Pengalaman Menulis dan Kebiasaan Membaca di Kalangan Mahasiswa
Sebuah pengalaman yang unik terjadi beberapa bulan lalu. Pada suatu pagi hari Sabtu, saya dan istri sedang berjalan kaki di tepi jalan. Tiba-tiba mata saya tertarik pada seorang ibu paruh baya yang sedang menggendong bayi. Dengan wajah bersinar, dia bertanya, “Pak Mujib ya?” Saya menjawab dengan senang hati. Kami berhenti sejenak untuk berbincang-bincang. Ia mengatakan bahwa ia menyukai tulisan saya di koran BPost. Saya merasa terkejut dan terharu. Si ibu ini adalah seorang penjaga warung kelontong biasa di pinggir jalan.
Setelah berpamitan, saya bercerita pada isteri tentang pengalaman ini. Beberapa tahun silam, saya juga pernah mendengar cerita dari teman-teman di UIN Antasari. Saat itu, mereka sedang membeli kebutuhan kantor dan tukang parkir menyambut mereka. Setelah melihat mobil yang membawa nama kampus, tukang parkir itu bertanya, “Dari UIN Antasari ya?” Ia kemudian berkata, “Saya kenal rektormu.” “Ah, masa?” tanya mereka. “Iya, saya baca tulisannya tiap Senin,” jawabnya.
Pengalaman ini sangat berbeda dengan apa yang saya alami ketika menanyakan hal serupa kepada mahasiswa di kampus saya sendiri. Saya pernah bertanya kepada sekitar 200 mahasiswa semester dua, “Siapa yang pernah membaca tulisan saya?” Ternyata, tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Begitu pula ketika saya menjadi Direktur Pascasarjana, saya sering bertanya kepada mahasiswa S-2 dan S-3. Jawaban mereka hampir sama, mereka tidak pernah membaca tulisan saya!
Perbedaan Generasi dan Teknologi Informasi
Apa penyebabnya? Salah satu faktor utama adalah perbedaan generasi yang berkorelasi dengan pergeseran teknologi informasi, dari cetak ke elektronik-digital. Para pembaca seperti si ibu pedagang kelontong dan tukang parkir adalah generasi yang tumbuh saat media cetak masih sangat berpengaruh. Sementara para mahasiswa saya adalah generasi baru yang lahir dan tumbuh di era digital, yang lebih akrab dengan internet dan media sosial. Mereka diserbu oleh informasi yang melimpah melalui media sosial dan cenderung tidak tertarik membaca media cetak.
Ponsel sebagai alat komunikasi tercanggih saat ini tidak hanya memengaruhi anak-anak muda Gen-Z, tetapi juga orang-orang yang lebih tua. Saya menduga, generasi tua pun kini mulai malas membaca media cetak. Mereka sibuk dengan media sosial saja, kapan pun dan di mana pun. Apalagi, media sosial dirancang agar bisa merebut perhatian orang. Ponsel dan aplikasinya sengaja dibuat agar kita benar-benar terikat padanya. Kita dibius dengan hasrat untuk mendapatkan validasi dan puja-puji, serta diganggu oleh aneka notifikasi yang nyaris tiada henti.
Budaya Membaca yang Rendah
Selain itu, kita bukanlah bangsa yang gemar membaca. Budaya komunikasi kita cenderung oral alias lisan ketimbang tulisan. Angka buta huruf memang sudah sangat kecil, tetapi minat dan kemampuan membaca masyarakat kita masih rendah. Survei PISA (Program for International Student Assessment) menunjukkan, anak-anak kita usia 15 tahun rata-rata hanya mampu memahami teks sederhana, bukan teks yang rumit dan abstrak. Kondisi ini membuat mereka mudah terperangkap dalam konten-konten media sosial yang ringan, dan malas membaca teks yang agak serius, apalagi yang ilmiah.
Kecerdasan buatan (AI) memperburuk keadaan ini, antara lain karena AI dapat membuatkan karya tulis dengan cepat sesuai permintaan. Godaan AI ini tentu semakin sulit dilawan oleh orang yang malas membaca. Orang hanya akan bisa menulis dengan baik jika dia adalah pembaca yang baik. Jika dia malas membaca, lalu ada tuntutan untuk membuat karya tulis, maka otomatis bantuan AI akan menjadi andalannya. Karena jarang membaca, mungkin saja dia sendiri tidak paham dengan tulisan yang dibuatkan AI itu, dan cenderung tidak sadar jika dalam tulisan itu ada banyak kekeliruan.
Peran Media dalam Membangun Minat Membaca
Saya pun teringat dengan perbincangan saya bersama (alm.) Yusran Pare pada 2009 silam, yang kala itu menjabat Pemred BPost. Dialah yang meminta saya untuk rutin menulis di koran ini. Saat diskusi bersama beberapa orang wartawan senior sebelum esai perdana Jendela tayang, dia mengatakan bahwa berdasarkan survei, pembaca rubrik opini koran ini sangat sedikit. Dia berharap, esai saya dapat mendongkrak gairah orang untuk membaca dan membuka wawasan. Bagi Yusran, selain memberikan informasi kepada publik, koran juga harus mendidik dan mencerdaskan publik.
Perkembangan Media dan Minat Membaca
Lantas bagaimana sekarang? Apakah kolom, esai atau opini, sudah tak dihiraukan orang lagi? Tidak juga. Rubrik opini Kompas, yang juga ‘atasan’ BPost, masih banyak dibaca orang. Koran itu bahkan menerbitkan tiga sampai empat opini sehari. Selain itu, semua media, termasuk BPost, telah membuat versi cetak dan elektronik, termasuk menggunakan media sosial. Saya sendiri rutin mengirim versi elektronik esai saya di media sosial. Pembacanya juga lumayan. Andai media sosial BPost juga menampilkan ide-ide penulis esai dan opini, mungkin perhatian publik akan meningkat.
Alhasil, saya sungguh berterimakasih telah diberi “privilege” menjadi penulis rutin di koran ini. Kolom atau esai, memang agak berbeda dengan opini biasa. Seperti kata Ignas Kleden (2025: 543-566), esai adalah perpaduan antara subjektivitas dan objektivitas. Ia adalah prosa sekaligus puisi. Dalam esai, pembaca tidak hanya menyimak pendapat penulis, tetapi juga mengenali pribadi penulisnya. Jika wartawan berusaha menyampaikan fakta objektif, ilmuwan menafsirkan fakta itu secara ilmiah, dan penyair menghayatinya secara subjektif, maka penulis esai menghubungkan semuanya.






