Tradisi Manten Tebu di PG RMI, Simbol Syukur dan Harapan Produksi Lancar
PG Rejoso Manis Indo (RMI) di Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, mengawali musim giling 2026 dengan melaksanakan tradisi manten tebu. Acara ini digelar sebagai simbol syukur dan harapan agar proses produksi berjalan lancar sepanjang tahun.
Tradisi tersebut dikemas mirip prosesi pernikahan adat Jawa. Sepasang pengantin yang menjadi simbol tebu lanang (laki-laki) dan tebu wadon (perempuan) dipertemukan dalam acara tersebut. Setelah dipertemukan, pasangan pengantin tersebut diarak keliling area pabrik sambil membawa tebu lanang dan tebu wadon.
Acara dilanjutkan dengan melemparkan tebu yang dibawa oleh pasangan pengantin ke mesin penghilangan. Tindakan ini menjadi tanda dimulainya musim giling. Bupati Blitar, Rijanto, hadir dalam acara tersebut dan menyampaikan apresiasi terhadap tradisi yang dilakukan.
Harapan Pemerintah Daerah untuk Produksi Gula yang Lebih Baik
Menurut Bupati Rijanto, tradisi manten tebu sangat bagus sebagai tanda dimulainya musim giling. Ia menilai bahwa tradisi ini merupakan bentuk syukur dan doa kepada Tuhan YME agar proses giling tebu berjalan lancar pada tahun ini.
“Harapannya, produksi gula di Kabupaten Blitar yang dikelola PT RMI semakin meningkat dan semakin bagus. Tahun kemarin sudah bagus, sekarang lebih bagus lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa produksi gula merupakan program strategis nasional untuk mewujudkan ketahanan pangan. Untuk itu, Pemkab Blitar mendukung dengan cara mendampingi petani dalam menanam tebu bibit unggul agar produksi gula semakin baik.
“Alhamdulillah, para petani juga berkomitmen mendukung penuh Pabrik Gula PT RMI. Kehadiran PG RMI berdampak terhadap kesejahteraan petani,” tambahnya.
Masalah Infrastruktur yang Menghambat Produksi
Meski demikian, Rijanto menyampaikan bahwa para petani tebu masih menghadapi masalah infrastruktur jalan yang mengganggu kelancaran angkutan tebu. Banyak jalan di wilayah Kabupaten Blitar yang rusak, sehingga memengaruhi aktivitas transportasi.
“Kami sudah berusaha semampunya membenahi jalan rusak. Tapi masih belum cukup, masih banyak jalan yang rusak. Ini perlu perhatian bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pandu Tani Indonesia (Patani), Sarjan Tahir, menilai bahwa tebu di pabrik gula menjadi salah satu ikon di Kabupaten Blitar. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan terutama dalam hal infrastruktur untuk memaksimalkan produksi tebu.
“Sehingga nilai saing semakin baik. Kami ingin memfasilitasi pembangunan infrastruktur baik jalan, jembatan, dan jaringan listrik agar dipacu dengan cepat di Kabupaten Blitar,” ujarnya.
Ia menyatakan bahwa Patani akan mencoba berkomunikasi dengan Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan terkait pembangunan infrastruktur di Kabupaten Blitar.
“Kami akan coba komunikasi dengan Menko Infrastruktur dan Menteri PU agar dukungan dari pemerintah pusat hadir di Kabupaten Blitar,” tambahnya.
Target Serapan Tebu dan Produksi Gula
Direktur PT RMI, Syukur Iwantoro, menyampaikan bahwa cuaca pada musim giling tahun ini bagus. Ia memperkirakan bisa mencapai produksi optimal pada musim giling tahun ini.
“Insyaallah, musim satu tahun ini dari awal penanaman sampai panen cuaca bagus. Kami kemungkinan bisa mencapai produksi optimal tahun ini,” ujarnya.
Ia menargetkan serapan tebu pada musim giling tahun ini bisa mencapai 1,55 juta ton dengan rendemen minimal 8 persen sampai 9 persen. Dengan rendemen 8 persen, produksi gula diperkirakan bisa mencapai 128.000 ton di musim giling ini.
Tapi, jika rendemen di atas 8 persen, maka produksi gula bisa mencapai 130.000 ton sampai 135.000 ton.
“Musim giling tahun lalu kondisi cuaca tidak mendukung, setahun basah, produksi gula kami tidak sampai 100.000 ton,” tambahnya.






