Pengumuman Trump tentang Kesepakatan Masa Depan dengan Greenland
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai “kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland.” Pernyataan ini disampaikan pada Rabu lalu dan menjadi kejutan setelah terjadi peningkatan ketegangan diplomatik selama berminggu-minggu sebelumnya. Trump sempat melontarkan ancaman untuk menggunakan kekuatan militer guna merebut wilayah semi-otonom milik sekutu NATO, Denmark. Ia juga mengancam akan memberlakukan tarif impor yang berat bagi negara-negara NATO jika keinginannya untuk mencaplok Greenland tidak dipenuhi.
Pertemuan antara Trump dan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 21 Januari lalu, menjadi momen penting dalam pengumuman tersebut. Trump menyampaikan pengumuman resmi itu melalui platform media sosial, Truth Social. Meskipun tidak memberikan penjelasan rinci tentang kerangka kesepakatan tersebut, ia menyatakan bahwa pembicaraan akan terus berlanjut untuk mencapai kesepakatan tersebut.
Perspektif dari Denmark dan Greenland
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa dirinya tidak membahas isu utama mengenai kedaulatan Denmark atas Greenland dalam pertemuannya dengan Trump. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menegaskan bahwa meskipun Denmark dapat menegosiasikan banyak hal, mereka “tidak dapat menegosiasikan kedaulatan.” Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, juga menyatakan bahwa kedaulatan adalah “garis merah.”
Nielsen mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui detail dari kesepakatan yang sedang dibahas itu. Menurut laporan surat kabar New York Times, salah satu ide yang muncul adalah Denmark menyerahkan kedaulatan atas wilayah kecil di Greenland untuk pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat. Pengaturan ini disebut mirip dengan status dua pangkalan militer di Siprus, yang tetap berada di bawah kedaulatan Inggris sejak Siprus merdeka pada 1960.
Namun, belum jelas bagaimana model tersebut dapat diterapkan jika Denmark dan Greenland sama-sama menolak untuk melepaskan kedaulatan mereka.
Ancaman dari China dan Rusia
Dalam argumennya untuk menguasai Greenland, Trump telah menyinggung ancaman dari kapal-kapal China dan Rusia di sekitar pulau itu, meskipun Denmark menyatakan bahwa tidak ada ancaman “saat ini.” Sekutu-sekutu NATO telah mencoba meyakinkan AS bahwa mereka akan meningkatkan keamanan di Arktik. Mark Rutte menyatakan bahwa kerangka kesepakatan tersebut juga akan mewajibkan kontribusi ini.
“Saya tidak ragu, kita dapat melakukan ini dengan cukup cepat. Tentu saya berharap pada tahun 2026, bahkan saya harap awal tahun 2026,” ujar Rutte. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, berkata bahwa Inggris telah menyerukan pembentukan Arctic Sentry (Penjaga Arktik) yang “sangat mirip dengan pendekatan yang diambil NATO terhadap Baltic Sentry”—sebuah misi untuk meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal di Laut Baltik.
Alternatif Kesepakatan Selain Kepemilikan
Berdasarkan perjanjian pada 1951 dengan Denmark, AS memiliki wewenang untuk mengirim pasukan dalam jumlah tak terbatas ke Greenland. Saat ini, AS telah menempatkan lebih dari 100 personel militer secara permanen di pangkalan Pituffik, yang terletak di ujung barat laut pulau itu. Menurut keterangan sejumlah pejabat AS, diskusi untuk mencapai kesepakatan baru kemungkinan akan berpusat pada renegosiasi perjanjian tahun 1951.
Namun, proses negosiasi ini terus dibayangi oleh desakan Presiden Trump yang tetap ingin “memiliki” Greenland. Jika Trump memaksakan kehendaknya, selain harus melampaui “garis merah” terkait kedaulatan, para negosiasiator juga perlu menemukan solusi atas larangan konstitusional terhadap penjualan tanah di Greenland.
Alasan Trump Menginginkan Greenland
Presiden Trump menyatakan bahwa Greenland merupakan bagian penting dalam rencananya membangun sistem pertahanan Golden Dome, yang dirancang untuk melindungi Amerika Serikat dari serangan rudal Rusia dan China. Trump juga menambahkan bahwa sekutu-sekutu Eropa dapat bekerja sama dalam upaya tersebut.
Namun di sisi lain, Greenland menyimpan cadangan mineral langka yang sangat besar dan sebagian besar belum dimanfaatkan. Banyak dari mineral tersebut sangat krusial bagi berbagai teknologi, termasuk ponsel genggam dan kendaraan listrik. Meskipun Trump tidak secara eksplisit menyatakan bahwa AS mengincar kekayaan di Greenland, dia menegaskan bahwa kendali AS atas pulau tersebut “menempatkan semua pihak dalam posisi yang sangat baik, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan mineral.”








