Refleksi dan Kembali Menata Pengeluaran
Setelah merayakan Ramadan dan Idulfitri yang mungkin menghabiskan banyak pengeluaran, saatnya untuk melakukan refleksi dan kembali menata pengeluaran. Untuk mencapai gaya hidup yang bermakna dan sadar (mindful living), salah satu hal penting adalah dengan menerapkan pola konsumsi yang bijak. Mindful spending menjadi kunci utama dalam mengatur prioritas agar keuangan tetap sehat dan terkendali.
Membeli barang atau jasa bukan hanya karena ingin, tapi harus benar-benar dibutuhkan dan memiliki nilai tambah bagi kehidupan. Mindful spending adalah bagaimana seseorang memiliki situasi keuangan yang terencana, terkendali, dan terarah. Dalam acara Media Gathering Halal Bihalal bertema Building Meaning in Every Family Choice, Arviane D.B., Head of PR Kino Indonesia dan Mike Rini CFP, Financial Planner dari Mitra Rencana Edukasi memberikan beberapa tips untuk tetap bisa mindful spending di tengah kondisi yang tak menentu ini sekaligus menghadapi kemudahan bertransaksi.
1. Tetapkan Tujuanmu Sebelum Membeli Sesuatu
Menurut Mike Rini, salah satu makna mindful spending adalah tahu apa tujuanmu membeli barang. Jangan karena FOMO, takut ketinggalan diskon, atau karena mengejar validasi orang, akhirnya kamu mengeluarkan uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk tujuan yang lebih bermanfaat.
“Kita perlu menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik mengelola keuangan supaya hidup kita itu mindful. Supaya hidup kita mindful salah satu caranya adalah dengan mindful spending. Mindful spending itu berarti kalau kita beli pasti intentional, pasti ada tujuannya. Untuk sampai pada bahwa itu ada tujuannya kan berarti ada proses memutuskan. Jadi, nggak sembarangan. Nggak sembarangan karena fomo, nggak sembarangan karena teman-teman juga sudah beli, nggak sembarangan juga karena ‘aduh yang penting validasi nih’.”
2. Jangan Remehkan Pengeluaran Kecil
Mike juga mengingatkan bahwa setiap keputusan keuangan baik itu dianggap kecil atau besar, memiliki dampak yang besar. Mulai dari pengeluaran kecil yang mungkin hanya Rp5 ribu sampai Rp10 ribu pun harus dikendalikan dengan baik. Nggak hanya secara materi, ini juga bisa memengaruhi psikologis seseorang.
“Setiap keputusan kecil itu sebenarnya mengarah kepada dampak yang lebih besar. Jadi, kalau yang kecil-kecil ini tidak terkendali, maka dia bisa snowballing. Bukan hanya dalam jumlahnya, tetapi dampaknya secara psikologis ke kita. Kita terbiasa meremehkan yang kecil-kecil, maka kita tidak akan siap menghadapi yang besar-besar. Kalau setiap kali keputusan keuangan kita mindful, kita yakini bahwa memang kita begitu, sesuai dengan kemampuan kita. Maka biasanya itu akan nanti berdampak pada kesiapan kita dalam memutuskan, menyeleksi, menganalisa permasalahan-permasalahan yang lebih besar.”

3. Ambil Momentum Refleksi Audit Keuangan
Pasca hari raya merupakan waktu yang tepat untuk refleksi dan mengaudit keuanganmu. Rincikan pengeluaran, pendapatan, apa yang harus dilakukan. Dari situ kamu jadi tahu di mana kesalahanmu dalam membuat keputusan pengeluaran, lalu menavigasi apa yang harus dilakukan jika ada kekurangan, dan merancangkan keuangan untuk ke depannya.
“Momen seperti ini, ketika habis Lebaran itu sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi momentum untuk refleksi diri. Refleksi diri kita, kemudian juga kita mungkin bisa melakukan audit uang kecil-kecil lagi. Kita tracking, kita punya spending berapa aja, saldo tabungan kita berapa, apa yang perlu kita lakukan. Kalau kurang atau kalau ada kelebihan, apa yang harus kita lakukan. Nah, disitu nanti kita bisa lihat, yang kita lakukan, yang harusnya kita lakukan, tapi kita tidak lakukan itu apa sih. Momentum dari refleksi inilah yang kemudian kita ambil untuk melakukan perbaikan, sehingga di tahun depan bisa lebih baik kondisinya.”

4. Manfaatkan Produk yang Memberi Nilai Lebih dan Sesuai Kebutuhan
Arviane D.B sendiri memberikan tips untuk mengenali barang atau jasa apa yang dibutuhkan, seberapa banyak dibutuhkan, dan untuk tujuan apa itu akan dipergunakan sebelum melakukan transaksi. Ini tak hanya menghemat waktu dan tenaga, tapi juga biaya. Misalnya, kalau kamu ingin memberikan hampers untuk keluarga, kamu bisa memanfaatkan produk-produk terbaru atau kemasan festive yang ditawarkan oleh para brand.

5. Bedakan Butuh dan Ingin
Tip selanjutnya agar kamu bisa mindful spending adalah dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dimiliki karena itu penting untuk bisa melakukan kegiatan yang fundamental. Tapi, kebutuhan itu bisa jadi keinginan apabila muncul faktor-faktor lain dan rasa kurang cukup, padahal punya fungsi yang sama.
“Kebutuhan dan keinginan itu bukan soal barangnya, tapi soal keputusanmu. Contohnya kamu butuh baju. Tapi, kamu sudah punya baju yang cukup dan masih layak pakai. Lalu kamu beli baju baru yang lebih mahal atau branded karena ikut tren atau ingin diakui. Baju tersebut bukan jadi kebutuhan lagi, tapi sebuah keinginan. Kebutuhan itu apa yang memang kamu perlukan dan sesuai kemampuan atau budget kamu. Keinginan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak kamu perlukan banget, atau di luar budget, tapi tetap dibeli karena kamu ingin, misalnya gengsi, ikut tren, atau cari validasi.”

6. Buat Strategi dan Tentukan Prioritas
Mindful spending bukan berarti nggak belanja sama sekali atau pelit yang menyiksa diri. Pelit sendiri adalah hal yang harusnya dilakukan, malah tidak dilakukan. Ganti pelit dengan teknik smart spending. Ini berarti melakukan sebuah strategi untuk mengalokasikan uang atau gaji kepada kebutuhan secara pas, tidak berlebihan.
Selain budget, kamu juga harus perhatikan bagaimana kamu mengonsumsi barang tersebut. Apakah itu perlu dalam jumlah atau ukuran besar, atau yang kecil saja sudah cukup. Strategi selanjutnya adalah dengan mencatat semua pengeluaran mulai dari yang paling dasar. Dari sini kamu jadi tahu uang kamu sebenarnya larinya ke mana saja.








