Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, dalam Dialog Shangri-La di Singapura menunjukkan pergeseran kebijakan Washington terhadap aliansi pertahanan. Ia menegaskan bahwa AS tidak akan lagi mensubsidi kebutuhan pertahanan negara-negara sekutu yang dinilai mampu membiayai sendiri. Pernyataan ini menggarisbawahi ketegangan lama antara AS dan sejumlah anggota NATO terkait pembagian beban pertahanan.
Hegseth menyampaikan pernyataannya dalam konteks strategi Washington untuk mengalihkan sumber daya ke kawasan Indo-Pasifik guna menghadapi pengaruh China. Menurutnya, era di mana AS mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Ia menekankan pentingnya aliansi yang dibangun atas dasar tanggung jawab bersama, bukan ketergantungan. Hal ini juga menjadi dasar dari target baru NATO, yaitu pengeluaran lima persen dari PDB untuk sektor pertahanan dan keamanan pada 2035.
Namun, target tersebut menuai keberatan dari beberapa negara Eropa. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menilai target lima persen sebagai langkah “tidak masuk akal”, sedangkan Belgia dan Slovakia khawatir dengan kenaikan anggaran yang harus dipenuhi. Selain itu, perbedaan pandangan juga muncul terkait isu Iran. Sejumlah negara Eropa menolak pendekatan militer yang didorong AS, lebih memilih jalur diplomasi.
Fokus ke China menjadi salah satu alasan utama pergeseran prioritas AS. Selama beberapa tahun terakhir, Washington mulai mengalihkan fokus ke Indo-Pasifik karena meningkatnya pengaruh China di berbagai sektor. Isu Taiwan dan Laut China Selatan menjadi perhatian utama. Di sisi lain, kompetisi teknologi antara AS dan China juga semakin sengit, termasuk dalam bidang kecerdasan buatan, semikonduktor, dan telekomunikasi.
Perubahan prioritas ini menunjukkan bahwa pusat gravitasi geopolitik dunia mulai bergeser dari Atlantik ke Asia. Washington ingin agar negara-negara Eropa lebih mandiri dalam menjaga keamanan kawasan mereka sendiri, sehingga sumber daya militer AS dapat difokuskan pada tantangan strategis di Indo-Pasifik.
Perbedaan pandangan antara AS dan Eropa juga muncul dalam penggunaan instrumen diplomasi dan kekuatan militer. AS cenderung lebih terbuka menggunakan tekanan militer, sementara banyak negara Eropa lebih memilih pendekatan diplomatik. Faktor energi juga menjadi sumber perbedaan kepentingan, karena Eropa sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi.
Selain itu, konsep “otonomi strategis” semakin kuat di Eropa. Banyak negara mulai mengambil keputusan keamanan dan ekonomi secara mandiri tanpa selalu mengikuti arah kebijakan Washington. Perbedaan-perbedaan ini tidak berarti hubungan trans-Atlantik berakhir, tetapi menunjukkan bahwa Eropa semakin menyesuaikan kebijakan luar negerinya dengan kepentingan kawasan.
Akhir era dominasi Amerika di Barat mulai dipertanyakan. Meski AS tetap menjadi kekuatan global, kini muncul berbagai aktor lain yang semakin percaya diri. Persaingan antara Washington dan Beijing tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi, tetapi juga teknologi dan pengaruh geopolitik. Dalam konteks ini, perdebatan tentang beban NATO dan hubungan AS-Eropa menjadi bagian dari transformasi geopolitik yang lebih besar.
Pertanyaannya bukan apakah AS akan kehilangan pengaruhnya, melainkan bagaimana dunia akan beradaptasi terhadap munculnya banyak pusat kekuatan baru. Jika tren ini terus berlanjut, abad ke-21 dapat menjadi era ketika dominasi tunggal bergeser menuju kompetisi dan kerja sama di antara berbagai kekuatan global.






