Pengalaman Wisata Religi ke Masjid Samin Baitul Muttaqin
Pada pekan pertama Agustus 2026, saya menjadi salah satu peserta wisata religi ke Masjid Samin Baitul Muttaqin di Bojonegoro, Jawa Timur. Wisata ini diikuti oleh 50 peserta, baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari jemaah pengajian dalam ketakmiran Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Perumahan Puri Domas, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perumahan Puri Domas adalah tempat domisili kami selama setahun terakhir.
Wisata religi ini bertujuan untuk melihat langsung manajemen pengelolaan masjid yang dapat menjadi contoh bagi masjid lain di nusantara. Masjid Samin Baitul Muttaqin telah ditetapkan oleh Pemkab Bojonegoro sebagai “masjid wisata religi”. Arsitektur masjid ini sangat megah dengan desain bercorak Timur Tengah. Terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jatim. Masjid ini dibangun oleh Pemkab Bojonegoro di ruas jalan nasional jalur Ngawi–Bojonegoro, dengan biaya sekitar Rp113,45 miliar.
Keberadaannya sangat strategis karena berada di jalur utama jalan nasional penghubung Ngawi dan Bojonegoro, menjadikannya mudah dijangkau pengunjung. Selain itu, bangunan yang luas serta arsitektur indah dan estetis dengan pelataran dan serambi yang luas, menjadikannya sebagai daya tarik wisata berbagai kalangan setiap waktu. Di waktu tertentu cenderung sangat padat seperti libur Lebaran atau bulan puasa, sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan di jalur nasional sekitarnya.
Sebagai masjid wisata religi, sering pula masjid ini menjadi tempat beristirahat atau rest area para musafir, pemudik, serta tujuan ngabuburit dan wisata warga sekitar. Sering menjadi pusat kegiatan keramaian, seperti pasar murah dan safari Ramadan. Itu semua menjadi daya tarik wisata favorit.
Nama Samin dan Keberlanjutan Ajaran
Daya tarik utama lainnya dengan penamaan masjid dengan mengambil diksi “Samin”. Samin disematkan sebagai bentuk penghormatan dan kearifan lokal terhadap masyarakat suku Samin di kawasan tersebut, yang selaras dengan nilai kerukunan. Mengutip berbagai sumber, penerus ajaran Samin merespons positif penamaan diksi Samin untuk masjid ini. Nama Samin Baitul Muttaqin telah terpasang di fasad masjid wisata religi di Bojonegoro.
Ada sikap sebagian pihak yang menolak nama itu, tampak seperti angin lalu. Tidak memusingkan Pemkab Bojonegoro. Masyarakat penerus ajaran Samin Bojonegoro di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo pun menyikapi dengan tenang. Tidak gupuh. Tokoh Samin Bojonegoro Bambang Sutrisno pun tidak mempermasalahkan ada diksi Samin pada nama masjid wisata religi selama tidak ada pihak yang dirugikan. Diutarakan pula, pihaknya tidak pernah mendesak siapa pun untuk menyematkan diksi Samin pada nama masjid wisata religi.
Komunitas ini hanya ingin terus melestarikan ajaran Samin tanpa pamrih. Tidak berkehendak dikenal atau dipromosikan. Lebih dari itu, ajaran Samin tidak punya motif untuk menentang sesama. Sebaliknya, meneguhkan prinsip bersaudara. Ajaran Samin ialah guyub rukun. Dari tembung (kata) sami-sami (bersama-sama). Tidak menimbulkan masalah atau kerugian.
Lebih lanjut, Bambang mengatakan, pihaknya kurang mengetahui siapa yang menginisiasi nama Samin Baitul Muttaqin untuk masjid wisata religi. “Siapa penginisiasinya, kami kurang tahu,” imbuh generasi kelima penerus ajaran Samin di Dusun Jepang tersebut. Yang pasti nama Samin Baitul Muttaqin untuk masjid wisata religi merupakan hasil kesepakatan banyak pihak.
Di antaranya, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, tokoh masyarakat Kecamatan Margomulyo, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Penamaan masjid ini menjadi simbol harmoni, disepakati bersama berbagai elemen masyarakat termasuk ormas Islam dan tokoh budaya lokal. Meskipun penggunaan kata “Samin” memang sempat menuai sorotan dan perdebatan dari segi kebahasaan maupun prinsip sebagian kalangan karena dikaitkan langsung dengan ajaran komunitas Samin.
Pengalaman Berkunjung ke Masjid Samin
Dalam kunjungan ke Masjid Samin, rombongan wisata religi ini, jemaah Masjid MUI Puri Domas diterima salah seorang pengurus Masjid Samin, Supardi. Dijelaskan, masjid ini lebih populer di kalangan masyarakat dengan nama Masjid An-Nahda. Lalu, kemudian berganti nama menjadi Masjid Samin Baitul Muttaqin. Bahkan, ada sebagian peserta wisata religi sempat terheran ketika tiba di lokasi dengan melihat nama masjid. Setelah mendapat penjelasan, mereka baru paham bahwa, kini namanya menjadi Masjid Samin Baitul Muttaqin.
Sekeliling masjid ini tumbuh kegiatan UMKM dari masyarakat lokal dan dapat memanjakan kebutuhan pengunjung. Masjid tidak pernah sepi karena dikunjungi tamu yang datang dari berbagai daerah. Hal unik lainnya, di mana pun titik kita berada di lingkungan masjid, puluhan ibu-ibu terus-menerus berjuang, menempel pengunjung, menjajakan madu dengan harga yang bisa ditawar.
Dari amatan kami, rombongan yang datang terus bergelombang, baik menggunakan kendaraan pribadi, mobil travel ukuran Hi-Ace, maupun bus.
Asal Usul dan Keunikan Suku Samin
Samin merupakan nama suku yang pola kehidupan sosialnya dinilai unik. Dari informasi yang kami himpun, masyarakat Samin atau Sedulur Sikep berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng, dengan pusat persebaran terbesar di Kabupaten Blora, Jateng dan Kabupaten Bojonegoro, Jatim khususnya di wilayah perbatasan kedua provinsi tersebut.
Sebaran wilayah suku Samin yang berada di Blora Jateng berpusat di Desa Klopoduwur (Kecamatan Banjarejo) dan Desa Sambongrejo (Kecamatan Sambong). Sementara di Bojonegoro Jatim berpusat di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Pengikut Samin juga tersebar di wilayah lain, sekitar daerah Pati, Kudus, Rembang, Grobogan, hingga Ngawi.
Keunikan masyarakat Suku Samin (Sedulur Sikep) memegang ajaran leluhur yang disebut ajaran Samin atau agama Adam, yang berfokus pada budi pekerti luhur, kejujuran, dan harmoni dengan alam. Seiring waktu, sebagian besar warga Samin kini telah memeluk agama formal yang diakui negara seperti Islam, sementara nilai-nilai adat leluhur tetap dijaga.
Pandangan hidup dan keyakinan Samin sebagai ajaran leluhur, adalah berpegang pada petuah Samin Surosentiko yang mengutamakan kejujuran, kesederhanaan, dan tidak merugikan orang lain. Di sisi pandangan agama Adam, sebagian masyarakat mengenalnya sebagai bentuk ajaran awal yang menghargai hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Yai) dan alam semesta.
Banyak keturunan Samin yang kini tercatat secara administratif dan praktiknya memeluk agama Islam, terutama karena pengaruh pendidikan, interaksi sosial, dan pernikahan.
Filosofi dan Tradisi Suku Samin
Keunikan suku ini atau Sedulur Sikep terletak pada tiga hal utama, yaitu filosofi kejujuran ekstrem, tradisi perlawanan pasif tanpa kekerasan terhadap kolonial Belanda, dan gaya hidup agraris yang sangat bersahaja. Filosofi dan ajaran hidup Sedulur Sikep yang menjadi konsep dasar dengan memandang semua manusia setara, jujur, dan berbuat baik tanpa membedakan status. Komunitas masyarakat ini menolak berdagang dan memilih hidup sebagai petani karena khawatir aktivitas jual-beli memicu sifat curang atau niat menipu. Ucapan mereka jujur, pantang berbohong dan mencuri atau mengambil hak milik orang lain dalam keseharian.
Jadi, ketika mencermati nilai-nilai dasar dengan ajaran yang luhur, pola kehidupan sosialnya yang sangat unik, maka penyematan Samin pada Masjid Samin Baitul Muttaqin merupakan kehormatan dan penghargaan yang mulia dari berbagai elemen masyarakat terhadap komunitas suku ini.






