar suatu saat bisa kembali lagi ke Tanah Suci.







