Kekuatan Militer Iran dan Ketegangan di Selat Hormuz
Iran dilaporkan menembakkan dua rudal ke arah kapal perang Amerika Serikat (AS) yang sedang melintasi Selat Hormuz. Insiden ini terjadi pada Senin (4/5/2026), waktu setempat. Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang menjadi pintu keluar masuk utama perdagangan minyak dunia. Menurut Kantor Berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kapal AS tersebut mundur menjauh dari pelabuhan Jask setelah mendapat peringatan. Fars menyebut kapal itu “melarikan diri”.
Namun, militer AS membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada kapal mereka yang terkena serangan. Insiden ini terjadi beberapa jam setelah Kepala Komando Militer Gabungan Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan pasukan AS agar tidak memasuki Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran akan menjaga dan mengelola keamanan selat tersebut dengan sekuat tenaga.
Mobilisasi Kekuatan Militer
Ketegangan terbaru ini muncul ketika otoritas Iran memobilisasi kekuatan militer untuk bersiap menghadapi konflik baru. Sementara itu, Iran terus bertukar “proposal perdamaian” dengan AS dalam upaya untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari lalu. Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Senin mengonfirmasi bahwa sedang meninjau naskah terbaru dari AS yang disampaikan melalui Pakistan, tetapi mendesak pendekatan yang lebih “realistis” dari Trump.
Juru Bicara Pemerintah Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya tidak akan membicarakan “apa pun kecuali pengakhiran perang sepenuhnya pada tahap ini”. Di sisi lain, otoritas Iran berupaya membangun kembali kemampuan rudal dan drone mereka jika perang kembali pecah. Militer Iran juga menggali kembali pintu masuk pangkalan militer bawah tanah yang dibom AS beberapa waktu lalu. Ini adalah pangkalan yang menyimpan amunisi dan peralatan militer lengkap.
Persiapan Jika Perang Kembali Pecah
Memasuki minggu ke-10 atau lebih dari 1.550 jam, pemadaman internet di Iran masih terus diberlakukan oleh pemerintah karena “pertimbangan keamanan”. Sementara itu, iring-iringan kendaraan bersenjata terus berkeliaran di jalan-jalan Teheran dan kota-kota lainnya di Iran pada malam hari.
Dukungan Warga
Para pendukung pemerintah mengadakan demonstrasi di alun-alun kota dan persimpangan kota utama di mana mereka sering memutar nyanyian keagamaan dari pengeras suara dan mengibarkan bendera sambil dikawal oleh kendaraan lapis baja. Kampanye pemerintah Iran untuk menjaga narasi perang tetap aktif di dalam negeri disebut “Jan Fadaa”, yang berarti seseorang yang siap “mengorbankan” nyawanya untuk tujuan tersebut.
Para sukarelawan yang siap ikut berperang mendaftar melalui situs web yang dikelola pemerintah, hanya dengan menggunakan nomor telepon. Sebuah pesan teks yang dikaitkan dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei bulan lalu menyebut kampanye tersebut sebagai “salah satu elemen penting yang berdampak dalam negosiasi dengan musuh”.
Presiden, ketua parlemen, dan sejumlah besar pejabat lainnya memuji inisiatif tersebut, mengatakan bahwa mereka “bangga” mewakili para anggotanya. Kepala kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei menyebutnya “bersejarah”. Media pemerintah mengatakan banyak sukarelawan bergabung dan siap berperang mengorbankan nyawa mereka untuk negaranya.
“Saya akan berada di medan perang bersama keluarga saya selama diperlukan,” kata seorang pria yang didampingi anggota keluarganya kepada Kantor Berita Mehr yang berafiliasi dengan IRGC, seraya menyatakan kesiapannya “untuk bertempur sampai mati”.
Jan Fadaa menyatakan memiliki lebih dari 31 juta anggota aktif, yang mewakili lebih dari sepertiga populasi Iran, atau lebih dari setengah populasi berusia di atas 12 tahun. Namun, pihak berwenang belum merilis dokumentasi apa pun untuk mendukung klaim tersebut, yang muncul beberapa bulan setelah ribuan orang tewas dalam protes nasional pada bulan Januari.







