Duka adalah pengalaman yang paling dalam dan personal bagi setiap individu. Namun, di era digital saat ini, duka telah menjadi tontonan yang bisa diakses oleh siapa saja dengan sekali klik. Bayangkan sebuah rumah duka: harum kembang setaman bercampur dupa, suara isak tangis tertahan di sudut ruangan, tangan-tangan saling menggenggam sambil berbisik doa dan penghiburan. Di sana, waktu seolah berhenti memberi ruang bagi kesedihan untuk mengalir dengan bermartabat. Kini, bandingkan dengan ini: notifikasi ponsel berdering tanpa henti. Kamera diangkat tinggi, merekam wajah jenazah yang seharusnya diistirahatkan dengan tenang. Komentar spekulatif membanjiri kolom video: “Kenapa bisa?” “Siapa yang salah?” “Ngeri banget!” Duka telah menjadi tontonan, dan kematian telah kehilangan kesakralannya.
Inilah wajah ganda duka kita di era digital: di satu sisi masih ada yang berdoa, di sisi lain ada yang sibuk memastikan angle kamera sudah sempurna. Pertanyaannya sederhana namun menusuk: sejak kapan rasa ingin tahu kita melampaui rasa hormat kita pada kematian?
Anatomi Sebuah Epidemi Digital
Fenomena ini bukan lahir dari kevakuman. Ada tiga pilar yang menopang bangunan eksploitasi duka di media sosial. Pertama, diktat algoritma yang kejam. Platform media sosial didesain untuk menghargai konten yang memicu emosi ekstrem. Ngeri, sedih, marah—semuanya adalah mata uang digital yang laku keras. Semakin banyak reaksi, semakin tinggi pula jangkauan konten tersebut. Kreator konten, baik yang sadar maupun tidak, terjebak dalam lingkaran setan ini: melewati batas moral demi viralitas, karena viralitas berarti eksistensi.
Kedua, krisis identitas sebagai “pahlawan informasi.” Banyak kreator amatir mengalami delusi bahwa mereka sedang menjalankan misi jurnalistik mulia—memberikan informasi cepat kepada masyarakat. Padahal, ada jarak yang sangat jauh antara jurnalisme warga yang bertanggung jawab dengan eksploitasi yang berkedok “berbagi informasi.” Jurnalisme punya kode etik: verifikasi, privasi, dan kehormatan subjek. Eksploitasi hanya punya satu kode: viral dengan cara apa pun.
Ketiga, desensitisasi massal. Paparan kekerasan yang terus-menerus telah membuat kita tumpul rasa. Jenazah bukan lagi subjek manusia yang punya keluarga, punya cerita, punya martabat. Jenazah telah direduksi menjadi objek visual—sekadar konten yang bisa di-scroll, di-like, atau di-share sambil mengunyah camilan.
Komodifikasi Duka: Ketika Sakralitas Dirampas
Dalam setiap tradisi di Indonesia—dari Sabang sampai Merauke—kematian adalah peristiwa sakral. Ada ritual, ada waktu untuk hening, ada ruang untuk privasi keluarga. Kematian bukan pertunjukan publik, melainkan perjalanan transisi yang harus dihormati. Namun, konten viral telah merampas sakralitas ini. Video kecelakaan yang masih mengepulkan asap, foto jenazah dengan luka terbuka, tangisan keluarga yang direkam close-up—semuanya adalah bentuk kekerasan sekunder (secondary victimization). Jika kecelakaan atau sakit adalah luka pertama, maka viralitas adalah luka kedua yang terus terbuka setiap kali video itu diputar ulang.
Bayangkan Anda adalah keluarga korban. Orang yang Anda cintai telah pergi dengan cara yang tragis. Belum sempat Anda menutup mata yang sembab, video kematiannya sudah beredar di mana-mana. Grup WhatsApp keluarga besar, di timeline Facebook tetangga, bahkan di akun TikTok orang asing yang Anda tak kenal. Jejak digital ini akan ada selamanya—terindeks, tersimpan di server, bisa muncul kapan saja di rekomendasi video. Bagaimana rasanya hidup dengan luka yang terus berdarah setiap ada yang menekan tombol play?
Ini adalah fetisisme duka: sebuah hasrat obsesif untuk mengonsumsi penderitaan orang lain sebagai hiburan atau validasi eksistensi digital.
Burung Pemakan Bangkai di Ekosistem Digital
Ada istilah dalam ekologi: vulture—burung pemakan bangkai. Mereka mengitari mayat, menunggu momen kehancuran untuk keuntungan pribadi. Di dunia digital, kita punya ekosistem serupa: para “content vulture” yang mengitari setiap tragedi dengan kamera siap rekam. Bedanya, burung pemakan bangkai punya fungsi ekologis—membersihkan sisa-sisa organik. Content vulture hanya punya satu fungsi: mengakumulasi views, likes, dan engagement untuk dikonversi menjadi uang atau popularitas.
Lebih menyakitkan lagi, vulture culture ini tidak hanya dilakukan oleh kreator tidak bermoral. Kadang, bahkan orang-orang yang merasa “peduli” ikut menyebarkan konten tersebut dengan caption “Ayo jaga diri, jangan sampai seperti ini ya” atau “Innalillahi, prihatin lihatnya.” Mereka merasa melakukan kebaikan, padahal mereka sedang menjadi bagian dari rantai eksploitasi.
Cermin untuk Kita Semua
Sekarang, mari kita jujur: pasar ada karena ada pembeli. Jika konten eksploitatif tidak diklik, tidak ditonton sampai habis, tidak dibagikan dengan dalih “supaya viral biar orang tahu”—maka kreator tidak akan membuatnya. Kita, para audiens, adalah pemberi bahan bakar utama untuk mesin eksploitasi ini. Setiap kali kita mengklik video kecelakaan dengan thumbnail yang sensasional, kita memberikan sinyal kepada algoritma: “Saya suka konten seperti ini, berikan lebih banyak lagi.” Setiap kali kita membagikan video tragis tanpa berpikir panjang, kita menjadi amplifier dari kekerasan sekunder terhadap keluarga korban.
Ini bukan soal sensor atau pembatasan kebebasan informasi. Ini soal etika jempol: kesadaran sederhana sebelum menekan tombol share. Tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah keluarga korban ingin video ini tersebar?
- Apakah konten ini memberikan informasi penting, atau hanya memuaskan rasa ingin tahu yang tidak sehat?
- Bagaimana jika yang ada di frame adalah orang yang saya cintai?
Rasa empati bukanlah sesuatu yang datang setelah kita mengklik—ia harus datang sebelum jari kita menyentuh layar.
Mengembalikan “Rasa” ke Dalam Dada
Ada garis tipis antara kepedulian dan eksploitasi. Kepedulian hadir dengan tindakan nyata: mendoakan, membantu keluarga, menyebarkan informasi yang bermanfaat tanpa melanggar privasi. Eksploitasi hadir dengan kamera, dengan caption sensasional, dengan hasrat untuk viral. Kita hidup di era di mana mata kamera seringkali lebih cepat dari hati yang berdoa. Namun, kita masih punya pilihan. Kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari mesin yang menggilas martabat manusia demi angka statistik digital.
Mulai hari ini, mari kita berkomitmen:
- Tidak menonton konten yang jelas-jelas melanggar privasi duka
- Melaporkan (report) video eksploitatif, bukan membagikannya
- Menyebarkan budaya “scroll past tragedy” – lewati, jangan dikonsumsi
- Mengedukasi orang-orang di sekitar kita tentang dampak dari kekerasan sekunder
Teknologi tidak akan pernah berhenti berkembang. Kamera akan semakin canggih, internet akan semakin cepat, algoritma akan semakin lihai memanipulasi emosi kita. Namun, yang tidak boleh berkembang adalah kebejatan moral kita. Ingatlah: di balik layar ponsel itu ada manusia yang punya martabat. Ada keluarga yang berduka. Ada doa yang terputus oleh suara shutter kamera. Dan suatu hari nanti, kita semua akan menjadi yang “di dalam frame”—entah sebagai yang merekam, atau yang direkam.
Perlakukan duka orang lain sebagaimana kita ingin duka kita dihormati. Karena pada akhirnya, bukan kualitas kamera yang menentukan siapa kita, melainkan kualitas rasa yang tersisa di dalam dada. Semoga kita masih punya cukup hati untuk memilih doa, bukan dokumentasi.







