Sejarah dan Perkembangan Jadah Tempe Mbah Carik
Jadah Tempe Mbah Carik adalah salah satu ikon kuliner legendaris Yogyakarta yang telah bertahan selama beberapa dekade. Warisan dari generasi pertama, Sastro Dinomo, seorang carik di Kaliurang, kini diteruskan oleh generasi keempat, Angga Kusuma Arybowo. Meskipun Sudimah Wiro Sartono, generasi kedua, meninggal pada 2022, warisan ini tetap hidup melalui inovasi dan penerus yang berkomitmen menjaga tradisi.
Awal Mula Jadah Tempe Mbah Carik
Jadah tempe bermula pada era 1950-an sebagai makanan sederhana yang dibuat dari ketan yang ditumbuk dan dicampur kelapa. Rasa gurih dan tekstur kenyal membuatnya populer di kalangan masyarakat desa. Sastro Dinomo, yang juga seorang perangkat desa, memperkenalkan jadah tempe kepada para pelancong yang berkunjung ke lereng Gunung Merapi. Dari situ, muncul nama “Mbah Carik” yang menjadi ciri khas dari kuliner ini.
Popularitasnya melejit setelah Sri Sultan Hamengku Buwono IX mencicipi jadah tempe tersebut. Sang Sultan menyukai rasa yang unik dan sering mengutus pengawal untuk membelinya langsung dari Kaliurang. Hal ini membawa nama Jadah Tempe Mbah Carik semakin dikenal dan menjadi ikon kuliner DIY.
Inovasi dan Penerusan Tradisi
Di tangan generasi keempat, Angga Kusuma Arybowo, Jadah Tempe Mbah Carik terus berkembang. Ia memperkenalkan varian baru seperti jadah kinako, yang memiliki tekstur mirip kue moci dengan taburan gula putih bubuk dan kedelai. Selain itu, ia juga memperkenalkan kemasan modern yang lebih menarik bagi konsumen muda.
Angga menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah membawa kuliner ini ke generasi muda tanpa menghilangkan akar tradisinya. Produk-produk seperti wajik, srundeng, dan gembus bacem juga tersedia di outlet-outlet yang berada di Jalan Brigjen Katamso No 8 dan Jalan Kaliurang KM 7, Kayen.
Pandemi sebagai Titik Balik
Pandemi Covid-19 menjadi tantangan besar bagi usaha ini. Namun, Angga dan timnya berhasil menghadapinya dengan inovasi produk. Mereka memperkenalkan jadah tempe frozen yang ternyata sangat diminati. Penjualan meningkat drastis, meskipun kapasitas produksi awalnya terbatas.
Awalnya, mereka hanya bisa memproduksi 50 plastik per hari. Setelah investasi alat produksi, kapasitas meningkat menjadi 200–300 plastik per hari. Proses produksi pun lebih efisien dan terstandarisasi.

Kerja Sama dengan BRI
Untuk mendukung ekspansi usaha, Angga memilih bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pinjaman pertama senilai Rp100 juta memberikan dorongan signifikan. Proses pengajuan yang cepat dan syarat yang mudah menjadi alasan utama pemilihan BRI.
Selain itu, BRI juga membantu dalam pendampingan usaha melalui komunitas UMKM. Angga mengakui bahwa dukungan dari BRI tidak hanya berupa modal, tetapi juga fasilitas seperti pelatihan dan akses pasar.

Penggunaan QRIS BRI
Selain KUR, Jadah Tempe Suguhan By Mbah Carik juga menggunakan metode pembayaran cashless melalui QRIS BRI. Penggunaan QRIS sangat berpengaruh terhadap peningkatan omzet. Banyak pelanggan, termasuk ibu-ibu, mulai menggunakan QRIS karena kemudahan transaksi.
Angga menyebutkan bahwa QRIS memudahkan pembelian dan meningkatkan jumlah transaksi. Misalnya, pelanggan yang hanya membawa uang tunai Rp50 ribu bisa membeli beberapa produk sekaligus.
Harapan untuk Masa Depan
Sebagai pelaku UMKM yang didukung BRI, Angga berharap bank tersebut terus bersama-sama dengan pelaku usaha. Menurutnya, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi, dan kehadiran BRI sangat penting sebagai mitra yang mendukung pengembangan usaha.
Dengan kerja sama yang kuat dan inovasi yang terus dilakukan, Jadah Tempe Mbah Carik tetap menjadi salah satu destinasi kuliner yang patut dikunjungi di Yogyakarta.



-300x158.jpg)


