Perang Iran Memasuki Hari Ke-67 dengan Kekacauan di Selat Hormuz
Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki hari ke-67, dengan situasi yang semakin memburuk di kawasan Timur Tengah. Salah satu titik kritis adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi energi global. Kekakuan ini ditandai oleh serangan rudal, drone, serta klaim saling menyalahkan antara kedua pihak.
Ketegangan Meningkat di Wilayah Teluk dan Barat
Sejumlah negara di kawasan Teluk dan Barat telah mengecam dugaan serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA). Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa jika kapal-kapal AS menjadi sasaran, Iran akan “lenyap dari muka bumi.”
Selat Hormuz, yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia, menjadi pusat perhatian. Al Jazeera melaporkan bahwa gencatan senjata yang rapuh dan aktivitas militer yang meningkat memperburuk situasi. Pihak UEA melaporkan telah mencegat sejumlah rudal balistik dan pesawat tak berawak yang diduga ditembakkan dari Iran. Akibatnya, kebakaran besar terjadi di fasilitas minyak Fujairah, melukai tiga warga negara India.
Dalam Negeri Iran: Bantahan dan Klaim yang Bertentangan
Di dalam Iran, situasi diwarnai bantahan dan klaim yang saling bertentangan dengan pihak AS. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membantah adanya kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, meskipun militer AS menyatakan dua kapal berbendera AS berhasil melewati jalur tersebut dengan pengawalan. Media pemerintah Iran juga menuding bahwa kapal yang dihancurkan AS bukan milik militer, melainkan kapal sipil.
“Lima orang tak bersalah tewas setelah dua kapal sipil diserang,” demikian laporan media pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa krisis ini tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan militer. “Situasi ini menunjukkan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz adalah “hak sah” Iran.
Di Teluk: Serangan Terhadap UEA dan Respons Militer
Ketegangan meningkat tajam setelah UEA mengklaim menjadi target serangan Iran. Otoritas UEA menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 15 rudal dan empat drone. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di fasilitas energi Fujairah dan melukai tiga warga negara India. Selain itu, dua orang dilaporkan terluka di Oman setelah sebuah bangunan tempat tinggal terdampak serangan di wilayah pesisir.
Militer AS mengerahkan kapal perusak ke kawasan Teluk sebagai bagian dari misi pengawalan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Laksamana Brad Cooper sebelumnya menyatakan bahwa pasukan AS telah menghancurkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mengancam pelayaran. Namun klaim ini dibantah oleh Iran, yang menyebut tidak ada kapal militer mereka yang terkena serangan.
Diplomasi dan Respon Internasional
Kecaman internasional terus bermunculan atas dugaan serangan terhadap UEA. Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania, bersama Gulf Cooperation Council serta European Union, mengecam tindakan tersebut. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan solidaritas terhadap UEA dan menyerukan de-eskalasi. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa “eskalasi harus dihentikan” dan mendesak semua pihak kembali ke jalur diplomasi.
Al Jazeera melaporkan bahwa upaya diplomatik terus dilakukan, namun belum menunjukkan hasil signifikan. Di Israel dan Lebanon, ketegangan juga meluas. Militer Israel dilaporkan berada dalam status siaga tinggi dan terus memantau perkembangan situasi. Di Lebanon, Presiden Joseph Aoun menegaskan bahwa stabilitas keamanan harus dicapai sebelum adanya pertemuan dengan Israel. Kelompok Hezbollah juga dilaporkan terlibat bentrokan dengan tentara Israel di wilayah selatan Lebanon.
Dampak pada Pasar Global
Konflik yang semakin memanas langsung berdampak pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak lebih dari 5 persen setelah serangan terhadap UEA. Al Jazeera melaporkan bahwa ketidakpastian di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Ancaman Meningkat dan Risiko Eskalasi
Dengan meningkatnya intensitas konflik dan minimnya kemajuan diplomasi, risiko eskalasi yang lebih luas semakin nyata. Selat Hormuz kembali menjadi titik panas global yang berpotensi memicu krisis energi dan keamanan internasional. Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.





