Tegangnya Hubungan AS-Iran dan Peringatan dari Rusia
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, yang berpotensi memicu reaksi berantai di kawasan Timur Tengah. Dalam situasi ini, Rusia secara jelas menyampaikan peringatan terkait bahaya intervensi militer, sementara sejumlah negara berdaulat bersatu mengecam tekanan Barat terhadap Teheran melalui forum internasional.
Vasily Nebenzya, Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, menegaskan bahwa solusi militer terhadap Iran “tidak dapat diterima, berbahaya, dan dapat memicu konsekuensi regional.” Ia mengkritik upaya Barat yang dinilai terus ‘menjelekkan’ Iran, termasuk melalui narasi tentang protes internal, tanpa mempertimbangkan dampak luasnya.
“Pada tanggal 15 Januari, atas permintaan Amerika Serikat, sebuah pertemuan Dewan Keamanan diselenggarakan, dan pernyataan delegasi Barat hanya berisi tuduhan terhadap Teheran,” kata Nebenzya.
“Namun kami dan sejumlah kolega konstruktif lainnya mengembalikan diskusi ke mandat utamanya: menunjukkan bahwa ancaman nyata berasal dari ancaman menggunakan kekerasan terhadap Iran dan campur tangan dalam urusan internalnya.”
Peringatan lebih tajam datang dari Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Ia menggambarkan Timur Tengah sebagai «ladang ranjau yang siap memicu reaksi berantai», di mana eskalasi AS-Iran bisa memicu ledakan tak terkendali.
“Terlalu banyak ranjau yang terkubur di sana, menunggu untuk meledak karena kecerobohan,” tegas Lavrov dalam wawancara dengan RT.
“Iran adalah mitra dan tetangga dekat kami. Kami peduli dengan perkembangan situasi, karena ini sangat berbahaya bukan hanya bagi Iran, tetapi juga bagi seluruh Timur Tengah.”
Lavrov menekankan bahwa Moskow tidak berupaya memaksakan kehendak, tetapi siap berperan konstruktif jika kedua pihak mencapai perjanjian damai. Namun nada peringatannya jelas: intervensi militer akan memicu kekacauan multi-dimensi.
Protes Internasional Atas Tekanan Barat
Di tengah tekanan politik terhadap Iran, Kelompok Sahabat Pembela Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis pernyataan tegas pada Rabu, mengecam langkah Uni Eropa yang dianggap melanggar hukum internasional. Dalam pernyataannya, kelompok ini:
- Mengutuk tuduhan tak berdasar terhadap Republik Islam Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang dibentuk secara konstitusional.
- Menolak pendekatan bermotivasi politik yang, menurut mereka, melanggar prinsip kesetaraan kedaulatan dan non-intervensi.
- Menyoroti bahaya preseden ilegal, seperti pemberian label «teroris» tanpa dasar, yang justru merusak upaya kontra-terorisme global.
“Tindakan ilegal tersebut menciptakan preseden berbahaya dan secara langsung merusak upaya kontra-terorisme yang tulus, sementara pada akhirnya melayani kepentingan jahat kelompok teroris,” tertulis dalam pernyataan tersebut.
Kelompok ini juga menghargai kontribusi Iran dalam memerangi terorisme di kawasan, termasuk perannya dalam mengalahkan ISIS/Daesh. Solidaritas mereka ditegaskan atas nama 17 negara anggota, di antaranya: Republik Islam Iran, Rusia, China, Aljazair, Kuba, Venezuela, Palestina, Nikaragua, Uganda, Belarus, Bolivia, Zimbabwe.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak berdiri sendirian dalam menghadapi tekanan Barat, sekaligus menguatkan narasi Moskow tentang perlunya hormati prinsip-prinsip PBB.
Perundingan di Muscat: Jembatan Tipis di Atas Api
Di tengah ketegangan itu, perwakilan AS dan Iran menggelar perundingan tertutup di Muscat, Oman. Upaya ini menjadi langkah terakhir untuk meredam konflik sebelum meledak, meski jurang perbedaan agenda kedua pihak tetap lebar. Isu kritis dalam perundingan:
- Pengayaan uranium: AS menuntut penghentian total, sementara Iran bertahan pada haknya atas tenaga nuklir sipil (mengacu pada NPT).
- Pencabutan sanksi: Teheran menjadikan ini syarat utama, namun Washington mengaitkannya dengan isu tambahan — seperti program rudal balistik dan dukungan kelompok militan.
- Keamanan regional: Israel dan sekutu AS mendesak agar isu keamanan (termasuk konflik dengan Hizbullah dan Houthi) dimasukkan dalam perjanjian.
Siapa yang akan ‘menang’?
Kata ‘menang’ dalam konteks ini harus dipahami secara relatif. Kedua pihak berada dalam posisi sulit:
- AS: Trump berhadapan dengan tekanan domestik untuk menunjukkan kekuatan, tetapi juga risiko escalasi yang bisa memicu perang luas. Kemenangan bagi AS mungkin berarti komitmen Iran membatasi pengayaan uranium, meski tanpa penghentian total.
- Iran: Dengan ekonomi yang tertekan sanksi, Teheran butuh pencabutan sebagian sanksi sebagai kemenangan minimal. Namun, ia tak bisa mengalah pada tuntutan AS yang dianggap merusak harkat nasional.
Oman, sebagai mediator, berusaha mencari formula kompromi, misalnya, Iran mengurangi pengayaan menjadi 20% dengan imbalan pelonggaran sanksi sektor tertentu. Namun, tanpa kebijaksanaan kedua belah pihak, perundingan ini bisa berakhir dengan ‘kekalahan bersama’ yakni eskalasi militer yang membakar seluruh wilayah.
Di Tepi Jurang, Tapi Masih Ada Harapan
Rusia dan anggota Kelompok Sahabat Pembela Piagam PBB secara konsisten mengirimkan dua pesan:
- Peringatan: Intervensi militer AS akan memicu reaksi berantai yang tak bisa dikendalikan, dengan dampak melampaui batas Iran-Israel.
- Penawaran: Jika kedua pihak bersedia berdialog, Moskow dan mitra-mitranya siap menjadi penengah, tetapi bukan sebagai pihak yang memaksakan solusi.
Perundingan di Muscat kini menjadi ujian kritis: apakah AS dan Iran mampu mengendalikan emosi dan menemukan titik temu, atau justru memilih jalan yang akan membakar Timur Tengah dalam api konflik berlarut-larut? Waktu semakin mendesak, dan setiap langkah keliru bisa menjadi pemicu bencana.







