Kondisi Aceh yang Masih Membutuhkan Perhatian
Di Aceh, ada luka-luka yang belum benar-benar sembuh, tetapi perhatian sudah lebih dulu berpindah. Ketika berita masih ramai, semua orang bicara. Ketika kamera media mulai menjauh, kesunyian perlahan mengambil alih. Yang tertinggal kemudian hanyalah masyarakat yang masih berusaha bertahan sendiri di tengah keadaan yang belum sepenuhnya pulih.
Barangkali itulah yang sedang dirasakan banyak masyarakat Aceh hari ini. Beberapa waktu lalu, banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Rumah-rumah rusak, kebun tertimbun lumpur, sawah gagal panen, tambak hancur, dan banyak keluarga kehilangan sumber mata pencaharian yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Di beberapa tempat, masyarakat sampai sekarang masih hidup dalam kecemasan tentang bagaimana mereka harus memulai kembali semuanya dari awal. Namun perlahan, berita tentang semua itu mulai senyap. Tidak banyak lagi yang berbicara tentang kampung-kampung yang rusak. Tidak banyak lagi yang menyoroti kehidupan korban setelah bantuan darurat berlalu. Bahkan kesedihan masyarakat seperti ikut tenggelam bersama surutnya pemberitaan.
Padahal bagi rakyat kecil, bencana tidak selesai hanya karena ia tidak lagi muncul di layar televisi atau halaman media sosial. Di jalur utama yang menjadi urat nadi transportasi Aceh pun, persoalan belum benar-benar pulih.
Jembatan darurat di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen—yang berada di jalan lintas nasional Medan–Banda Aceh—hingga kini masih menjadi kecemasan masyarakat. Jangankan jembatan permanen yang kembali berdiri, jembatan darurat saja masih kerap ambruk dan mengganggu kelancaran transportasi.
Padahal jalur itu bukan sekadar penghubung kendaraan. Ia adalah denyut pergerakan ekonomi masyarakat Aceh. Dari jalur itulah kebutuhan pokok bergerak, hasil kebun dan hasil tambak dibawa, orang sakit dirujuk, dan hubungan antara daerah-daerah di Aceh tetap terhubung satu sama lain. Ketika jalur seperti itu masih rapuh, sesungguhnya yang ikut rapuh bukan hanya konstruksi jembatannya, tetapi juga rasa tenang masyarakat yang hidup bergantung padanya.
Namun di tengah keadaan yang belum benar-benar pulih itu, perhatian publik Aceh tiba-tiba kembali tersedot pada polemik Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Sebuah kebijakan yang sangat sensitif bagi masyarakat karena menyangkut rasa aman ketika sakit. Dari warung kopi hingga sudut-sudut kecil di gampong, orang mulai membicarakannya dengan nada cemas dan penuh tanda tanya.
Saya melihat kegelisahan itu sebenarnya saling berkaitan. Bagi masyarakat kecil, persoalan hidup tidak pernah datang satu per satu. Ketika banjir menghancurkan mata pencaharian mereka, ketika akses transportasi masih terganggu akibat infrastruktur yang belum pulih, lalu pada saat yang sama muncul kekhawatiran terhadap akses kesehatan, maka yang terguncang bukan hanya ekonomi mereka, tetapi juga rasa percaya mereka terhadap hadirnya perlindungan dari pemerintah.
Di sinilah seharusnya kebijakan publik lahir dengan lebih hati-hati dan penuh kepekaan. Dalam hadih maja Aceh ada sebuah pengingat: “Awai buet dudoe pike, teulah oh akhe keupeu lom guna.” Barangkali hadih maja ini sangat cocok dengan realita atau kondisi yang sedang terjadi di Aceh akhir-akhir ini.
Sebelum sebuah pekerjaan atau kebijakan dijalankan, pikirkanlah matang-matang akibatnya di kemudian hari. Sebab kebijakan yang lahir tergesa-gesa, tanpa pembacaan yang utuh terhadap keadaan masyarakat, sering kali justru melahirkan kegaduhan, kepanikan, dan kegelisahan yang lebih besar.
Dan ketika kegelisahan itu mulai meluas, rakyatlah yang akhirnya menanggung dampaknya terlebih dahulu. Saya memahami bahwa setiap pemerintah tentu memiliki pertimbangan dan alasan dalam mengeluarkan kebijakan. Tetapi dalam keadaan masyarakat yang sedang rapuh akibat bencana dan tekanan ekonomi, kepekaan menjadi sesuatu yang sangat penting.
Sebab yang dihadapi bukan sekadar angka-angka administrasi, melainkan kehidupan manusia yang nyata. Belakangan pemerintah juga menyampaikan bahwa ruang dialog sebenarnya telah dibuka, namun mahasiswa disebut menolak berdialog. Saya melihat persoalan ini mungkin tidak cukup dibaca sekadar sebagai mau atau tidak mau berdialog.
Kadang-kadang, ketika kegelisahan masyarakat sudah terlalu lama menumpuk, yang hilang bukan hanya ruang percakapan, tetapi juga rasa percaya terhadap percakapan itu sendiri. Mungkin karena itulah mahasiswa memilih turun ke jalan. Kritik bermunculan. Protes terdengar semakin keras. Bukan semata-mata karena rakyat suka membuat kegaduhan, tetapi karena ada kegelisahan yang merasa penjelasan saja belum cukup menjawab kecemasan mereka.
Dalam situasi seperti itu, rakyat sering tidak hanya ingin diajak berbicara, tetapi juga ingin diyakinkan bahwa suara mereka sungguh-sungguh didengar dan dipertimbangkan. Saya tentu tidak membenarkan tindakan yang melanggar hukum atau merusak fasilitas publik. Namun kita juga perlu jujur melihat bahwa kemarahan masyarakat sering kali tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari rasa bahwa suara mereka tidak cukup didengar.
Yang paling saya khawatirkan justru bukan demonstrasinya, melainkan ketika rakyat mulai merasa bahwa penderitaan mereka perlahan tidak lagi menjadi perhatian utama. Dalam kehidupan masyarakat Aceh, warung kopi bukan sekadar tempat duduk dan minum kopi. Ia adalah ruang tempat keresahan rakyat bergerak pelan dari satu percakapan ke percakapan lain.
Di sana saya mendengar bagaimana masyarakat mulai merasa lelah. Mereka bukan hanya lelah menghadapi bencana, tetapi juga lelah menghadapi ketidakpastian tentang masa depan mereka sendiri. Padahal Aceh adalah daerah yang pernah belajar sangat banyak dari luka. Dari konflik panjang, tsunami, hingga berbagai bencana yang datang silih berganti.
Kita tahu bahwa yang paling dibutuhkan masyarakat setelah kehilangan bukan hanya bantuan material, tetapi juga rasa bahwa mereka tidak ditinggalkan sendirian. Karena itu, di tengah situasi seperti hari ini, pemerintah seharusnya tidak hanya sibuk menjaga citra kebijakan atau meredam kegaduhan di permukaan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa rakyat tetap merasa dipeluk oleh kehadiran negara.
Jangan sampai rakyat terlalu lama dibiarkan menghadapi berbagai persoalan hidupnya tanpa perhatian dan kepedulian yang nyata. Sebab ketika masyarakat mulai merasa sendiri di tengah kesulitan, yang tumbuh bukan hanya kelelahan, tetapi juga luka batin sosial yang perlahan mengikis rasa percaya.
Dalam hadih maja Aceh ada sindiran yang terasa maknanya sangat dalam: “Gaseh ka u blang, sayang ka u gle, hana jiduek le bak manusia.” Jangan sampai rakyat akhirnya merasa seolah kepedulian dan rasa kemanusiaan telah perlahan hilang dari mereka yang sedang memegang amanah kekuasaan.
Petuah ini terasa penting direnungkan bersama, terutama ketika rakyat sedang menghadapi bencana, tekanan ekonomi, dan kegelisahan sosial secara bersamaan. Sebab pemerintah pada akhirnya bukan hanya dinilai dari aturan yang dibuat, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan rasa teduh bagi masyarakat yang sedang terluka.
Sebab ketika rakyat yang sedang terluka akibat bencana merasa semakin jauh dari perhatian, lalu kegelisahan mereka terhadap masa depan juga tidak memperoleh jawaban yang menenangkan, maka yang perlahan hilang bukan hanya kepercayaan—tetapi juga rasa memiliki terhadap negeri ini sendiri. Dan ketika sebuah masyarakat mulai merasa sendiri di tanahnya sendiri, di situlah sesungguhnya bencana sosial sedang tumbuh dalam diam.






