Masalah Pelayanan Jemaah Haji di Mina Mengkhawatirkan
Selama pelaksanaan ibadah haji 2026, Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan adanya masalah serius terkait pelayanan yang diterima oleh jemaah haji Indonesia di kawasan Mina. Salah satu anggota Timwas, Selly Andriany Gantina, mengungkapkan bahwa sejumlah jemaah tidak mendapatkan makanan selama sembilan jam saat berada di tenda Mina. Hal ini menyebabkan beberapa jemaah lansia mengalami penurunan kondisi kesehatan.
Menurut Selly, kejadian ini menjadi perhatian serius bagi DPR karena fase Mina merupakan salah satu tahapan paling berat dalam rangkaian ibadah haji. Ribuan jemaah harus menjalani aktivitas ibadah dalam kondisi cuaca panas dan kepadatan tinggi, sehingga kebutuhan konsumsi, air, serta layanan kesehatan menjadi faktor yang sangat krusial.
Evaluasi Menyeluruh Diperlukan
DPR meminta dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan jemaah, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan jemaah berisiko tinggi. Selain masalah konsumsi, Selly juga menyoroti pentingnya ketersediaan air bagi jemaah selama berada di Mina. Menurutnya, air tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kondisi fisik, tetapi juga untuk menunjang pelaksanaan ibadah, termasuk keperluan berwudhu.
Temuan di lapangan tersebut, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi serius agar persoalan serupa tidak kembali terulang pada penyelenggaraan haji tahun-tahun berikutnya.
Solusi Skema Tanazul
Sebagai solusi, Selly mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan skema tanazul bagi jemaah tertentu, khususnya mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi. Melalui skema tersebut, jemaah tidak diwajibkan menginap di Mina dan dapat kembali ke hotel di Makkah setelah menjalankan rangkaian ibadah yang diperlukan.
Menurut Selly, kebijakan tersebut dapat mengurangi beban fisik jemaah sekaligus meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat keterbatasan fasilitas di Mina.
Bantuan Mobilitas dari Kemenhaj
Terpisah, Kementerian Hajidan Umrah mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina untuk membantu mobilitas dan evakuasi jemaah haji Indonesia selama fase puncak ibadah haji di Armuzna. Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengatakan pengerahan armada tersebut dilakukan melalui Satgas Operasional Armuzna.
Mobil golf ini dikerahkan di tengah tingginya mobilitas dan kepadatan di kawasan Jamarat. Mobil golf tersebut bakal membantu jemaah yang kelelahan, jemaah lanjut usia, hingga jemaah yang terpisah dari rombongan atau kehilangan arah usai melaksanakan lontar jumrah.
Armada mobil golf tersebut disiagakan secara aktif dan bergerak menyisir sejumlah titik strategis, terutama di sekitar pintu keluar Jamarat. Petugas di lapangan bergerak sigap membantu jemaah yang mengalami kelelahan, kemudian juga mengevakuasi jemaah di jalur-jalur padat, mendampingi jemaah yang terpisah dari rombongan dan memastikan para jemaah dapat kembali ke tenda masing-masing dalam kondisi selamat dan aman.






