Bali Berjuang Mencapai Status “Zero Blank Spot”
Bali, yang dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budaya, kini sedang berupaya keras untuk menembus dunia digital. Tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan kekentalan budaya, pulau ini kini membidik status baru: Bali Zero Blank Spot. Ambisi ini ditegaskan oleh Gubernur Wayan Koster, yang menekankan bahwa akses digital bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan hak dasar bagi seluruh warga Bali.
“Target harus jelas. Kami upayakan bersama agar Bali zero blank spot, dan sinyal menjangkau seluruh wilayah. Siaran TV juga harus bisa diterima masyarakat di seluruh Bali tanpa pengecualian,” kata Gubernur Koster dalam sebuah acara di Jayasabha beberapa waktu lalu.
Daya Tahan Ekonomi Bali yang Kuat
General Manager Witel Denpasar, Ismono Adi Jatmiko, menjelaskan bahwa Bali memiliki daya tahan ekonomi yang cukup kuat. Hal ini terlihat dari tingkat pengangguran yang paling rendah dibandingkan wilayah Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Timur. Pada Triwulan III–2025, ekonomi Bali tumbuh pesat sebesar 5,88 persen. Pertumbuhan ini berbanding lurus dengan penetrasi internet.
“Peningkatan 10 persen penetrasi broadband mampu mendongkrak pertumbuhan PDB per kapita sebesar 1,38 persen di negara berkembang,” ujarnya saat acara pelatihan jurnalistik di Denpasar.
Jaringan Internet yang Merata
Upaya ini didukung oleh jaringan internet yang semakin merata, dengan Telkom dan operator lain saling bersinergi menghadirkan layanan hingga ke desa-desa. Menurutnya, secara global, setiap peningkatan 10 persen penetrasi broadband mampu mendongkrak pertumbuhan PDB per kapita sebesar 1,38 persen di negara berkembang.
Dengan PDRB Bali yang kuat, transformasi digital menjadi mesin utama untuk menjaga daya tahan ekonomi lokal. Berdasarkan data BPS, sinyal 4G/LTE sebenarnya sudah memayungi 713 desa/kelurahan di Bali. Namun, tantangan berupa titik buta (blank spot) masih tersisa di celah-celah perbukitan dan pelosok pedesaan.
Solusi Digital untuk Wilayah Terpencil
“Di sinilah Telkom hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui implementasi layanan WiFi dan High Speed Internet (HSI),” katanya. Sebagai langkah konkret mendukung arahan “Bali No Blank Spot”, Telkom menginisiasi program WiFi WMS Voucher.
Inovasi ini dirancang menjadi solusi praktis bagi ruang publik yang belum terjangkau jaringan kabel permanen. Layanan ini bukan sekadar akses internet biasa. Keunggulannya yang tanpa biaya bulanan dan fleksibel membuatnya menjadi mitra strategis bagi wisatawan, pelaku UMKM hingga pengelola destinasi wisata.
Manfaat bagi Wisatawan dan UMKM
Wisatawan bisa berbagi pengalaman (real-time update) tanpa kendala sinyal. Memudahkan pelaku UMKM melakukan pemasaran digital dan transaksi nontunai (QRIS) serta meningkatkan kualitas layanan melalui digitalisasi ekosistem.
Salah satu bukti nyata implementasi ini adalah ajang Sanur Bali International Half Marathon. “Event ini menjadi proyek percontohan pertama penggunaan WiFi Voucher di kawasan wisata, membuktikan bahwa Bali siap mengawinkan olahraga, pariwisata, dan teknologi,” imbuhnya.
Kolaborasi dengan Komunitas
Menurut Ismono, mewujudkan Bali digital tidak bisa dilakukan sendiri. Telkom telah menggandeng empat komunitas besar untuk memperluas penetrasi WiFi di berbagai sektor, mulai dari perhotelan hingga daya tarik wisata. Upaya ini membuahkan hasil. Berdasar data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025, Bali sukses bertengger di peringkat ke-11 dari 38 provinsi.
Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa masyarakat Bali tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mulai menjadi pemain aktif dalam ekosistem digital.
Masa Depan Bali yang Terhubung
Ke depan, dengan infrastruktur digital yang merata, Bali tidak hanya akan dikenal karena pantai dan puranya. Pengembangan man-made events seperti konser internasional, kompetisi e-sports, hingga ajang olahraga dunia akan menjadi diversifikasi pariwisata baru yang didukung penuh oleh konektivitas tanpa putus.
Dari ujung barat di Jembrana hingga ujung timur di Karangasem, targetnya hanya satu: tidak ada lagi masyarakat yang terisolasi dari informasi. Karena bagi Bali, konektivitas adalah kunci untuk menjaga tradisi tetap lestari di tengah dunia yang terus berlari.







