Perselisihan antara Denada dan Ressa Memanas
Perselisihan antara penyanyi Denada dengan seorang pemuda yang mengklaim sebagai putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano (24), memasuki babak baru yang semakin memanas. Kedua belah pihak saling melemparkan klaim terkait tanggung jawab nafkah dan pola asuh yang selama ini dijalani.
Kuasa hukum Denada, Muhammad Iqbal, secara tegas menyatakan bahwa kliennya tidak pernah tidak mengakui Ressa sebagai putra kandungnya. Menurutnya, selama ini Denada telah menjalankan kewajiban sebagai orang tua dengan memenuhi segala kebutuhan fasilitas Ressa. “Ressa ini bukan hanya sekadar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, dan difasilitasi,” ujar Iqbal.
Ia juga menyebut, Ressa di kampung halamannya, di Banyuwangi, ternyata tergolong hidup mewah bahkan hedon. “Hidupnya tergolong mewah atau hedon untuk standar lokal,” ucapnya. Iqbal menambahkan bahwa kliennya bahkan memberikan fasilitas mobil pribadi untuk menunjang mobilitas harian pemuda tersebut.
Menanggapi isu miring yang menyebut Ressa dijadikan sopir pribadi oleh Denada dan almarhumah Emilia Contessa dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan, Iqbal memberikan pembelaan. Ia menilai hal tersebut bukan bentuk eksploitasi, melainkan metode pendidikan karakter. “Kita ambil segi positif ya, itu pendidikan supaya anak ini tidak manja,” ucapnya. Bahkan ia mengklaim gaji yang diberikan untuk Ressa sebagai sopir termasuk besar di daerah Banyuwangi. “Gaji Rp 2,5 juta di Banyuwangi itu sudah besar. Jadi, saat orang tua memberikan pendidikan seperti itu, tujuannya agar anak tidak hanya sekadar meminta kepada orang tua,” jelasnya.
Pihak Ressa Tantang Bukti di Persidangan
Klaim kemewahan tersebut dibantah keras oleh pihak Ressa. Kuasa hukum Ressa, Ronald Armada, menyebutkan kliennya justru mengalami kesulitan ekonomi hingga harus putus kuliah di semester empat karena ketiadaan biaya. Ronald pun menantang pihak Denada untuk membuktikan semua klaim nafkah dan fasilitas tersebut di hadapan majelis hakim. “Yang katanya memberikan nafkah, mobil, hingga rumah, silakan dibuktikan di pengadilan. Kami sekarang menutup pintu damai dan siap bertarung di persidangan,” tegas Ronald.
Kini pihak Ressa menyatakan menutup pintu damai. Pasalnya pihak Denada terus bergeming dari upaya-upaya damai yang telah coba ditawarkan, termasuk mediasi melalui video call yang ditawarkan oleh PN Banyuwangi pun tak ditanggapi. “Sekarang pintu saya terbuka untuk bermain di ranah persidangan, yang kita harus fight. Kalau fight, ada yang jatuh ada yang tidak,” tegas Ronald.
Meski begitu, Ressa masih berharap ibunya berbicara langsung bahwa ia adalah anak kandungnya, bukan dari mulut orang lain. “Saya maunya pengakuan itu tidak melalui kuasa hukum, tapi dari mbak Dena sendiri,” ujarnya.
Denada Pilih Tutup Mulut
Mengenai alasan Denada diam, Iqbal menyebut Denada sengaja mengambil langkah tutup mulut demi menghormati proses hukum di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Selama masa mediasi, Denada berharap suasana tenang agar kedua belah pihak bisa saling introspeksi diri tanpa tekanan. “Memang dalam mediasi saya mengutamakan untuk masa tenang. Kepenginnya para pihak ini introspeksi diri, terus timbul inisiatif untuk saling berkomunikasi sehingga ketemu titik damainya,” kata Iqbal.







