Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, DPR Minta Prabowo Segera Bertemu Pemimpin Iran

    5 April 2026

    Antrean BBM Nonsubsidi di Ambon, Harga Diprediksi Naik Mulai 1 April

    5 April 2026

    Pemilik Kos Surabaya Ungkap Detik-Detik Maling Motor Diamuk Warga Margorejo

    5 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 5 April 2026
    Trending
    • Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, DPR Minta Prabowo Segera Bertemu Pemimpin Iran
    • Antrean BBM Nonsubsidi di Ambon, Harga Diprediksi Naik Mulai 1 April
    • Pemilik Kos Surabaya Ungkap Detik-Detik Maling Motor Diamuk Warga Margorejo
    • Ketua HMI Jabar Siti Nurhayati Diteror, Seperti Andrie Yunus
    • Pemkot Malang Dorong Ekonomi Inklusif di RKPD 2027
    • 5 Pengharum Ruangan Terbaik untuk Malam yang Lebih Nyenyak
    • Mengenal Sapi Sonok, Kontes Kecantikan Sapi Betina Madura
    • Link Live Streaming Arema FC vs Malut United, Jadwal Laga Pekan 26 Liga Super 2025/2026
    • Jadwal KM Wilis 31 Maret – 21 April 2026: Rute Waingapu, Ende, Kalabahi, Kupang
    • Lengkap! 11 Kesepakatan RI-Jepang Senilai Rp401,71 Triliun
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kajian Islam»Ibnu Taimiyah: Perspektif Mazhab dan Etika Menghargai Ulama

    Ibnu Taimiyah: Perspektif Mazhab dan Etika Menghargai Ulama

    adm_imradm_imr26 Januari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perbedaan Pandangan dalam Membaca Karya Ibnu Taimiyah

    Dua pernyataan berikut sering dikutip untuk saling menegasikan, padahal keduanya lahir dari tradisi keilmuan yang sama: Al-Azhar, Kairo-Mesir. “Siapa yang membaca karya Ibnu Taimiyah dalam akidah, ia tersesat; dan siapa yang membaca karyanya dalam fikih, ia akan jenius.” dan “Barang siapa membaca karya Ibnu Taimiyah dalam bidang akidah, ia akan mendapatkan petunjuk; dan barang siapa membaca karyanya dalam bidang fikih, ia akan merasa tercukupi.”

    Apalagi banyak pernyataan yang saling menegasikan berasal dari dua kutub pemikiran Sunni yang berbeda: Universitas Al-Azhar dengan Dewan Ulama Seniornya di Mesir dan institusi Dewan Ulama Senior Arab Saudi dengan alumni Universitas Islam Madinah. Keduanya memiliki pengaruh luas di dunia Islam.

    Pertanyaannya bukan:
    siapa yang benar?
    Melainkan: mengapa satu figur ilmiah (Ibnu Taimiyah) yang sama melahirkan dua pengalaman pembacaan yang begitu kontras?

    Jawabannya tidak sesederhana “benar–sesat”, tetapi berkaitan erat dengan cara membaca, posisi epistemik pembaca, dan etika berbeda pendapat dalam Ahlus Sunnah.

    Ibnu Taimiyah dalam Timbangan Ulama Besar

    Satu hal yang sering luput dalam polemik kontemporer adalah fakta bahwa Ibnu Taimiyah tidak pernah diposisikan di luar Ahlus Sunnah oleh para imam besar ahlusunnah lintas zaman, bahkan oleh mereka yang paling keras mengkritiknya.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani—otoritas hadis lintas mazhab—menegaskan bahwa: Gelar Syaikhul Islam bagi Ibnu Taimiyah diakui secara luas; Karya-karyanya justru sarat dengan penolakan terhadap tajsim; Kesalahannya diakui, tetapi kebenarannya lebih dominan; Ia memiliki perangkat ijtihad yang sah.

    Beliau berkata:
    “Ketokohan Imam Syaikh Taqiyuddin sudah lebih terang dari matahari. Gelar ‘Syaikhul Islam’ yang dilekatkan kepadanya pada zamannya hingga kini tetap terucap oleh lisan-lisan yang bersih, dan akan terus demikian esok sebagaimana kemarin. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali orang yang tidak mengetahui kedudukannya atau sengaja meninggalkan keadilan. Karya-karyanya penuh dengan bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan tajsim dan berlepas diri dari tuduhan tersebut.”

    Meski demikian, beliau tetap seorang manusia yang bisa benar dan bisa salah. Apa yang benar darinya—dan itu lebih banyak—diambil manfaatnya dan didoakan karena kebenarannya. Adapun yang keliru, maka tidak diikuti, namun beliau tetap diberi uzur; sebab para imam di zamannya telah bersaksi bahwa perangkat ijtihad telah sempurna pada dirinya.

    Ini bukan pembelaan emosional, melainkan penilaian metodologis ulama muhaqqiq. Bahkan Taqiyuddin as-Subki—lawan debat teologisnya yang paling tajam—tetap menyebut Ibnu Taimiyah sebagai: “berjalan di atas jalan salaf dengan cara yang paling sempurna, dan sosok semacam ini sangat langka dalam banyak zaman.”

    Di sinilah letak kejujuran tradisi keilmuan klasik: berbeda keras tanpa membatalkan keilmuan dan keislaman lawan berfikir.

    Kesalahan Alim Tidak Menggugurkan Imamah dalam Ilmu

    Argumen kunci dalam teks di atas sangat penting untuk konteks hari ini:
    Kesalahan seorang imam dalam beberapa masalah tidak mengeluarkannya dari Ahlus Sunnah.

    Jika kaidah ini diabaikan, maka: Imam Malik bisa “dijatuhkan” karena kritik Imam Al-Laits bin Sa’d; Imam Syafi‘i bisa “dipersoalkan” oleh Imam Ahmad bin Hanbal; Bahkan para sahabat Nabi pun akan saling menegasikan.

    Padahal sejarah Islam justru menunjukkan sebaliknya: perbedaan tajam hidup berdampingan dengan pengakuan keutamaan.

    Maka problem sesungguhnya bukan pada Ibnu Taimiyah, tetapi pada mentalitas pembaca yang menjadikan perbedaan sebagai alat delegitimasi dan proyek pecah belah umat.

    Mengapa Ada yang “Tersesat” dan Ada yang “Mendapat Petunjuk”?

    Di sinilah dua kutipan awal harus dibaca secara dewasa.

    Mereka yang mengatakan “tersesat” biasanya: Membaca Ibnu Taimiyah dengan belenggu vonis sektarian; Mengambil ungkapan-ungkapan zhahir tanpa maqashid; Menjadikannya senjata ideologis untuk menyesatkan yang lain.

    Sementara mereka yang mengatakan “mendapat petunjuk” biasanya: Membaca Ibnu Taimiyah dalam ekosistem Ahlus Sunnah; Menempatkannya sejajar dengan Asy‘ari, Maturidi, dan fuqaha; Mengambil semangat ittiba‘ salaf, bukan literalisme retorik.

    Dengan kata lain: yang bermasalah sering kali bukan teksnya, melainkan mental pembacanya.

    Teks ini—terutama pengakuan penulisnya yang bersedia merevisi pandangan lama demi kebenaran—adalah kritik telak terhadap budaya dakwah hari ini: yang menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai ikon ideologis; yang mengutip ulama untuk memenangkan kubu; yang memuja atau membenci tanpa adab ilmiah.

    Padahal sikas Ahlus Sunnah selalu jelas: mengambil kebenaran, meninggalkan kesalahan, dan menjaga kehormatan ulama.

    Kebenaran Tidak Membutuhkan Fanatisme

    Ibnu Taimiyah bukan nabi. Ia bukan maksum. Namun ia juga bukan penyimpang, mubtadi’ sesat, mujassimah kafir yang layak disingkirkan dari Ahlus Sunnah sebagaimana didakwakan oleh sebagian alim dan pengikut awam Asy’ariyah.

    Sebaliknya, kita sering mendengar keangkuhan fanatisme tokoh dan awam Salafi yang menyatakan, “Bacalah karya Imam an-Nawawi atau Ibn Hajar ‘Asqalani dan ambillah manfaat dari ilmunya, tetapi waspadalah terhadap akidah mereka (Asy’ari) yang rusak.”

    Bukankah kedua kubu itu melakukan praktik selektivitas penyingkiran (intiqa’iyyah – iqsha’iyyah) yang sama—mereduksi dan memenggal warisan para ulama sesuai dengan ukuran diri dan hawa nafsu mereka sendiri?

    Menyikapinya secara adil bukan hanya soal sejarah, tetapi soal masa depan etika keilmuan umat: apakah kita mewarisi tradisi ulama—atau hanya mewarisi pertengkaran mereka tanpa kedalaman ilmunya.

    Dan di titik inilah, pernyataan penutup layak menjadi cermin bagi kita semua:
    “Seorang Muslim sejati adalah pencari kebenaran; dan ketika kebenaran tampak, ia tunduk kepadanya, meskipun berasal dari bukan kelompok dirinya.”

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Sholawat Fatih: Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya

    By adm_imr5 April 20260 Views

    Sholawat Adrikni: Makna dan Manfaatnya

    By adm_imr5 April 20260 Views

    Gabungkan Puasa Syawal dan Qadha, Perbanyak Pahala dengan Niat dan Cara yang Benar

    By adm_imr4 April 20268 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, DPR Minta Prabowo Segera Bertemu Pemimpin Iran

    5 April 2026

    Antrean BBM Nonsubsidi di Ambon, Harga Diprediksi Naik Mulai 1 April

    5 April 2026

    Pemilik Kos Surabaya Ungkap Detik-Detik Maling Motor Diamuk Warga Margorejo

    5 April 2026

    Ketua HMI Jabar Siti Nurhayati Diteror, Seperti Andrie Yunus

    5 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?