Strategi SMAS Hang Tuah Tarakan dalam Menarik Calon Siswa Baru Tahun Ajaran 2026/2027
SMA Hang Tuah Tarakan, Kalimantan Utara, menunjukkan optimisme dalam memenuhi kuota siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Sekolah yang berada di bawah pembinaan Yayasan Hang Tuah dan memiliki afiliasi dengan TNI Angkatan Laut melalui Koarmada II ini mengandalkan beberapa keunggulan utama seperti kedisiplinan, pengawasan siswa, serta pengembangan karakter.
Proses Penerimaan Siswa Baru yang Dimulai Lebih Awal
Kepala SMAS Hang Tuah Tarakan, Nur Hidayah, menjelaskan bahwa proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di sekolahnya telah dibuka lebih awal dibandingkan jadwal penerimaan secara umum. “Kalau SPMB di sini kita itu sudah awal-awal memang sudah buka. Saya buka itu kemarin mulainya di bulan Maret 2025,” ujarnya.
Pembukaan pendaftaran lebih awal dilakukan karena sebagian besar calon peserta didik berasal dari keluarga yang secara turun-temurun mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah ini. “Kalau di SMA Hang Tuah ini memang ada keluarga-keluarga tertentu. Turun-temurun dia di sini,” katanya.
Untuk menarik minat pendaftar, sekolah juga memberikan potongan biaya bagi calon siswa yang mendaftar lebih awal. Program tersebut sudah berjalan selama dua tahun terakhir. “Nah dan kebetulan sudah dua tahun ini saya ada promosi sedikit. Bahwa pendaftar pertama misalnya mulai dari nomor 1 sampai nomor 30 itu ada diskon. Untuk tahun ini sampai 60 siswa ada diskon,” ungkapnya.
Strategi tersebut ternyata cukup efektif. Hingga saat ini jumlah pendaftar yang masuk disebut sudah mendekati dua rombongan belajar (rombel). “Nah kebetulan untuk posisi tahun ini sekarang ini sudah hampir penuh. Sudah mau dua kelas,” ujarnya.
Kapasitas Maksimal dan Tantangan yang Dihadapi
SMAS Hang Tuah Tarakan memiliki kapasitas maksimal enam rombongan belajar untuk setiap tingkatan kelas. Dengan jumlah maksimal 36 siswa per kelas, kapasitas penerimaan peserta didik baru setiap tahun mencapai sekitar 216 siswa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sekolah swasta menghadapi tantangan akibat tingginya daya tampung sekolah negeri.
“Tahun kemarin saya masih dapat lima kelas. Padahal target saya enam kelas,” katanya. Bahkan pada tahun sebelumnya jumlah peserta didik baru yang diterima sempat turun hingga hanya tiga kelas. “Malah pernah betul-betul tahun lalunya lagi yang naik kelas tiga sekarang itu betul-betul tiga kelas saja,” ujarnya.
Menurut Nur Hidayah, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah swasta, karena sebagian besar calon siswa lebih memilih sekolah negeri terlebih dahulu. Meski begitu, ia menilai kualitas pendidikan tidak bisa hanya diukur dari status sekolah negeri atau swasta.
“SMA Hang Tuah walaupun swasta mungkin bisa disampaikan swasta itu stigma-nya tidak harus dibilang tidak berkualitas. Tidak mau saya begitu,” tegasnya.
Kedisiplinan sebagai Nilai Jual Utama
Di SMAS Hang Tuah Tarakan, nilai yang paling diunggulkan adalah kedisiplinan. Menurutnya, kedisiplinan tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi dibuktikan melalui sistem pengawasan yang diterapkan setiap hari. “Walaupun misalnya kita publish, oh ini loh saya kedisiplinan yang saya jual. Tetapi kalau tidak ada bukti di dalam, harus hasil kita tunjukkan ke luar bahwa ini loh buktinya saya bisa,” ujarnya.
Salah satu bukti yang dimaksud adalah prestasi siswa dalam bidang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang berhasil bersaing hingga tingkat tinggi. Selain kedisiplinan, sekolah juga menerapkan pengawasan ketat terhadap proses belajar mengajar agar tidak ada kelas yang kosong.
“Jadi ada guru piket. Jadi guru piket itu yang memantau. Kalau misalnya kok kelas ini kosong, mana gurunya?” katanya. Ia menjelaskan apabila ada guru yang berhalangan hadir, maka harus melapor kepada kepala sekolah atau wakil kurikulum, sehingga dapat segera dicarikan guru pengganti.
Pengembangan Karakter dan Penggunaan Teknologi
Selain itu, pengembangan karakter siswa juga dilakukan melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan proyek kolaboratif yang melibatkan siswa secara aktif. “Kegiatan siswa harus banyak. Terutama di ekstrakurikulernya. Itu harus banyak,” katanya.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting karena dapat melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama siswa, yang mulai berkurang akibat ketergantungan terhadap gawai. “Anak-anak sekarang kan gadget. Jadi dia selalu ada menyendiri begini. Makanya kita harus banyak projek. Jadi banyak anak-anak itu berkomunikasi dengan temannya, kerja sama aja dengan temannya. Diajarin seperti itu,” jelasnya.
Terkait penggunaan telepon seluler, SMAS Hang Tuah Tarakan tidak melarang siswa membawa gawai ke sekolah. Namun penggunaannya diatur secara ketat. “Di sini HP begitu apel pagi, HP sudah terkumpul semua. Ada keranjangnya tersendiri di wali kelas,” ujarnya. Gawai baru dapat digunakan apabila diperlukan dalam kegiatan pembelajaran dan atas arahan guru mata pelajaran.
Meski menerapkan pembatasan penggunaan telepon seluler, Nur Hidayah menegaskan sekolah tetap mendukung pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. “Sekarang kita tidak boleh jauh dari teknologi. Teknologi harus seiring dengan kita,” tegasnya.
Karena itu, seluruh ruang kelas di SMAS Hang Tuah Tarakan telah dilengkapi fasilitas pendukung pembelajaran berbasis digital. “Kalau di Hang Tuah itu sudah lama. Semua LCD ada di kelas,” ujarnya. Selain itu, sekolah juga menyediakan perangkat laptop untuk mendukung proses pembelajaran para guru.
Pemanfaatan teknologi juga diterapkan dalam sistem pelaporan hasil belajar siswa kepada orang tua. “Guru-guru itu ngumpulin tugas lewat sistem. Ngirim hasil nilainya anak-anak ke orang tua, kirim ke grup orang tua. Lihat hasil kerjaan anaknya, nilainya,” pungkas Nur Hidayah.





