Penundaan Peluncuran Mobil Listrik Peugeot, Masalah di Pabrik Baterai ACC
Stellantis, salah satu raksasa otomotif dunia yang berasal dari penggabungan FCA dan PSA, kini sedang menghadapi tantangan besar. Masalah ini tidak terkait dengan desain atau pemasaran mobil listrik, melainkan masalah teknis yang muncul dari komponen utama mobil tersebut: baterai. Penundaan peluncuran mobil listrik Peugeot menjadi isu yang menarik perhatian banyak pihak.
Masalah ini bukan sekadar gosip. Informasi ini datang dari sumber internal Stellantis. Pabrik baterai yang seharusnya menjadi solusi, justru menjadi biang keladi. Nama pabrik tersebut adalah Automotive Cells Company (ACC), sebuah usaha patungan besar antara Stellantis, TotalEnergies/Saft, dan Mercedes-Benz. Tujuan ACC adalah untuk memproduksi baterai Eropa di Eropa, agar dapat melepaskan diri dari dominasi Asia, khususnya China.
Pabrik ACC Jadi Biang Kerok
Pabrik ACC memiliki peran vital dalam rencana Stellantis untuk mengembangkan mobil listrik secara massal. Model-model penting seperti Peugeot e-3008 sebenarnya sudah siap diluncurkan. Namun, saat ini, produksi baterai dari ACC masih mengalami kendala. Masalahnya bukan pada dana atau rencana besar, tetapi lebih pada aspek teknis yang rumit.
Proses ramp-up produksi baterai ternyata lebih sulit dari yang diperkirakan. Mesin-mesin besar telah terpasang, tenaga kerja juga telah dilatih. Namun, kalibrasi dan sinkronisasi mesin belum sepenuhnya sempurna. Output baterai masih jauh dari target, dan kualitasnya pun belum stabil. Hal ini berdampak langsung pada rencana peluncuran mobil listrik.
Ambisi Baterai Eropa Terganjal
ACC menjadi simbol independensi Eropa dalam industri baterai. Uni Eropa sangat mendukung proyek ini dengan harapan memiliki rantai pasok baterai sendiri. Proyek ini dimulai dengan pembukaan pabrik pertama di Douvrin, Prancis, yang akan diikuti oleh pabrik-pabrik lain di Jerman dan Italia. Namun, jika pabrik pertama saja mengalami kendala, dampaknya bisa sangat fatal.
Seluruh peta jalan transisi EV Stellantis bisa berantakan. Ini bukan hanya soal mobil listrik, tetapi juga soal geopolitik industri. Jika ACC gagal, maka Eropa kehilangan kesempatan untuk menjadi pemain utama dalam pasar baterai global.
Kenapa Bisa Molor?
Membuat sel baterai lithium-ion adalah proses yang sangat rumit. Sensitivitas terhadap kelembaban, suhu, dan kebersihan sangat tinggi. Mesin yang digunakan juga memiliki presisi tinggi. Sedikit saja kesalahan, baterai bisa gagal total.
Di Douvrin, masalah muncul saat mereka mencoba meningkatkan volume produksi. Para insinyur harus bekerja ekstra untuk mencari tahu di mana sumbatan terjadi. Setiap hari penundaan berarti kerugian miliaran dan kepercayaan konsumen yang hilang.
Dampak Domino ke Peugeot dan Stellantis
Efek domino sudah terasa. Model Peugeot yang paling ditunggu, yaitu Peugeot e-3008, terpaksa mundur. Model ini merupakan crossover kunci, versi listrik dari model laris. e-5008 juga ikut terdampak.
Stellantis harus merevisi jadwal peluncuran. Mereka harus berhitung ulang, berapa unit yang bisa diproduksi dan kapan janji ke dealer bisa dipenuhi. Ini situasi yang sangat tidak nyaman bagi Carlos Tavares, CEO Stellantis.
Tavares dikenal tegas dan sangat berhati-hati dalam transisi EV. Ia selalu menekankan pentingnya profitabilitas. Sekarang, masalah kualitas dan suplai baterai ini mengancam profitnya.
Model yang Terdampak
Model-model Stellantis yang dibangun di atas platform STLA Medium adalah yang paling rentan. Platform ini dirancang khusus untuk EV. ACC adalah pemasok utamanya. Selain Peugeot, merek lain di bawah payung Stellantis juga terancam.
Bayangkan Opel/Vauxhall dan beberapa model Citroën. Mereka semua mengantre baterai dari ACC. Jika keran suplai tersendat, seluruh lini produksi bisa berhenti. Pabrik-pabrik perakitan mobil akan menganggur. Ini mimpi buruk manajemen rantai pasok.
Kekalahan di Medan Perang EV
Penundaan ini terjadi di waktu yang salah. Pasar EV semakin kompetitif. Tesla terus menekan harga, sementara pabrikan China seperti BYD dan Nio menyerbu Eropa dengan mobil berkualitas dan harga terjangkau. Stellantis butuh momentum. Mereka harus cepat.
Stellantis harus punya produk yang siap bersaing. Penundaan peluncuran berarti memberi waktu kepada pesaing. Konsumen bisa beralih. Mereka tidak akan menunggu selamanya. Ini adalah kekalahan kecil di medan perang yang besar. Tavares harus segera mencari solusi.
Masa Depan Baterai dan Transisi EV
ACC berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Upaya keras mereka lakukan. Targetnya adalah menstabilkan produksi, lalu meningkatkan volume secepat mungkin. Eropa membutuhkan ACC. Stellantis membutuhkan ACC.
Kegagalan di sini bisa jadi pelajaran pahit. Bahwa transisi ke mobil listrik tidak hanya soal membuat mobil, tetapi juga soal menguasai teknologi baterai. Itu adalah jantung dari revolusi EV. Siapa yang mengontrol baterai, dia yang mengontrol masa depan otomotif.
Penundaan ini adalah pengingat bahwa jalan menuju elektrifikasi penuh masih berliku. Ada jurang teknis yang harus diseberangi. Ada tantangan rantai pasok yang harus ditaklukkan. Stellantis harus segera berlari kencang lagi, sebelum ketinggalan jauh di belakang.







