Kondisi Siswa SMP yang Dianiaya dengan Palu Masih Membutuhkan Perawatan Intensif
Di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Aziz Singkawang, terdapat seorang bocah yang kini hanya bisa terbaring lemah sambil menahan sakit. Wesley (12), siswa kelas 1 SMP Negeri 2 Singkawang, mengalami luka berat di bagian kepalanya setelah diduga dipukul menggunakan palu oleh teman sebayanya. Kejadian tersebut menyebabkan pecah tengkorak dan memicu kejang-kejang pada korban.
Peristiwa ini terjadi setelah perselisihan saat bermain game yang berlanjut menjadi konflik berkepanjangan. Keluarga korban menduga aksi penganiayaan tersebut sudah direncanakan karena pelaku disebut sempat memantau lokasi kejadian beberapa kali. Saat itu, pelaku juga sempat menyembunyikan sesuatu di dalam bajunya sebelum akhirnya memukul kepala korban menggunakan palu.
Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit setelah warga dan teman-temannya memberi tahu pihak keluarga. Dari hasil pemeriksaan, korban mengalami pecah pada bagian tengkorak kepala dan hingga kini masih menjalani perawatan medis. Pihak keluarga menyebut kondisi korban masih membutuhkan penanganan panjang, termasuk terapi dan operasi lanjutan untuk pemasangan tempurung kepala. Selain itu, salah satu kaki korban juga disebut belum bisa digerakkan secara normal.
“Kami orang susah. Pengobatan masih panjang dan sekarang masih pakai BPJS. Kami berharap ada tanggung jawab dari pihak pelaku,” ungkap Ibu Korban. Kasus tersebut juga telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan saat ini masih dalam proses penanganan. Keluarga korban berharap anak mereka dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Selain itu, mereka juga meminta adanya itikad baik dari pihak pelaku. “Kami tidak dendam. Kami hanya ingin ada tanggung jawab dan anak kami bisa sembuh kembali,” tutupnya.
Perselisihan Berkepanjangan Memicu Aksi Brutal
Menurut keterangan ibu korban, Chinusha (38), perselisihan antara korban dan pelaku sempat terjadi beberapa bulan sebelum kejadian. Pelaku beberapa kali mengajak korban berkelahi, namun korban tidak pernah menanggapi ajakan tersebut. Akhirnya, korban bertanya kenapa selalu diajak berkelahi padahal mereka berteman baik. Perselisihan pun kembali memanas.
Pada Jumat pekan lalu, saat korban sedang bermain di rumah temannya di kawasan Jalan KS Tubun, pelaku diduga datang dan langsung memukul kepala korban menggunakan palu. Setelah kejadian tersebut, korban langsung kejang-kejang dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, korban diberi perawatan intensif dan menjalani operasi.
Chinusha juga menceritakan bahwa sebelum kejadian, pelaku sempat bolak-balik di sekitar lokasi kejadian (TKP) dan memantau situasi. Saat itu, teman-teman korban lainnya sempat melihat pelaku menyembunyikan sesuatu di dalam bajunya. Namun, setelah itu, pelaku diduga menyuruh teman-teman korban pergi ke warung. Saat korban tinggal sendirian, pelaku langsung memukul kepala korban menggunakan palu.
Kejadian ini juga dipicu oleh tindakan orangtua pelaku yang sebelumnya melakukan kekerasan terhadap korban. Menurut Chinusha, orangtua pelaku sempat mencari korban dan marah-marah, bahkan mencekik serta menampar korban di depan rumah tetangga. Seiring waktu, pelaku akhirnya melakukan aksinya dan memukul kepala korban dengan palu.
Atas kejadian ini, pihak keluarga korban berharap ada itikad baik dari pelaku. Bahkan diakuinya hingga saat ini, pihak keluarga pelaku belum pernah datang menjenguk ke rumah sakit ataupun meminta maaf secara langsung.
Tanggapan Pihak Terkait
Keprihatinan atas kejadian ini juga disampaikan oleh Anggota DPRD Kota Singkawang, Paryanto. “Kita prihatin dan menyesalkan kejadian tersebut,” katanya. Menurutnya, peristiwa ini seharusnya tidak terjadi, apalagi dialami oleh anak-anak. Ia meminta kepada pihak kepolisian menindaklanjuti kejadian tersebut dengan memproses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Singkawang, Dwi Yanti, juga menjenguk korban pemukulan berusia 12 tahun yang kini dirawat intensif di rumah sakit Abdul Aziz Kota Singkawang. Kunjungan dilakukan untuk memastikan kondisi korban dan memberikan dukungan moral kepada keluarga. Usai melihat korban secara langsung, ia menyatakan bahwa kondisi korban sudah mulai membaik setelah selesai menjalani operasi.
Ia menegaskan, penanganan kasus sepenuhnya diserahkan kepada pihak kepolisian. “Yang jelas, permasalahan ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian, sehingga untuk proses lebih lanjut kita serahkan kepada pihak yang berwajib,” tegasnya.
Upaya Pemprov Kalbar dalam Perlindungan Anak
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) terus memperkuat komitmen dalam perlindungan terhadap perempuan dan anak. Hal tersebut ditandai dengan dibukanya secara resmi Kegiatan Pendampingan Pembentukan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Provinsi Kalimantan Barat serta Bimbingan Teknis Aplikasi Simfoni PPA Versi 3 oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat (Sekda Kalbar), Harisson.
Dalam arahannya, Sekda Harisson menegaskan bahwa pembentukan UPTD PPA bukan sekadar memenuhi ketentuan pemerintah pusat, melainkan menjadi kebutuhan penting untuk memastikan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak memperoleh perlindungan serta pendampingan yang layak.
Harisson juga mengingatkan pentingnya keseriusan semua pihak dalam menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk pengawasan di lingkungan sosial maupun tempat penampungan anak. Ia menyampaikan bahwa secara nasional pembentukan UPTD PPA sudah mencapai sekitar 85 persen, namun di Kalimantan Barat masih terdapat delapan kabupaten/kota yang belum membentuk UPTD PPA.




