Prioritas Kerja Sama Energi Nuklir antara Indonesia dan Slovakia
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu) menegaskan bahwa isu energi, khususnya energi nuklir, menjadi salah satu prioritas utama dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Slovakia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Grata Endah Werdaningtyas, usai pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI dan Menlu Slovakia.
Grata menjelaskan bahwa ketahanan energi dan transisi energi menjadi agenda strategis bagi Indonesia. Dalam konteks tersebut, Slovakia dinilai memiliki kapasitas penting yang relevan dengan kebutuhan Indonesia, terutama dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Ia menekankan bahwa kerja sama nuklir tidak hanya terbatas pada pembangunan PLTN, tetapi juga mencakup aspek krusial seperti pengamanan, keselamatan, dan pengelolaan pasca-operasional pembangkit.
Pertemuan kedua Menlu juga membahas peningkatan hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi, dengan menempatkan kerja sama energi nuklir sebagai salah satu sektor prioritas yang konkret dan dapat segera diimplementasikan.
1. Safeguard jadi isu kunci kerja sama nuklir
Grata menjelaskan bahwa Slovakia memiliki keunggulan bukan hanya dalam pengembangan PLTN, tetapi juga dalam aspek pengamanan nuklir. “Slovakia adalah salah satu negara yang memiliki kapasitas bukan saja pengembangan PLTN, tapi mereka punya spesifik kapasitas untuk safeguard,” ujar Grata di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan bahwa dalam isu nuklir, safeguard merupakan aspek paling penting. “Karena untuk isu nuklir itu paling penting kan isu safeguard,” katanya. Safeguard mencakup berbagai mekanisme pengawasan untuk memastikan pemanfaatan energi nuklir dilakukan secara aman, damai, dan sesuai dengan ketentuan internasional.
Menurut Grata, tidak semua negara memiliki kapasitas tersebut secara komprehensif, sehingga keahlian Slovakia menjadi nilai tambah dalam potensi kerja sama dengan Indonesia.
2. Keahlian decommission PLTN turut jadi perhatian

Selain safeguard, Grata menyoroti keahlian Slovakia dalam decommission atau penutupan PLTN. “Yang menarik juga mereka punya ekspertis untuk isu decommission,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penutupan PLTN justru memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan pembangunan. “Orang bilang membangun PLTN mudah, tapi menutup PLTN itu challenge-nya berbeda,” kata Grata. Tantangan tersebut meliputi isu keselamatan, pengelolaan limbah nuklir, dan pengamanan setelah pembangkit berhenti beroperasi. “Isu safeguard, isu limbah, dan isu safety begitu PLTN menutup itu menjadi salah satu isu penting,” jelasnya.
Grata menambahkan bahwa bahkan di Eropa, tidak semua negara memiliki kapasitas decommission yang memadai. Karena itu, topik ini akan menjadi salah satu pembahasan penting dalam kerja sama lanjutan Indonesia dan Slovakia.
3. Kerja sama nuklir untuk peningkatan hubungan strategis

Dalam pertemuan kedua Menlu, juga dibahas upaya meningkatkan hubungan bilateral Indonesia–Slovakia ke level yang lebih tinggi. “Ada upaya juga untuk meningkatkan elevasi hubungan Indonesia dan Slovakia dalam bentuk strategic partnership,” kata Grata.
Namun demikian, kedua Menlu sepakat bahwa peningkatan hubungan tersebut harus disertai program kerja yang konkret. “Kedua Menteri sepakat elevasi kedalaman hubungan bilateral, perlu memiliki program kerja yang lebih konkret,” ujarnya. Untuk itu, disepakati pembahasan teknis akan dilakukan oleh tim teknis dari kedua negara. “Kedua Menteri jadi juga sepakat untuk tim teknis melakukan pembahasan secara teknik,” kata Grata.
Ia menekankan bahwa kerja sama akan difokuskan pada sektor-sektor yang terbatas namun nyata manfaatnya. “Sektornya harus konkret, memberikan manfaat kepada kedua rakyat, baik di Slovakia dan Indonesia, dan harus punya konkret untuk dilaksanakan,” ujarnya.
Selain energi nuklir, pembicaraan juga menyentuh kerja sama pertanian dan pertahanan. Namun, energi terutama nuklir, menjadi salah satu pilar utama dalam pembahasan, seiring kebutuhan Indonesia terhadap ketahanan dan keberlanjutan energi di masa depan.







