Peningkatan Kewaspadaan dalam Pengawasan Jemaah Haji Kabupaten Solok Selatan
Pihak pendamping haji Kabupaten Solok Selatan kini memperketat aturan pergerakan jemaah selama berada di Mekkah, Arab Saudi. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya jemaah yang tersesat atau terpisah dari rombongan. Dalam upaya mengantisipasi hal tersebut, jemaah diwajibkan bepergian secara berkelompok minimal tiga orang. Selain itu, mereka juga diminta untuk selalu mengenakan alat pelindung diri saat beraktivitas di luar hotel.
Aturan ini diberlakukan setelah adanya laporan mengenai jemaah haji asal Indonesia lainnya yang sempat dinyatakan hilang. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak panitia penyelenggara haji. Menurut pendamping jemaah haji Solok Selatan, Miftahul Iqbal Maulid, kebijakan baru ini diambil demi keselamatan dan kenyamanan bersama selama berada di Arab Saudi.
“Kami meminta dengan sangat agar jemaah tidak meninggalkan rombongan atau pergi sendirian. Jika memang ada keperluan keluar, minimal harus pergi bertiga,” ujar Miftahul Iqbal dalam keterangan tertulis Jumat (22/5/2026) pagi waktu Arab Saudi.
Selain larangan bepergian seorang diri, faktor cuaca dan kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian serius tim pendamping. Jemaah diwajibkan untuk selalu melindungi diri dari paparan cuaca ekstrem. Iqbal menekankan pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) setiap kali jemaah melangkahkan kaki keluar dari penginapan. APD yang dimaksud meliputi masker, payung, kacamata hitam, hingga ketersediaan air minum yang cukup agar terhindar dari dehidrasi.
Kesadaran mandiri dari jemaah sangat diharapkan dalam mematuhi protokol kesehatan ini. Mengingat suhu udara di Arab Saudi kerap berubah drastis dan berpotensi menguras stamina. Saat ini, rombongan asal Solok Selatan menempati Al Hidayah Tower Hotel sebagai tempat bernaung sementara. Lokasi hotel ini memang terhitung cukup jauh dari pusat ibadah, yakni berjarak sekitar 12 kilometer dari Masjidil Haram.
Meskipun jarak geografisnya lumayan jauh, Iqbal memastikan hal tersebut tidak menjadi kendala berarti bagi aktivitas ibadah jemaah. Manajemen haji telah mengantisipasi persoalan transportasi ini dengan matang. Pemerintah menyediakan fasilitas bus shuttle atau angkutan khusus yang beroperasi secara penuh selama 24 jam. Dengan demikian, jemaah bisa kapan saja menuju Masjidil Haram tanpa perlu mengkhawatirkan akses transportasi.
Waktu pelaksanaan puncak haji kini sudah semakin dekat di depan mata. Berdasarkan kalender bimbingan ibadah, seluruh jemaah dijadwalkan akan segera bergeser dari hotel menuju mabit atau lokasi utama. Sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), rombongan akan diberangkatkan menuju Arafah pada Senin (25/5/2026) mendatang. Perjalanan ini menjadi fase krusial dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Keesokan harinya, tepat pada Selasa, 26 Mei 2026 yang bertepatan dengan 9 Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah akan melaksanakan inti dari ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Momentum ini dinilai sebagai waktu paling mustajab untuk bermunajat.
Untuk mempermudah koordinasi dan pengawasan di lapangan, jemaah asal Solok Selatan ini tidak bergerak secara sporadis. Mereka diorganisasikan ke dalam struktur kelompok yang rapi dan terpimpin. Secara administratif, jemaah Solok Selatan tergabung ke dalam rombongan enam. Rombongan besar ini kemudian dipecah lagi secara spesifik ke dalam empat regu terkecil, yaitu regu 21, 22, 23, dan regu 24.
Adapun total jemaah yang berangkat dari wilayah ini berjumlah 45 orang. Angka tersebut mencakup 42 orang jemaah reguler murni dan didampingi oleh tiga orang petugas haji daerah yang bersiaga penuh melayani kebutuhan jemaah.
Sebagai informasi penutup, rombongan suci ini sebelumnya telah dilepas secara resmi dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang menuju Baitullah pada Minggu (3/5/2026) lalu. Pihak keluarga di Solok Selatan terus mendoakan agar seluruh jemaah dapat kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.







