Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Teka-teki seringkali diartikan sebagai pernyataan atau pertanyaan yang memiliki makna ganda, menguji pengetahuan, logika, atau kreativitas. Bisa dalam bentuk matematika, bahasa, atau visual. Contohnya, teka-teki matematika seperti “banyak kunci tapi tak bisa buka pintu”, teka-teki bahasa seperti “panda apa yang bikin senang?”, atau teka-teki visual seperti “lilin yang dibawa ke ruang gelap lalu dibakar”. Teka-teki juga bisa merujuk pada masalah misterius yang belum terpecahkan.
Terkait dengan “teka-teki produksi beras 2026”, jawabannya bisa merujuk pada target produksi beras Indonesia tahun 2026 sebesar 33,8 juta ton, seperti yang disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Target ini lebih tinggi dari produksi beras 2025 yang mencapai 32 juta ton. Namun, “teka-teki produksi beras 2026” juga bisa menjadi pertanyaan tentang bagaimana mempertahankan hasil produksi beras yang telah dicapai.
Pencapaian produksi beras 2025 terbukti jauh di atas target. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton. Angka ini lebih tinggi sekitar 2,7 juta ton dari target 32 juta ton. Padahal, produksi beras 2024 dilaporkan BPS sekitar 30,34 juta ton, turun 757,13 ribu ton atau 2,43 persen dibandingkan produksi beras 2023 yang sebesar 31,10 juta ton. Ada data lain yang menyebutkan produksi beras 2024 mencapai 30,62 juta ton, dengan penurunan 480,04 ribu ton atau 1,54 persen dari tahun sebelumnya.
Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk dampak El Nino pada semester II 2023 yang membuat musim tanam mundur. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis bahwa produksi beras akan terus meningkat berkat upaya peningkatan produksi melalui pompanisasi dan ketersediaan pupuk. Optimisme ini terbukti pada 2025, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan kisah sukses Indonesia berhasil meraih swasembada beras.
Pencapaian ini membanggakan dan membantu Indonesia menjadi “raja beras” di lingkup negara-negara ASEAN. Namun, pertanyaan kritisnya adalah, bagaimana dengan produksi beras nasional 2026?
Apakah swasembada beras yang dicapai pada 2025 bisa dijaga dan dilestarikan hingga 2026? Apakah Indonesia masih berhak menyandang atribut negeri yang berswasembada beras? Selain itu, apakah Indonesia mampu menjadi bangsa yang berhasil mewujudkan swasembada beras berkelanjutan, sekaligus memupus sifat swasembada beras “on trend”? Berbagai pertanyaan ini perlu dijawab secara optimistis.
Salah satu langkah yang perlu ditempuh adalah menjadikan strategi yang telah digunakan pada 2025 sebagai dasar untuk meningkatkan produksi beras pada 2026. Masalahnya, apakah pemerintah tetap menjadikan swasembada beras sebagai prioritas utama dalam mencapai swasembada pangan, atau justru beralih ke komoditas pangan lain yang belum swasembada? Ini adalah pilihan yang sulit jika ingin memuaskan semua pihak.
Di tengah tantangan tersebut, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam mewujudkan swasembada beras 2026. Di antaranya:
- Perubahan iklim: Cuaca ekstrem dan tak terduga dapat memengaruhi produksi beras. Perlu penyempurnaan manajemen air serta infrastruktur irigasi yang memadai.
- Penerapan teknologi dan infrastruktur: Teknologi modern dan infrastruktur pertanian yang memadai sangat penting untuk meningkatkan produksi dan efisiensi.
- Ketersediaan lahan: Luas lahan pertanian yang terbatas dan persaingan dengan kebutuhan lain seperti permukiman dan industri.
- Regenerasi petani: Minat generasi muda menjadi petani rendah, serta kurangnya insentif yang kompetitif.
- Stabilitas harga dan distribusi: Menjaga stabilitas harga dan distribusi beras yang efektif agar ketersediaan pangan terjamin.
Problemnya semakin rumit jika dikaitkan dengan pandangan bahwa mempertahankan keberhasilan lebih sulit daripada meraihnya. Itu sebabnya, swasembada beras yang kita capai pada 1984 dan 2023 selalu sulit dilestarikan. Kita terjebak dalam swasembada beras “on trend”. Namun, dengan strategi yang tepat, seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, serta dukungan pemerintah, Indonesia optimistis dapat mencapai swasembada beras 2026.
Strategi yang diterapkan pemerintah antara lain:
- Meningkatkan serapan gabah dan beras.
- Mengoptimalkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
- Gerakan Pangan Murah (GPM) yang difokuskan di wilayah dengan kuantum panen rendah.
- Mendukung infrastruktur pertanian.
- Menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan panen raya padi antara lain:
- Cuaca yang baik.
- Luas tanam.
- Produktivitas.
- Penyuluhan pertanian berkualitas.
Dengan strategi dan faktor-faktor tersebut, diharapkan panen raya padi Februari-April 2026 berjalan sukses. Jika panen raya ini sukses, kita boleh optimistis bahwa swasembada beras 2026 akan terwujud. Namun, jika produksi beras hasil panen raya tidak sesuai target, tentu perlu dicari langkah lain dengan memanfaatkan waktu yang tersisa. Tetap optimistis!







