Perluasan Penggunaan QRIS di China: Langkah Strategis dalam Membangun Ekosistem Transaksi Lintas Negara
Perluasan penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di China menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem transaksi lintas negara yang aman, cepat, dan transparan. QRIS sendiri merupakan standar kode QR nasional Indonesia yang digunakan untuk memfasilitasi pembayaran digital melalui berbagai aplikasi uang elektronik.
Direktur Technology Product and Operation sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Finance Risk and Management Finnet Indonesia (Finpay), Apep Noormansyah, menyampaikan bahwa integrasi sistem pembayaran ini memungkinkan masyarakat Indonesia bertransaksi di berbagai merchant di China menggunakan aplikasi pembayaran domestik yang telah terhubung dengan layanan QRIS.
“Kehadiran QRIS di China sekaligus menunjukkan kesiapan infrastruktur digital nasional dalam mendukung konektivitas sistem pembayaran regional yang semakin terintegrasi di era ekonomi digital global,” ujar Apep dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Implementasi QRIS antarnegara untuk Republik Rakyat China (RRC) diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) di sela peresmian Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Melalui keterhubungan QRIS dan QR China, masyarakat kini dapat melakukan transaksi secara lebih mudah hanya dengan menggunakan telepon genggam untuk memindai kode QR. Kolaborasi sistem pembayaran kedua negara ini juga didorong tingginya nilai perdagangan Indonesia dan China yang mencapai 18 miliar dolar AS atau setara dengan Rp293 triliun.
Apep menilai langkah tersebut membuka kemudahan bagi masyarakat Indonesia di China, baik wisatawan maupun pelaku bisnis, untuk melakukan transaksi secara instan tanpa perlu menukarkan uang tunai atau menggunakan metode pembayaran konvensional yang lebih rumit.
Komitmen Finnet dalam Mendukung SDGs
Sementara itu, secara terpisah, Head of Office & Asset Management PT Finnet Indonesia, Andi Syahputra, menyampaikan komitmen perusahaan dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada sektor Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui pemanfaatan teknologi guna mendukung akses belajar, pembinaan, dan pengembangan keterampilan masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran bantuan berupa 20 unit laptop dan enam unit televisi kepada dua yayasan sosial, yakni Yayasan Rumah Piatu Muslimin dan Yayasan Rumah Kebaikan Abadi. Melalui program tersebut, Finnet menyalurkan perangkat yang masih dalam kondisi layak pakai sebagai bentuk reuse sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan.
Menurut Andi, perangkat tersebut sebelumnya merupakan fasilitas kerja perusahaan yang sudah tidak lagi digunakan untuk operasional, namun masih memiliki nilai guna dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pembinaan di lingkungan yayasan. “Melalui program ini, kami juga ingin mendorong terciptanya nilai keberlanjutan dan kepedulian sosial melalui pemanfaatan fasilitas yang masih layak guna,” ujarnya.
QRIS dan Ambisi Indonesia Memimpin Ekonomi Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai menunjukkan ambisi besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi digital. Dengan jumlah penduduk yang besar, penetrasi internet yang terus meningkat, serta pertumbuhan pengguna smartphone yang sangat cepat, Indonesia kini dipandang sebagai pasar digital paling potensial di kawasan.
Di tengah transformasi tersebut, sistem pembayaran nontunai atau cashless berkembang sangat pesat. Masyarakat kini semakin terbiasa melakukan transaksi hanya melalui telepon genggam, mulai dari membeli makanan di warung kecil, membayar parkir, hingga bertransaksi di pusat perbelanjaan modern. Perubahan perilaku itu turut mendorong pertumbuhan dompet digital dan layanan keuangan berbasis teknologi secara masif.
Di sinilah QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard memainkan peran penting. Sistem yang dikembangkan Bank Indonesia bersama industri pembayaran nasional itu bukan sekadar alat transaksi digital, melainkan bagian dari upaya besar membangun ekosistem keuangan nasional yang lebih mandiri dan terintegrasi.
Sebelum QRIS hadir, sistem pembayaran digital di Indonesia berjalan terpisah-pisah. Setiap aplikasi memiliki kode QR sendiri sehingga pedagang harus menyediakan banyak kode pembayaran berbeda. QRIS kemudian menyatukan seluruh sistem itu ke dalam satu standar nasional yang dapat digunakan lintas aplikasi dan lintas bank.
Keberhasilan QRIS memperluas penggunaannya hingga ke China menjadi simbol bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar teknologi asing, tetapi mulai mampu membangun standar teknologi finansialnya sendiri. Dalam konteks ekonomi digital global, kemampuan menciptakan sistem pembayaran nasional yang terhubung lintas negara dipandang sebagai bentuk baru kedaulatan ekonomi dan teknologi.
Mengapa China Penting bagi Ekspansi QRIS?
China menjadi salah satu negara paling penting dalam perluasan penggunaan QRIS karena memiliki hubungan ekonomi yang sangat besar dengan Indonesia. Selama bertahun-tahun, China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, dengan nilai perdagangan kedua negara mencapai puluhan miliar dolar AS setiap tahun. Arus barang, investasi, wisatawan, hingga aktivitas bisnis antara kedua negara terus meningkat dan menciptakan kebutuhan transaksi lintas negara yang semakin praktis dan efisien.
Di sektor pariwisata, jutaan wisatawan China pernah menjadi salah satu penyumbang terbesar kunjungan asing ke Indonesia sebelum pandemi. Sebaliknya, jumlah warga Indonesia yang bepergian ke China untuk urusan bisnis, pendidikan, maupun wisata juga terus bertambah. Dalam situasi seperti itu, kemudahan pembayaran menjadi kebutuhan penting, terutama di era ketika masyarakat semakin jarang menggunakan uang tunai.
China sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan perkembangan pembayaran digital paling maju di dunia. Di berbagai kota besar hingga pasar tradisional, masyarakat China terbiasa melakukan transaksi hanya dengan memindai kode QR menggunakan telepon genggam. Sistem pembayaran digital bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari transportasi umum, restoran, toko kecil, hingga pusat perbelanjaan modern.
Dominasi pembayaran digital di China menjadikan negara tersebut pasar yang strategis bagi ekspansi QRIS. Dengan keterhubungan antara QRIS dan sistem pembayaran China, masyarakat Indonesia dapat bertransaksi lebih mudah menggunakan aplikasi pembayaran domestik tanpa harus bergantung pada uang tunai atau kartu pembayaran internasional.
Integrasi ini juga menunjukkan pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran di era ekonomi digital global. Interoperabilitas berarti sistem pembayaran dari dua negara berbeda dapat saling terhubung dan digunakan secara langsung tanpa hambatan teknis yang rumit. Bagi pengguna, proses itu membuat transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien.
Dalam perspektif yang lebih luas, konektivitas QR lintas negara bukan hanya soal teknologi pembayaran, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi regional yang semakin terintegrasi. Ketika transaksi antarnegara bisa dilakukan hanya melalui pemindaian kode QR, batas-batas ekonomi tradisional perlahan mulai mengecil.
Karena itu, kerja sama QRIS dengan China dipandang sebagai langkah strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam jaringan ekonomi digital Asia yang terus berkembang. Selain memudahkan masyarakat, integrasi tersebut juga membuka peluang lebih besar bagi perdagangan, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi digital nasional di masa depan.







