Hadits Tentang Iman yang Dapat Usang
Hadits ini menyampaikan pesan penting tentang keimanan yang bisa mengalami proses usang atau rusak. Kutipan hadits tersebut adalah:
“Innal imana layakhlaqu fī jaufi aḥadikum kamā yakhlaquṡ-ṡaubu, fas’alullāha an yujaddidal-īmāna fī qulūbikum.”
Artinya, “Sesungguhnya iman itu dapat usang dalam hati salah seorang di antara kalian sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam hati kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Syaikh Al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah (no. 1585) dan Shahih Al-Jami’ (no. 1590).
Penjelasan Hadits
Kata “layakhlaqu” berasal dari kata al-khuluq, yang berarti usang, lapuk, atau rusak karena sering dipakai. Perumpamaan ini sangat indah, di mana Rasulullah SAW membandingkan iman dengan pakaian yang setiap hari dipakai pasti akan mengalami keausan, sobek, dan warnanya memudar.
Iman di dalam hati juga memiliki sifat “bisa aus” jika tidak dirawat. Aus dalam artian bisa rusak, atau berkurang fungsi (imannya). Kata “fī jaufi aḥadikum” merujuk pada rongga tubuh (perut/dada), yang dimaksud di sini adalah hati sebagai pusat keimanan.
Solusi yang diajarkan Nabi bukanlah sekadar mengandalkan usaha manusia, melainkan kembali kepada Allah dengan memohon doa agar Dia yang memperbarui dan menghidupkan kembali iman di hati kita.
Hati manusia dapat berubah. Hari ini ia bersemangat beribadah, esok bisa saja melemah. Hari ini ia merasa dekat dengan Allah, besok mungkin ia lalai karena sibuk dengan urusan dunia. Karena itulah iman memerlukan perawatan sebagaimana tubuh memerlukan makanan.
Pengaruh Kehidupan Dunia terhadap Iman
Kehidupan dunia sering kali membuat manusia terlena. Kesibukan mencari harta, mengejar jabatan, memburu popularitas, atau sekadar menikmati kenyamanan hidup dapat membuat seseorang melupakan tujuan utamanya sebagai hamba Allah.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali Imran: 185)
Setan juga tidak pernah berhenti menggoda manusia. Sejak Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, setan telah berjanji untuk menyesatkan anak cucunya. Ia tidak selalu mengajak manusia kepada dosa besar. Terkadang ia hanya membuat seseorang menunda salat, malas menghadiri majelis ilmu, atau merasa cukup dengan amal yang sedikit.
Cara Memperbarui Iman dan Taqwa
Para ulama menyebutkan beberapa amalan untuk “memperbarui iman” sebagaimana yang diajarkan dalam Alquran dan hadits-hadits lain, di antaranya:
- Selalu berbuat baik semata-mata mencari keridhaan Allah dan menggapai takwa.
- Bersegera memohon ampunan kepada Allah.
- Berinfaq dalam keadaan sempat dan sempit.
- Menahan emosi dan memaafkan orang lain.
- Berbuat kebaikan.
Firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 133:
“Wa sari’uu ila maghfiroti min robbikum wajannatin ‘ardluhassamaa waatuwal ardl uiddat lilmuttaqiina.”
Artinya, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”.
Ayat tersebut kemudian diakhiri dengan kalimat al-Muttaqin yang selanjutnya dijelaskan pada ayat ke 134. Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Dari ayat tersebut, cara memperbarui iman dan takwa adalah dengan segera memohon ampun kepada Allah, sedekah dalam keadaan sempat dan sempit, menahan emosi, memaafkan orang lain, dan berbuat kebaikan. Dengan demikian, iman kita tetap segar dan kuat, serta tidak mudah rusak.






