Transformasi Digital di Pasar Tradisional Pemalang
Pagi itu, Siti Nurjanah, pedagang sayur di Pasar Pemalang, sibuk melayani pelanggan seperti biasa. Namun ada yang berbeda dari biasanya. Di sela-sela timbangan sayur bayam dan cabai merah, ponselnya berbunyi notifikasi. Pesanan datang dari aplikasi. Seorang pelanggan yang tinggal di Kecamatan Ulujami, sekitar 20 kilometer jauhnya, memesan paket sayuran lengkap untuk kebutuhan tiga hari.
“Saya awalnya tidak percaya ada orang mau beli sayur lewat aplikasi. Ternyata lumayan, sekarang bisa dapat lima sampai sepuluh pesanan online per hari,” ujar Siti dengan senyum lebar. Omzetnya naik sekitar 25 persen sejak ia mulai menerima pesanan digital tiga bulan lalu.
Transformasi digital pasar tradisional bukan lagi sekadar wacana di rapat-rapat pemerintah. Di Kabupaten Pemalang, gerakan ini mulai terlihat wujudnya. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang mencatat bahwa lebih dari 200 pedagang pasar tradisional sudah terdaftar di berbagai platform digital sejak program ini diluncurkan awal 2026.
Dari Gerobak ke Gadget
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Bagi para pedagang pasar tradisional, langkah pertama itu adalah belajar menggunakan smartphone untuk berjualan. Banyak dari mereka yang sebelumnya hanya menggunakan ponsel untuk menelepon dan mengirim pesan.
Program pelatihan digitalisasi UMKM yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang bekerja sama dengan beberapa platform e-commerce lokal menjadi jembatan. Para pedagang diajarkan cara membuat akun jualan, mengunggah foto produk, mengatur harga, hingga menerima pesanan dan pembayaran digital.
“Kami memberikan pelatihan secara bertahap. Tidak langsung semua, karena banyak pedagang yang belum terbiasa dengan teknologi,” jelas Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi Kabupaten Pemalang. Pelatihan ini diselenggarakan setiap dua minggu sekali di aula pasar, dengan pendampingan dari relawan digital yang terdiri dari mahasiswa universitas lokal.
QRIS: Gerbang Pembayaran Digital
Salah satu perubahan paling terasa adalah masuknya QRIS ke pasar tradisional. Quick Response Code Indonesian Standard memungkinkan pedagang menerima pembayaran dari berbagai dompet digital dan mobile banking hanya dengan satu kode QR. Tidak perlu lagi repot mencari uang kembalian.
“Sejak pakai QRIS, saya tidak pernah lagi kehabisan uang receh. Transaksi juga lebih cepat. Tinggal tunjukkan kode, pelanggan scan, beres,” kata Sumarno, pedagang daging ayam di pasar yang sama. Data Bank Indonesia perwakilan Jawa Tengah menunjukkan bahwa transaksi QRIS di pasar tradisional naik 180 persen pada kuartal pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Digitalisasi pasar tradisional bukan tanpa hambatan. Koneksi internet yang belum stabil di beberapa area pasar menjadi kendala utama. Selain itu, masih ada pedagang yang ragu karena khawatir barang dagangannya tidak laku secara online, atau takut tertipu transaksi digital.
“Ada pedagang yang bilang, sayur saya segar pagi, kalau dikirim sore sudah layu. Makanya kami edukasi bahwa pengiriman harus di hari yang sama, dan pengemasannya harus benar,” jelas salah satu pendamping digital. Kendala logistik memang menjadi tantangan tersendiri untuk produk segar.
Namun, tantangan-tantangan ini tidak menghentikan laju digitalisasi. Justru menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Pemerintah daerah terus berupaya memperkuat infrastruktur internet di kawasan pasar dan menyediakan kemasan yang ramah lingkungan untuk pengiriman produk segar.
Dampak Ekonomi yang Nyata
Dampak digitalisasi pasar tradisional sudah mulai terasa. Pedagang yang aktif di platform digital melaporkan kenaikan omzet rata-rata 15-30 persen. Beberapa pedagang bahkan bisa melayani pelanggan dari luar kota yang sebelumnya tidak mungkin dijangkau.
“Saya kirim sambal pecel khas Pemalang sampai ke Jakarta dan Surabaya. Dulu mana bisa,” cerita Wati, pedagang bumbu dan sambal. Produk sambal pecelnya yang dikemas rapi kini menjadi salah satu produk unggulan di platform digital.
Digitalisasi pasar tradisional di Pemalang membuktikan bahwa teknologi bukan milik eksklusif kota besar. Dengan pelatihan yang tepat, infrastruktur yang mendukung, dan kemauan untuk belajar, pedagang pasar tradisional pun bisa bersaing di era digital. Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Dan jalan itu kini sudah terbentang lebar di pasar-pasar Pemalang.







