Program Akselerasi Pemberdayaan Perajin Batu Mulia Cempaka
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memberikan dukungan kepada para perajin batu mulia di Cempaka, Banjarbaru dalam memperkuat daya saing mereka. Dukungan tersebut diberikan melalui kegiatan Workshop 1 Program Akselerasi Pemberdayaan Perajin Batu Mulia Cempaka yang digelar di Gedung Pusat Informasi Geopark Meratus, Pumpung, Cempaka pada Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh 15 peserta dari Pokdarwis Trisakti Pumpung Cempaka sebagai mitra pengabdian. Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek Tahun 2026 melalui platform BIMA.
Workshop ini mengangkat tema besar modernisasi teknologi, digitalisasi tata kelola, dan diversifikasi produk hasil samping batuan. Ketiga aspek tersebut dipilih karena menjadi kebutuhan penting bagi pengrajin batu mulia Cempaka dalam menghadapi tantangan usaha, baik dari sisi produksi, pemasaran, maupun legalitas.
Tim pengabdian ULM melibatkan tiga dosen dari bidang keilmuan berbeda. Mereka adalah Ir Ahmad Ali Syafi’i ST MT IPP dari Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik, Anjani SAP MAP dari Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Arisandy Mursalin SH MH dari Program Studi Hukum Fakultas Hukum.
Modernisasi Teknologi dalam Produksi Batu Mulia
Ketua Tim Pengabdian, Ir Ahmad Ali Syafi’i ST MT IPP, menyampaikan bahwa batu mulia Cempaka merupakan potensi lokal yang memiliki nilai ekonomi dan identitas kawasan, terutama sebagai bagian dari ekosistem Geopark Meratus. Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu diperkuat melalui pengembangan teknologi produksi, tata kelola usaha, dan pemasaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam sesi materi, Ahmad Ali Syafi’i memberikan pemaparan mengenai modernisasi teknologi faceting, pemanfaatan hasil samping batuan menjadi produk bernilai ekonomi, serta pentingnya penerapan K3 dalam proses kerja. Peserta diperkenalkan pada pentingnya presisi dalam pemotongan dan pemolesan batu mulia agar hasil akhir memiliki kualitas yang lebih baik.
Digitalisasi dalam Tata Kelola Usaha
Materi berikutnya disampaikan oleh Anjani yang menekankan pentingnya digitalisasi dalam tata kelola usaha. Ia menjelaskan bahwa perajin perlu mulai membangun pencatatan usaha, mengelola keuangan sederhana, menyusun strategi pemasaran, serta memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar. Menurutnya, digitalisasi bukan hanya soal memasarkan produk secara online, tetapi juga membangun pola usaha yang lebih tertib, transparan, dan mudah dikembangkan.
Pendampingan Hukum dan Legalitas Usaha
Sesi ketiga menghadirkan Arisandy Mursalin yang memberikan pendampingan terkait aspek hukum dan legalitas usaha. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai identitas resmi pelaku usaha. Dengan legalitas yang jelas, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mengakses program pembinaan, bantuan, pameran, maupun pembiayaan dari pemerintah.
Pelatihan Praktik dan Bantuan Alat Produksi
Selain mendapatkan materi, peserta juga mengikuti praktik langsung penggunaan peralatan faceting. Pelatihan praktik ini mencakup proses cutting, pembentukan, dan pemolesan batu mulia. Melalui praktik tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menghasilkan produk yang lebih presisi.
Pada kesempatan yang sama, Tim Pengabdian kepada Masyarakat ULM juga menyerahkan bantuan peralatan produksi kepada Pokdarwis Trisakti Pumpung Cempaka. Bantuan tersebut berupa 5 unit alat potong dan poles batu mulia serta 1 unit alat cutting custom. Penyerahan alat ini menjadi bentuk dukungan konkret ULM terhadap peningkatan kapasitas produksi pengrajin.
Diversifikasi Produk dan Ekonomi Kreatif
Program ini juga diarahkan untuk mendorong diversifikasi produk dari hasil samping batuan. Batuan sisa yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat diolah menjadi produk cenderamata, aksesori, maupun kerajinan bernilai jual. Langkah ini sejalan dengan semangat pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal dan prinsip produksi yang lebih berkelanjutan.





