
Pekan terakhir bulan Oktober 2026 diwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa besar-besaran yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Ribuan massa turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi, dengan isu utama yang disoroti adalah tingginya beban biaya hidup yang dirasakan oleh masyarakat luas. Namun, dinamika di ruang digital menunjukkan fenomena lain yang tidak kalah masif. Di tengah situasi yang memanas tersebut, berbagai platform media sosial justru dibanjiri oleh arus informasi yang menyesatkan, hoaks, serta narasi-narasi provokatif yang mencoba mengalihkan isu utama demonstrasi.
Salah satu narasi keliru yang paling menonjol mengeklaim bahwa rangkaian unjuk rasa ini bukanlah murni gerakan murni rakyat, melainkan hasil dari intervensi dan provokasi pihak asing. Berbagai teori konspirasi disebarkan untuk menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap tokoh-tokoh nasional serta hubungan diplomatik antarnegara. Guna meredam keresahan masyarakat, tim pemeriksa fakta telah melakukan penelusuran mendalam terhadap berbagai isu liar yang beredar selama sepekan terakhir. Berikut adalah rangkuman dari sejumlah temuan penting terkait hoaks dan misinformasi yang berhasil diurai:
1. Bantahan Isu Pertemuan Dino Patti Djalal dan Saiful Mujani dengan Dubes Singapura
Isu panas sempat menerpa mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal serta akademisi politik terkemuka, Saiful Mujani. Keduanya dikabarkan menggelar pertemuan rahasia dengan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, di Jakarta pada Oktober 2026. Narasi yang disebarkan di dunia maya menyebutkan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk mendalangi provokasi agar rakyat Indonesia kehilangan kepercayaan kepada pemerintah yang sah, terutama setelah Dino mengeluarkan pandangan terkait hubungan bilateral Indonesia-Singapura di tengah isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Setelah dilakukan investigasi, klaim tersebut terbukti sepenuhnya sebagai berita bohong. Dino Patti Djalal secara tegas membantah pernah melakukan pertemuan dengan Dubes Singapura bersama Saiful Mujani. Bahkan, ia menyatakan tidak pernah bertemu langsung dengan Saiful Mujani dalam konteks tersebut. Di sisi lain, pihak Kedutaan Besar Singapura di Jakarta juga telah mengeluarkan klarifikasi resmi yang memastikan bahwa tidak pernah ada agenda pertemuan semacam itu pada Oktober 2026.
2. Manipulasi Video Pimpinan Negara Membaca Kitab Suci Menggunakan AI
Di tengah memanasnya situasi politik domestik, disinformasi lintas negara turut memeriahkan lini masa media sosial. Sebuah video yang memperlihatkan Presiden China Xi Jinping tengah membaca Surah Al-Ikhlas dari kitab suci Al-Qur’an sempat beredar luas di platform Facebook pada akhir Oktober 2026. Video ini tentu saja menarik perhatian publik dan memicu perdebatan di kolom komentar.
Kendati tampak meyakinkan, penelusuran teknologi menunjukkan bahwa video tersebut merupakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Berdasarkan analisis menggunakan perangkat deteksi seperti Hive Moderation dan TruthScan, terungkap bahwa suara Xi Jinping di dalam video tersebut dihasilkan oleh generator AI dengan tingkat probabilitas mencapai 99 persen. Adapun video aslinya merupakan dokumentasi pidato Xi Jinping pada Mei 2024 yang membahas kerja sama strategis antara China dan Arab Saudi di bidang teknologi AI.
3. Konteks Keliru Terkait Video Barang Jarahan Kerusuhan di Prancis
Unjuk rasa berujung kerusuhan yang sempat melanda ibu kota Prancis, Paris, pada 17 Oktober 2026, turut menjadi bahan eksploitasi pembuat hoaks. Di media sosial, beredar sebuah video yang memperlihatkan berbagai barang mewah seperti tas tangan dan pakaian bermerek dijajakan di lapak-lapak kaki lima pinggir jalan. Narasi dalam video mengeklaim bahwa barang-barang tersebut merupakan hasil jarahan dari kerusuhan massal di Paris yang diobral di jalanan.
Meskipun fenomena penjualan barang-barang bekas atau barang selundupan pasca-kerusuhan di Prancis memang merupakan sebuah kemungkinan, video yang dibirakan tersebut ternyata menggunakan konteks yang sepenuhnya salah. Berdasarkan penelusuran visual, video tersebut sebenarnya merekam aktivitas perdagangan di kawasan jalan Gran Via di Madrid, Spanyol. Lokasi tersebut memang dikenal luas sebagai pasar barang bekas serta kawasan pejalan kaki yang sering menjajakan berbagai barang tiruan atau barang loak lokal, dan sama sekali tidak berkaitan dengan hasil jarahan demonstrasi di Prancis.
4. Hoaks Video Lama Kebakaran Gedung DPRD Dikaitkan dengan Aksi Sumpah Pemuda
Kepanikan publik juga sempat disulut oleh penyebaran video berdurasi singkat di Facebook pada 28 Oktober 2026. Video tersebut mengeklaim menampilkan detik-detik Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di sebuah kota terbakar hebat. Pengunggah sengaja mengaitkan video itu dengan aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Namun, setelah diverifikasi melalui pencarian jejak digital, video tersebut terbukti disebarkan dengan narasi kedaluwarsa. Peristiwa kebakaran yang terekam dalam video itu sebenarnya adalah insiden terbakarnya Gedung DPRD Kota Makassar yang terjadi jauh sebelumnya, yakni pada 29 Agustus 2025. Video tersebut identik dengan dokumentasi lama yang sempat viral dengan berbagai sudut pengambilan gambar dari sejumlah pengguna media sosial yang berbeda.
5. Video Lama Pertemuan Anies Baswedan dengan Pejabat Singapura Diseret ke Isu Politik Terkini
Nama mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, turut terseret dalam pusaran hoaks di media sosial. Sebuah video yang memperlihatkan kebersamaan Anies dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, serta Dubes Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, beredar dengan narasi bahwa pertemuan tersebut berlangsung pada tahun 2026 di tengah situasi unjuk rasa.
Hasil penelusuran membuktikan bahwa klaim tersebut adalah hoaks daur ulang. Video itu sejatinya identik dengan unggahan resmi yang pernah dipublikasikan di akun Instagram pribadi Anies Baswedan pada 25 April 2024. Rekaman tersebut mendokumentasikan momen santap siang antara Anies, Menlu Singapura, dan Dubes Singapura di Jakarta pada tahun 2024, di mana mereka berdiskusi mengenai dinamika global serta hubungan antarbangsa. Tidak ada agenda pertemuan politik rahasia antara Anies dan pejabat Singapura seperti yang dinarasikan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab belakangan ini.
Melalui berbagai temuan ini, masyarakat diimbau untuk senantiasa meningkatkan literasi digital, berpikir kritis, serta tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum jelas sumber kebenarannya, terutama di tengah situasi sosial yang sedang dinamis.







