Menghemat Token Listrik Rp 100.000 untuk Anak Kos
Anak kos sering mengeluh bahwa token listrik senilai Rp 100.000 terasa cepat habis, terutama jika penggunaan listrik tidak terkontrol. Namun, dengan pengaturan yang tepat, nominal tersebut bisa bertahan lebih dari satu bulan. Penghematan listrik tidak selalu berarti harus mengurangi kenyamanan atau aktivitas sehari-hari. Beberapa langkah sederhana justru bisa membuat token listrik lebih awet hingga lebih dari 45 hari.
Hitungan Kebutuhan Listrik Anak Kos
Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, menjelaskan bahwa penghematan listrik sebenarnya bisa dilakukan tanpa mengurangi kenyamanan maupun aktivitas sehari-hari. “Untuk anak kos dengan beban pemakaian standar, kebutuhan listriknya sekitar 1,45 kWh per hari,” ujar Toto pada Sabtu (20/12/2025).
Sebagai ilustrasi, jika sebuah kamar kos memiliki daya 900 VA di wilayah Jakarta, tarif listrik per Desember 2025 tercatat sebesar Rp 1.352 per kWh. Selain itu, pembelian token juga dikenakan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sebesar 2,4 persen. Dengan perhitungan tersebut, token listrik Rp 100.000 akan dikonversi menjadi sekitar 72,19 kWh.
Perhitungannya sebagai berikut:
(Rp 100.000 – 2,4 persen PPJ) ÷ Rp 1.352
Rp 97.600 ÷ Rp 1.352 = 72,19 kWh
Jika konsumsi harian berada di kisaran 1,45 kWh, token Rp 100.000 secara teoritis dapat bertahan hingga sekitar 49 hari.
Biasakan Mematikan Alat Elektronik
Menurut Toto, langkah paling mendasar untuk menghemat listrik adalah mengubah kebiasaan penggunaan peralatan elektronik. “Intinya, semua alat yang tidak digunakan sebaiknya dimatikan,” kata dia.
Ia mencontohkan kipas angin atau lampu yang kerap dibiarkan menyala saat penghuni kos keluar kamar. Kebiasaan sederhana ini, jika terus dilakukan, bisa membuat token listrik terkuras lebih cepat.
Pilih Perangkat Berlabel Hemat Energi
Selain kebiasaan, pemilihan peralatan elektronik juga berpengaruh besar terhadap konsumsi listrik. Toto menyarankan agar anak kos menggunakan perangkat yang sudah berlabel efisiensi energi. Saat ini, peralatan elektronik umumnya dilengkapi stiker bintang berwarna hijau sebagai penanda tingkat efisiensi.
“Semakin banyak bintangnya, semakin hemat energi. Yang paling efisien biasanya bertanda lima bintang,” ujarnya. Dengan peralatan hemat energi, konsumsi listrik dapat ditekan tanpa mengorbankan fungsi maupun kenyamanan.
Waspadai Alat Elektronik yang Sudah Rusak
Toto juga mengingatkan agar tidak menggunakan peralatan elektronik yang sudah mengalami kerusakan, meski masih bisa berfungsi setelah diperbaiki. “Peralatan yang mesinnya dililit ulang biasanya efisiensinya menurun, sehingga listrik yang dikonsumsi justru lebih besar,” jelasnya.
Namun, jika kerusakan hanya pada komponen elektronik tertentu dan diganti dengan spesifikasi yang sama, konsumsi listrik umumnya tidak mengalami perubahan signifikan.







