Aksi Nekat di Jembatan Cirahong yang Nyaris Berujung Tragedi
Pada Selasa pagi, 2 Juni 2026, kembali terjadi aksi nekat di Jembatan Cirahong, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Seorang pria berinisial Mulyadi (30) nyaris melompat dari atas struktur besi jembatan penghubung antara Tasikmalaya dan Ciamis. Aksi tersebut berhasil digagalkan oleh warga dan tukang parkir setempat, meski proses penyelamatan berlangsung dramatis.
Mulyadi, yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual cilok, dikenal sebagai warga Kampung Cikadu, Desa Margaluyu. Aksi nekatnya ini terjadi kurang dari sebulan setelah seorang lansia ditemukan meninggal di lokasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Jembatan Cirahong kembali menjadi tempat yang penuh risiko bagi masyarakat.
Kronologi Aksi Nekat dan Penyelamatan
Saksi mata di lokasi kejadian, Atang (52), menceritakan bagaimana dirinya sedang merapikan motor di area warung surabi ketika melihat kejanggalan. Awalnya, Mulyadi melintas menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sangat tinggi ke arah Ciamis. Tak lama kemudian, ada pemotor lain yang mengejar sambil berteriak histeris meminta pertolongan. Pemotor yang mengejar ternyata adalah orang tua pelaku.
Atang mengatakan bahwa saat itu, jembatan sudah penuh macet karena dua motor yang terparkir. Setelah dicek, ia menemukan bahwa Mulyadi sedang mencoba melakukan bunuh diri. Ia menghentikan motornya tepat di tengah-tengah jembatan, lalu naik ke atas pagar besi penyangga.
“Pas saya naik ke besi jembatan itu, saya langsung tarik bajunya. Soalnya kepala dia sudah masuk ke sela-sela besi buat loncat!” ujarnya.
Proses menyelamatkan nyawa Mulyadi berlangsung dramatis selama 20 menit. Pelaku yang diduga kehilangan kesadaran terus memberontak dan mengamuk layaknya orang kesurupan. Alhasil, warga terpaksa mengikat tangan dan kaki pelaku menggunakan tali pengikat agar bisa dievakuasi ke tempat yang aman.
Motif Aksi Nekat
Menurut penyelidikan sementara dari pihak kepolisian, motif aksi nekat Mulyadi murni karena tekanan ekonomi yang diperparah oleh pengaruh alkohol. AKP Soni Alamsyah, Kapolsek Manonjaya, menjelaskan bahwa sebelum menuju Jembatan Cirahong, pelaku sempat membuat keonaran di rumahnya sendiri pada malam hari.
“Penyebabnya diduga karena faktor ekonomi. Bahkan sebelum kejadian, korban ini malamnya mabuk, tadi pas diamankan juga masih tercium bau minuman keras,” jelas AKP Soni.
Menurut laporan keluarga, pada Senin malam pelaku pulang ke rumah dalam kondisi mabuk berat, lalu mengamuk hingga membanting barang-barang dan memecahkan kaca rumah. “Mungkin setelah itu pusing, dan paginya langsung mengendarai motor ke jembatan. Berhenti di tengah, bengong, diduga mau lompat. Beruntung kesigapan warga berhasil mengamankan korban,” tambah Kapolsek.
Saat ini, Mulyadi sudah diserahkan ke pihak keluarga untuk pemeriksaan medis dan kondisi psikologisnya.

Evaluasi Keamanan Jembatan Cirahong
Berulangnya peristiwa serupa di Jembatan Cirahong membuat pihak kepolisian dan warga mendesak adanya evaluasi pengamanan di situs bersejarah tersebut. Atang, perwakilan warga setempat, berharap ke depannya ada pemasangan jaring atau pembatas pengaman ekstra di sela-sela besi jembatan.
“Mudah-mudahan ke depan diberi pengaman di penyangga besi jembatan agar tidak berbahaya. Kalau dulu kan ada penjagaan yang mantau, kalau sekarang wara-wiri bebas tidak ada yang tahu,” keluhnya.
Merespons hal tersebut, AKP Soni Alamsyah menegaskan Polsek Manonjaya akan mengambil langkah preventif yang lebih tegas, termasuk memberangus akar masalahnya, yaitu peredaran minuman keras (miras).
“Soal miras tentu ini jadi perhatian serius kami agar lebih intensif melakukan penertiban penjualan minuman keras di wilayah Manonjaya. Kami juga akan meningkatkan patroli di jam-jam rawan,” tegas AKP Soni.
Selain patroli, kepolisian meminta masyarakat dan para juru parkir di sekitar Cirahong untuk tetap proaktif. Pengamanan swakarsa melalui Siskamling akan dioptimalkan guna memantau pergerakan mencurigakan di sepanjang jembatan.






