Pengalaman Sederhana yang Menginspirasi
Nyessss!
Cireng yang masih hangat, tercelup di bumbu rujak. Cireng buatan Mbak Anna (tetanggaku) ini berbeda. Tidak banyak minyak, kenyal dan tentu saja cocolannya bikin nagih. Pedas manis asam.
Sementara di luar jendela, warna langit mirip seprai kasur yang sudah kusam. Mendung. Belum juga hujan turun, notifikasi HP berbunyi. Pesan dari mbak Anna: Mbak, pesanan cireng untuk besok sudah ready. Mau diantar ke rumah pean sekarang atau besok saja?
Pesan dari Mbak Anna membuatku ingin tersedak. Kata-kata “cireng ready” ini, entah kenapa mengingatkanku pada satu kumpulan esai “Menua dengan Gembira” yang baru saja kuletakkan di rak jati. Benar-benar ingatan yang masih hangat. Aku menelan cireng di mulutku buru-buru sebelum meledak keluar.
Komedi Hidup di Sela-sela Hari
Di media sosial sempat beredar video orang yang enggan nikah muda karena takut nanti status WhatsApp-nya berisi update “cireng ready y bund”. – Menua dengan Gembira halaman 2.
Tiga hari yang lalu, buku Menua dengan Gembira ini masih ada di pangkuanku. Aku ingat membacanya sambil menunggu bocah bermain rumah balon saat berkunjung ke kota Bung Karno. Pukul sepuluh siang lebih sedikit, aku baru saja membuka cover plastiknya. Dan dalam hitungan detik, sudah dibawa pada humor-humor getir buku esai itu.
Mulai dari perkara cireng di grup WhatsApp ibu-ibu kompleks, yang tentu membuatku membayangkan Mbak Anna dan cirengnya sampai perkara hidup sehari-hari yang rasa-rasanya jarang kupikirkan.
Di bawah pohon rimbun di Kebun Rojo (sebuah taman di kota itu) dadaku meremang sambil sesekali berseloroh, “iya juga sih. Tapi mau bagaimana lagi.” atau sesekali menanggapi hal-hal yang terlalu dekat dengan lingkungan sosialku.
Sepuluh menit kemudian tetangga saya menyahut, barusan Dokter Amin mengirim WA: yang bersangkutan tidak kena corona, melainkan dirawat karena kecapean saja….
Lantas bagaimana dengan RSIA yang diisolasi?
“Itu foto klinik di Bojonggede,” jelas Dokter Amin. “Disegel karena menjadi tempat aborsi. Kasus lama itu, sudah lima tahun lalu. Warna kliniknya memang mirip dengan rumah sakit kami.” – Menua dengan Gembira halaman 63
“Ya, begitulah ibu-ibu kompleks. Sering share-share yang belum tentu benar,” kataku sambil geleng-geleng. Jam saat itu, masih belum tengah hari, tak terasa sudah setengah buku. Ketika si bocah datang mendekat ke arahku, meminta segelas air, Glek glek! Sungguh lucu suara yang terdengar. Barangkali juga aku tak sadar ada suara tawaku yang tak terdengar dari sisa komedi di sela-sela buku.
Gembira di Sela-sela Kompromi dan Negosiasi
Kukira setelah minum si bocah hendak meminta pulang. Tapi, rasanya dia masih nyaman bermain di rumah balon itu. “Ya sudah lima belas menit lagi ya. Setelah itu pulang,” izinku padanya.
Namanya bocah. Mereka kadang mudah akrab dengan siapa saja, bahkan pada teman yang baru dikenalnya. Kubuka lagi buku yang terjeda. Halaman 65. Sesekali kepalaku manggut-manggut.
Gimana tidak? Aku jadi teringat perilakuku sendiri di era Covid saat itu yang doyan berselancar sampai merasa stress karena banyak menemui berita-berita kurang sedap soal covid (mereka menyebutnya doom-surfing). Panik dan lagi-lagi overthinking. Lalu sebagai pelarian, aku akan mencari buku-buku self-help yang tidak bisa diberikan media sosial atas algoritmanya akan produktivitas. Bisa kukatakan buku-buku self-help masa itu menjadi antitesis darinya. Anti-produktivitas dan anti-flexing.
Tren penggunaan media sosial yang sangat tinggi rasanya juga turut berkontribusi bagi larisnya buku-buku self-help anti-produktivitas ini. – Menua dengan Gembira halaman 73
Aku mengipasi diriku. Bukan karena aku merasa panas dengan buku yang kubaca, tapi terlebih soal cuaca kota Blitar yang panas. Kurasa mendung belum sampai di kota ini. Di tengah gerakan tanganku yang mendinginkan suhu tubuh dengan buku itu, kuperhatikan sekali lagi bocah yang sedang bermain. Kepalaku sedikit kumiringkan, saat melihat rumah balon yang bergerak-gerak. Gerakannya tak beraturan, tapi membuatku jadi membayangkan, apakah rumah balon itu senang karena anak-anak bermain di atasnya?
Cukup lama pikiran tentang gerakan rumah balon itu menggantung di kepala. Cukup aneh, apa yang sebenarnya mengganjal saat itu. Pertanyaannya bahkan sampai kubawa pulang ke Malang.
Setelah tiga hari, tepat pada kata-kata cireng ready terbaca, barulah gerakan rumah balon itu merepresentasikan bahwa kadang gembira datang ketika kita bisa bercerita dan berusaha menikmati segala kompromi hidup. Ya, mirip-mirip rumah balon yang tetap bergerak meski ada beban di atasnya.
Barangkali aset terbesar negara ini adalah orang-orang yang cukup berbahagia dengan jajan di pasar malam, ngobrol ngalor ngidul sambil minum kopi instan dan membawa anak mereka naik odong-odong lima ribuan, sementara di atas sana semuanya berjalan seperti business as usual. – Menua dengan Gembira halaman 140
Jari bermain di atas layar. Pesan mbak Anna kubalas: nanti habis jemput bocah kuambil ya mbak. Terima kasih. Kububuhkan emoji tangan menangkup. Tanda terima kasih.
Setelahnya, satu cireng sisa kucelupkan dalam cocolan bumbu rujak sambil pikiran melanjutkan rasan-rasan kata menua dengan gembira.







