Keindahan dan Manfaat Jalan Jengkol-Tlogo di Wonosobo
Suasana pagi hari di jalan baru penghubung Desa Jengkol dan Desa Tlogo, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo begitu menenangkan. Kendaraan roda empat melaju pelan di atas jalan beton yang membelah kawasan pertanian warga. Di kanan dan kiri, hamparan sayuran lahan utama penghidupan masyarakat terbentang mengikuti kontur tanah. Dari atas jembatan dengan pembatas tinggi, Sungai Serayu mengalir di bawahnya, menjadi penanda alam yang selama ini sulit dijangkau kendaraan.
Jalan ini berada di ketinggian, namun meski berkelok, jalurnya tidak begitu ekstrem. Tanjakan dan turunan terasa wajar, khas wilayah pegunungan, tanpa tikungan tajam yang menyulitkan. Dari beberapa titik, perbukitan hijau dan pemukiman warga terlihat jelas, menghadirkan pemandangan terbuka yang sebelumnya hanya bisa dinikmati pejalan kaki atau pengendara motor.
Inilah Jalan Jengkol-Tlogo, akses baru yang kini menjadi jalur alternatif penting di kawasan wisata Wonosobo. Dulu Jalan Setapak, Kini Jalan Beton Lebar
Jalan yang dulu hanya berupa jalur sempit bahkan sebagian masih berupa ladang kini berubah menjadi infrastruktur berbeton yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Bagi warga Desa Tlogo, perubahan ini terasa nyata. Selama bertahun-tahun, mobilitas warga bergantung pada jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Kendaraan roda empat nyaris tak punya ruang, terutama saat membawa hasil panen atau kebutuhan pertanian.
Basirun Sugiarto, salah satu warga, menyebut perubahan paling mendasar adalah soal akses. “Yang tadinya ladang belum bisa pakai kendaraan roda empat sekarang bisa,” ungkapnya, Senin (26/1/2026). Namun, bagi warga, jalan ini bukan tanpa catatan. Basirun mengungkapkan masih ada kekurangan yang dirasakan, terutama terkait drainase. Sebagian saluran air masih bersifat sementara dan mengalir ke lahan warga, bahkan berpotensi merugikan saat musim hujan. Meski demikian, rasa syukur tetap menjadi sikap utama warga.
“Kita sebagai warga Tlogo masih merasa berterima kasih kepada pemerintah daerah Wonosobo yang telah membangun jalan ini,” ungkapnya. Sebagai warga yang sering melintas, Basirun juga melihat fungsi jalan ini dalam konteks wisata. Ia menyebut, kawasan ini termasuk wilayah wisata yang ramai, terutama saat akhir pekan dan hari libur. Sebelumnya, kemacetan kerap terjadi karena jalan utama sempit dan terbatas.
“Kalau hari-hari libur kita sering kena macet dari desa,” sebutnya. Dengan hadirnya jalan baru, arus kendaraan mulai terurai dan mobilitas menjadi lebih lancar.
Urai Kemacetan Wisata, Juga Jadi Jalur Pertanian
Kepala Dusun Tlogo, Ahmad Mahmudin, menyebut jalan ini sejak awal dirancang sebagai jalur alternatif untuk mengurai kemacetan menuju kawasan wisata. Namun, manfaat terbesarnya justru dirasakan warga dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Sebelumnya, distribusi pupuk dan hasil panen hanya mengandalkan sepeda motor. Kini, kendaraan roda empat bisa langsung menjangkau lahan pertanian.
Hal ini memudahkan petani membawa pupuk dalam jumlah besar sekaligus mengangkut hasil panen sayuran tanpa harus bolak-balik. “Yang tadinya hanya jalan setapak hanya dilalui motor sekarang bisa dilalui roda empat,” ucapnya. Menurut Mahmud, jalan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur wisata, tetapi juga menjadi jalur produksi pertanian yang vital.
“Selain jalur wisata juga untuk jalur pertanian,” lanjutnya. Namun, Mahmud mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pembangunan, melainkan pemeliharaan. Ia menilai, infrastruktur yang sudah baik bisa cepat rusak jika saluran air dan lingkungan sekitar tidak dirawat. Selain itu, kebutuhan penerangan jalan juga menjadi perhatian. Jalan yang panjang dan lebar ini dinilai memerlukan lampu penerangan demi keamanan pengguna, terutama pada malam hari.
Harapan Peningkatan Ekonomi Warga
Pemerintah Desa Jengkol, menyebut jalan ini menjadi jawaban atas harapan lama masyarakat. Kepala Desa Jengkol, Asrof, mengatakan jalan penghubung Jengkol-Tlogo telah lama dicita-citakan sebagai akses utama antarwilayah. “Itu jalan utama penghubung antara Desa Jengkol dan Tlogo,” ungkapnya. Sebelum jalan ini dibangun, akses yang sulit membatasi pergerakan warga, baik untuk kegiatan ekonomi maupun sosial.
Kini, kondisi tersebut berubah. Jalan yang lebih lebar dan aman memudahkan warga mengangkut hasil panen sayuran dan kebutuhan usaha tani. “Sekarang Insyaallah sudah mudah, gampang, aman, dan bisa dimanfaatkan warga,” ucapnya. Asrof melihat jalan ini sebagai pintu masuk bagi peningkatan ekonomi desa. Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkannya lebih jauh, termasuk untuk pengembangan rest area atau potensi wisata baru yang digerakkan oleh warga sendiri.
“Mudah-mudahan masyarakat punya inisiatif inovatif untuk memanfaatkan jalan itu untuk perekonomian warga,” harapnya.
Tekankan Antisipasi Bencana dan Perawatan Infrastruktur
Jalan Jengkol-Tlogo memiliki panjang sekitar 1,2 kilometer dan dilengkapi jembatan sepanjang 12 meter. Total anggaran pembangunan jalan ini mencapai sekitar Rp8 miliar. Pembangunan Jalan Jengkol-Tlogo bukan sebagai proyek pembukaan akses baru saja, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pengaturan mobilitas kawasan wisata di Wonosobo.
Di waktu yang berbeda, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menjelaskan bahwa jalan tersebut sebenarnya telah siap dibuka dan tinggal menunggu peresmian resmi oleh Bupati Wonosobo. “Jalan Jengkol-Tlogo nanti sudah dibuka dan Pak Bupati menghendaki nanti akan ada event sebagai puncak peresmiannya, event slow runner atau fun run,” ujar Adin, Rabu (21/1/2026).
Peresmian ini dimaksudkan untuk mengenalkan akses baru menuju kawasan wisata Telaga Menjer yang kini dapat ditempuh dengan jarak lebih dekat. Di luar fungsi akses, Adin juga menyoroti tantangan besar yang melekat pada hampir seluruh wilayah Wonosobo, yakni potensi kebencanaan, khususnya longsor. Ia menegaskan, persoalan kerawanan tidak hanya berada di satu titik atau satu ruas jalan.
“Sebenarnya di hampir seluruh Kabupaten Wonosobo, peta kerawanan bencana, hampir 75 persen berada pada rawan longsor sedang,” katanya. Menurutnya, titik-titik rawan longsor tersebar di banyak wilayah, terutama pada tebing-tebing dengan kemiringan tinggi. Jalan Jengkol-Tlogo, bukan satu-satunya ruas yang memiliki risiko tersebut.
“Titik rawan tidak hanya di Jengkol-Tlogo, misalnya di Watumalang, titik-titik rawan longsor memang ada di wilayah kita,” imbuhnya. Secara teknis, pemerintah daerah berupaya melakukan pencegahan melalui perencanaan konstruksi dan penguatan struktur. Namun, ia menekankan bahwa risiko bencana tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan hanya dengan intervensi pemerintah.
Karena itu, ia menyebut peran masyarakat, terutama dalam menjaga saluran air agar tetap berfungsi dengan baik, khususnya saat memasuki musim hujan pertama setelah pembangunan. “Kami titip saluran-saluran, karena saluran mampet yang menyebabkan terjadinya longsor,” ungkapnya. Ia mendorong masyarakat untuk melakukan kerja bakti rutin, membersihkan saluran yang tersumbat, dan segera melaporkan jika ada kondisi yang membutuhkan penanganan lebih besar.
“Kalau sudah tidak bisa dilakukan secara masyarakat harus butuh tenaga yang banyak, tenaga peralatan kami siap,” tegasnya. Dengan pendekatan tersebut, Adin berharap infrastruktur yang telah dibangun termasuk di Jalan Jengkol-Tlogo tidak hanya berfungsi dalam jangka pendek, tetapi juga dapat bertahan dan memberi manfaat jangka panjang bagi warga.







