Inovasi Mahasiswa UC Surabaya dalam Fashionology 2026
Fashionology 2026 menjadi ajang yang menampilkan karya-karya inovatif dari mahasiswa Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Dalam pameran ini, sebanyak 56 karya tugas akhir ditampilkan dengan mengangkat berbagai tema seperti keberlanjutan, budaya, kesehatan mental, hingga isu sosial. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah karya Muhammad Atho’illah yang memadukan batik dengan gaya hip hop melalui teknik patchwork dan appliqué.
Batik dan Gaya Hip Hop
Atho’illah, mahasiswa asal Mojokerto, menggunakan limbah deadstock batik dari pengrajin lokal untuk diolah menjadi koleksi streetwear modern. Kain batik katun dan print yang tidak terjual dipadukan dengan material jaring menggunakan teknik patchwork dan appliqué. Hasilnya adalah jaket, celana denim berpotongan oversize, serta aksesori bergaya streetwear yang menarik perhatian generasi muda.
Menurut Atho’illah, pemilihan material tersebut bertujuan untuk membantu pengrajin batik lokal sekaligus memperkenalkan batik kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih modern. Ia menjelaskan bahwa material yang digunakan bukanlah limbah kecil atau scrap, melainkan kain batik yang tidak terjual selama usaha pengrajin berlangsung.
Menggabungkan Budaya Lokal dan Global
Atho’illah sengaja memadukan budaya hip hop dengan wastra Nusantara karena ingin menunjukkan bahwa batik tetap dapat mengikuti perkembangan tren fesyen dunia. Hip hop, sebagai tren global yang berasal dari Amerika, dikombinasikan dengan elemen budaya lokal agar batik dan produk budaya Indonesia tetap relevan dengan tren fesyen saat ini.
Pesan Sosial dalam Koleksi
Selain mengangkat isu keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah tekstil, berbagai koleksi lain dalam Fashionology 2026 juga menyampaikan pesan sosial. Beberapa mahasiswa mengangkat tema kesehatan mental, akulturasi budaya, hingga inovasi material ramah lingkungan sebagai dasar penciptaan karya mereka.
Proses Pembelajaran dan Kreativitas
Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele, menjelaskan bahwa seluruh koleksi yang ditampilkan merupakan hasil proses pembelajaran mahasiswa selama empat tahun. “Fashionology 2026 adalah perayaan atas proses, ketekunan, dan transformasi para mahasiswa selama empat tahun belajar,” ujarnya.
Menurut Yoanita, setiap karya lahir melalui proses riset, eksplorasi, dan kreativitas yang mendalam sehingga tidak hanya menghasilkan busana yang menarik, tetapi juga menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan melalui desain. “Di balik setiap koleksi terdapat riset, eksplorasi, kreativitas, dan keberanian untuk menawarkan solusi melalui desain. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dengan percaya diri, membangun jejaring yang lebih luas, serta berkontribusi bagi perkembangan industri fashion Indonesia dan dunia,” tambahnya.
Kolaborasi dengan UMKM dan Perguruan Tinggi Internasional
Selain menampilkan karya tugas akhir, Fashionology 2026 juga menghadirkan hasil real client project yang dikerjakan 10 mahasiswa semester enam bersama UMKM Batik Reog Ponorogo. Program ini menjadi bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dengan pelaku industri kreatif untuk mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.
Tahun ini, Fashionology semakin berkelas internasional dengan melibatkan mahasiswa dari lima perguruan tinggi mitra, yakni Tsinghua University (China), Shih Chien University (Taiwan), Manchester Metropolitan University (Inggris), Swinburne University (Australia), serta Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (Malaysia). Kehadiran peserta internasional tersebut memperkuat posisi Fashionology sebagai wadah pertukaran gagasan dan inovasi mengenai masa depan industri fesyen yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi, perubahan tren, dan tuntutan keberlanjutan.





