Ratusan Warga Banyumas Ikut Casting Film Landasan
Ratusan warga Banyumas ikut serta dalam proses casting pemeran film Landasan yang diproduksi oleh SKAK Studios bekerja sama dengan MD Pictures. Acara ini digelar di Convention Hall Menara Teratai Purwokerto, Minggu, dan menjadi momen penting dalam pengambilan lokasi syuting film tersebut.
Film Landasan akan mengambil latar belakang kehidupan masyarakat Banyumas, khususnya terkait fenomena pembangunan bandara yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Proses casting ini tidak hanya bertujuan mencari pemeran utama, tetapi juga untuk menemukan karakter-karakter yang jujur dan relevan dengan cerita yang ingin disampaikan.
Bakat Anak-anak Muncul di Tengah Proses Casting
Salah satu peserta casting yang menarik perhatian adalah Rafasya Najah Almahira (8), warga Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Ia tampil antusias saat menunjukkan bakat aktingnya di depan kamera. Ia mengaku biasa bermain dan berakting bersama teman-temannya di rumah.
Sutradara film Landasan, Bayu Skak, menjelaskan alasan memilih Banyumas sebagai lokasi syuting. Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal sangat penting untuk menciptakan kisah yang autentik dan mendekati kehidupan nyata. “Kami ingin 80 persen pemeran film ini berasal dari Banyumas,” ujarnya.
Film ini memiliki genre komedi yang dibumbui elemen drama dan thriller. Ceritanya menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk konsekuensi dari pilihan hidup seseorang. Dalam film ini, ada 14 slot pemain inti serta beberapa peran figuran yang akan diisi melalui proses casting terbuka.
Proses Casting Terbuka untuk Semua Latar Belakang
Proses casting ini terbuka bagi masyarakat umum, tanpa biaya, dan tidak memerlukan pengalaman akting sebelumnya. Peserta bisa datang dengan berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kategori usia yang dibuka antara lain:
- Usia 8–12 tahun
- Usia 13–18 tahun
- Usia 18–30 tahun
- Usia 30–50 tahun
Produser film Landasan, Ricky R Setiyawan, menyebutkan bahwa kolaborasi ini bertujuan menghadirkan film yang kuat secara cerita dan karakter. “Open casting menjadi cara kami menemukan talenta yang benar-benar relevan dengan cerita yang dibangun dalam film ini,” katanya.
Penulis skenario Achmad Faishol menambahkan bahwa cerita Landasan lahir dari keseharian masyarakat, sehingga proses casting terbuka penting untuk menjaga kejujuran karakter dalam film. “Cerita Landasan lahir dari keseharian. Karena itu, proses casting terbuka membantu menjaga kejujuran karakter di dalam film,” ujarnya.
Banyumas Dipilih karena Keindahan Alam dan Antusiasme Masyarakat
Bayu Skak mengungkap alasan memilih Banyumas sebagai lokasi syuting. Menurutnya, Banyumas terpilih berdasarkan voting dan antusiasme masyarakat yang tinggi. Selain itu, lanskap alam Banyumas dinilai sangat menarik untuk dieksplorasi secara visual.
“Bagian Baturraden itu bagus banget, background-nya ada Gunung Slamet. Nanti juga ada lokasi di Singasari, sawah-sawah, kantor desa, lapangan untuk setting acara desa,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian besar adegan akan dilakukan di kampung-kampung dengan berbagai setting kehidupan desa yang dikombinasikan dengan unsur komedi.
Mengangkat Isu Pembangunan Bandara dan Fenomena Sosial
Film Landasan mengusung komedi sebagai genre utama, dipadukan dengan komedi slapstick, situasi, dan dialog dialek lokal. Ceritanya berangkat dari fenomena pembangunan bandara yang membuat warga berlomba-lomba agar tanahnya dibeli pemerintah demi mendapatkan ganti untung.
“Ini komedi banget-banget. Orang-orang senang karena ada pembangunan bandara, lalu berlomba-lomba ‘tanahku aja yang dibeli’. Itu akan dikomedikan,” kata Bayu Skak.
Meski komedi, film ini juga membawa pesan sosial tentang pembangunan yang seharusnya dilakukan secara rapi dan terencana.

Dukungan Penuh dari Pemkab Banyumas
Proses casting ini turut dihadiri oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono. Namun, ia tidak ikut berkompetisi untuk meraih peran, melainkan menunjukkan dukungan Pemerintah Kabupaten Banyumas terhadap produksi Film Landasan.
Pemkab Banyumas bahkan akan meminjam wisma di kawasan Baturraden untuk kebutuhan kru selama satu bulan penuh. Menurut Sadewo, film ini akan mengangkat budaya lokal Banyumas dengan melibatkan 80 persen pemain lokal serta penggunaan bahasa daerah.
“Saya yakin, kalau ada Bayu-Bayu yang lain mengangkat budaya lokal maka Banyumas akan semakin trending dan mendunia,” katanya.
Sadewo menambahkan, kehadiran ratusan kru film selama sekitar 30 hari syuting akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. “Hotel-hotel laku, makanan laku, UMKM bergerak. Sekitar 200 kru dari Jakarta pasti menginap di sini. Dampaknya besar,” ujarnya.
Pemkab Banyumas juga menggratiskan penggunaan lokasi wisata milik pemda sebagai lokasi syuting. “Masuk ke desa-desa itu tidak mudah karena masyarakat awam. Tapi, kami bantu sosialisasi supaya masyarakat paham bahwa ini kegiatan syuting,” katanya.







