Kehadiran Kesepakatan Perdagangan Besar Antara AS dan Tiongkok
Kabar mengejutkan datang dari dunia politik dan ekonomi global setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan adanya kesepakatan besar dengan China yang langsung menyita perhatian internasional. Pernyataan tersebut sontak memicu spekulasi luas mengenai isi dan dampak dari “deal besar” yang diklaim akan mengubah arah hubungan kedua negara.
Dalam keterangannya, Trump menyebut kesepakan ini sebagai langkah strategis yang akan membawa keuntungan signifikan bagi Amerika Serikat maupun China. Namun hingga kini, detail resmi mengenai poin-poin utama kesepakatan tersebut masih belum sepenuhnya diungkap ke publik. Sejumlah analis menilai pernyataan ini berpotensi berkaitan dengan isu perdagangan, investasi, hingga stabilitas rantai pasok global.
Sektor Strategis yang Terlibat dalam Kesepakatan
Kesepakatan tersebut disebut mencakup sektor strategis seperti pertanian, penerbangan, minyak, kedelai, hingga kecerdasan buatan. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan salah satu kesepakatan bisnis besar yang disepakati dengan Xi adalah untuk membeli 200 jet Boeing besar. Presiden AS juga mengatakan Beijing juga telah menyatakan minat untuk membeli minyak dan kedelai AS.
China, yang merupakan pelanggan asing utama minyak Iran, membeli sejumlah kecil minyak dari AS sebelum Trump memberlakukan tarif tahun lalu. Seperti diketahui, Beijing telah secara tajam memperlambat pembelian kedelai AS, dan beralih ke Brasil.
Selain itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa Trump dan Xi sedang membicarakan tentang penetapan pengamanan untuk penggunaan kecerdasan buatan. Bessent menyebut “dua kekuatan super AI dunia akan mulai berbicara”, meskipun kontrol ekspor AS terhadap teknologi canggih ke China tetap menjadi titik sensitif.
Isu Geopolitik yang Turut Mewarnai Pembicaraan
Meski begitu, detail resmi belum diungkap, sementara isu geopolitik seperti Taiwan dan Iran turut mewarnai pembicaraan kedua negara. Hubungan Amerika Serikat dan China sendiri selama ini dikenal penuh dinamika, mulai dari persaingan dagang hingga ketegangan geopolitik yang kompleks.
Karena itu, setiap pernyataan terkait kesepakatan besar antara kedua negara selalu menjadi sorotan tajam dunia internasional. Pasar global pun disebut ikut merespons dengan penuh kehati-hatian menunggu kepastian isi kesepakatan tersebut.
Persoalan Selat Hormuz dan Kebijakan Terkait Iran
Trump mengatakan bahwa Xi telah menyetujui beberapa poin dalam daftar keinginan AS. Mengenai perang di Iran, China tidak akan memberikan bantuan militer kepada Teheran, yang pada dasarnya telah menutup Selat Hormuz. “Dia mengatakan dia tidak akan memberikan peralatan militer… dia mengatakannya dengan tegas,” kata Trump. “Dia ingin melihat Selat Hormuz dibuka, dan mengatakan ‘jika saya dapat membantu sekecil apa pun, saya ingin membantu’,” tambah Trump.
Kementerian Luar Negeri China pada hari Jumat mengeluarkan pernyataan yang menyerukan “gencatan senjata yang komprehensif dan abadi”. “Jalur pelayaran harus dibuka kembali sesegera mungkin sebagai tanggapan atas seruan komunitas internasional,” ujarnya.
Kebijakan Terkait Taiwan Tidak Berubah
Pembicaraan kedua pemimpin negara adidaya tersebut dibayangi oleh peringatan keras dari Xi tentang titik konflik geopolitik yang jauh lebih lama, Taiwan. Media pemerintah China melaporkan Xi telah mengatakan kepada Trump bahwa salah langkah dalam isu sensitif Taiwan dapat mendorong kedua negara ke dalam konflik.
Wawancaranya Fox News tidak membahas Taiwan, dan Trump tidak berkomentar kepada wartawan ketika ditanya tentang masalah tersebut pada Kamis (14/5/2026). Namun, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada NBC pada Kamis bahwa “kebijakan AS tentang isu Taiwan tidak berubah… hingga pertemuan tersebut”.
Beijing telah mengangkat topik tersebut, katanya, tetapi “kami selalu menjelaskan posisi kami, dan kami melanjutkan ke topik lain”. Taipei menanggapi pada Jumat dengan mengucapkan terima kasih kepada Washington “atas dukungan yang telah berulang kali diberikan”.







