Iran Menetapkan Tenggat Waktu 30 Hari untuk Mencapai Kesepakatan Strategis
Iran telah menetapkan tenggat waktu satu bulan kepada Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan strategis yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade angkatan laut, hingga gencatan senjata permanen di Iran dan Lebanon. Langkah ini menjadi sorotan global karena menyangkut jalur energi vital dunia dan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurut laporan Axios pada Sabtu (2/5/2026), Iran telah menyerahkan proposal revisi berisi 14 poin kepada Amerika Serikat pada Kamis (30/4/2026). Dua sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut menyebut, proposal itu memuat tenggat waktu ketat selama 30 hari untuk mencapai kesepakatan awal. Kesepakatan tersebut mencakup:
- Pembukaan akses maritim, termasuk Selat Hormuz
- Pengakhiran blokade angkatan laut AS
- Gencatan senjata permanen di Iran dan Lebanon
Jika tahap awal tercapai, kedua negara akan melanjutkan ke fase kedua berupa negosiasi tambahan selama satu bulan yang berfokus pada program nuklir Iran.
Respons Donald Trump: Dari Terbuka Hingga Keras
Presiden AS Donald Trump memberikan respons yang berubah-ubah terhadap proposal Iran. Ia mengatakan, “Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, tetapi untuk saat ini, kita akan lihat.” Trump juga menyatakan masih mengkaji proposal tersebut, “Saya sedang mempelajarinya. Nanti saya beri tahu.”
Namun, beberapa saat kemudian melalui Truth Social, Trump menyampaikan sikap yang jauh lebih keras. Ia mengatakan bahwa dirinya “tidak dapat membayangkan hal itu dapat diterima” dan menilai Iran “belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap umat manusia, dan dunia, selama 47 tahun terakhir.”
Iran Tuntut Pencabutan Blokade dan Ganti Rugi
Proposal Iran juga memuat sejumlah tuntutan tambahan, antara lain:
- Pencabutan blokade angkatan laut AS
- Pembayaran ganti rugi perang
- Pembebasan seluruh aset Iran yang dibekukan
Media Al Jazeera melaporkan Iran menginginkan seluruh proses perdamaian diselesaikan dalam 30 hari, berbeda dengan keinginan Washington yang menghendaki transisi lebih panjang.
Gencatan Senjata Rapuh dan Siaga Militer
Upaya diplomatik ini berlangsung di tengah gencatan senjata rapuh selama tiga minggu yang menghentikan sementara konflik antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026. Namun, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tetap dalam “siaga penuh” dan siap kembali ke pertempuran, dengan alasan kurangnya komitmen AS terhadap kesepakatan sebelumnya.
Ketegangan meningkat setelah Trump menyebut blokade sebagai “bisnis yang sangat menguntungkan”. Pernyataan tersebut langsung dikritik oleh Kementerian Luar Negeri Iran sebagai “pengakuan yang memberatkan atas pembajakan”.
Dampak Ekonomi: Inflasi Iran Tembus 50 Persen
Perang dan blokade membawa dampak ekonomi serius bagi Iran. Militer AS mengklaim blokade telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai 6 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi di dalam negeri melonjak hingga melampaui 50 persen.
“Bagi banyak orang, membayar sewa dan bahkan membeli makanan menjadi sulit, dan sebagian tidak memiliki apa pun lagi,” kata Mahyar, warga Iran berusia 28 tahun, kepada reporter AFP.
Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei meminta pelaku usaha untuk menghindari PHK. Ia juga memperingatkan musuh Iran dengan ancaman “jihad ekonomi dan budaya.”
Diplomasi 30 Hari atau Jalan Menuju Eskalasi?
Ultimatum 30 hari dari Iran menunjukkan strategi tekanan tinggi: memanfaatkan momentum gencatan senjata rapuh untuk memaksa kesepakatan cepat. Namun, perbedaan mendasar masih sangat tajam:
- Iran ingin penyelesaian cepat dan menyeluruh
- AS cenderung memilih proses bertahap dan lebih panjang
Pernyataan keras Trump dan sikap siaga IRGC memperlihatkan bahwa kepercayaan antar kedua pihak masih sangat rendah. Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia menjadi titik krusial, jika negosiasi gagal, dampaknya tidak hanya regional, tetapi juga global, mulai dari lonjakan harga minyak hingga gangguan rantai pasok internasional.
Dengan waktu yang semakin sempit, 30 hari ke depan berpotensi menjadi periode paling menentukan bagi stabilitas Timur Tengah pada 2026.






