Kota Malang Menjadi Contoh Toleransi Antar Umat Beragama
Kota Malang terkenal tidak hanya sebagai kota pendidikan, tetapi juga sebagai tempat yang penuh dengan toleransi antar umat beragama. Hal ini terlihat jelas menjelang perayaan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah persiapan besar-besaran untuk acara tersebut, masyarakat di Kota Malang menunjukkan sikap saling menghormati dan bersatu.
Kantor Majelis Agung GKJW Jadi Tempat Transit bagi Jemaah NU
Salah satu contoh nyata dari toleransi ini adalah keberadaan Kantor Majelis Agung GKJW Wilayah Jawa Timur di Jalan S Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Lokasi ini menjadi titik transit bagi ratusan jemaah Nahdliyin asal Surabaya sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Stadion Gajayana, pada Sabtu (7/2/2026).
Banyak bus yang datang dari Surabaya Raya dan sekitarnya singgah di lokasi ini. Para jemaah tampak antusias dan merasa nyaman selama beristirahat. Mereka bisa menikmati konsumsi gratis serta fasilitas toilet yang tersedia.
Koordinator PIC Jemaah Mengapresiasi Fasilitas yang Disediakan
Muhammad Thoriq, Koordinator PIC Jemaah Kecamatan Sukomanunggal Surabaya, menyampaikan bahwa Kantor Majelis Agung GKJW menjadi titik transit sementara sebelum rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke lokasi mujahadah.
“Seluruhnya yang sudah terkonfirmasi dari Surabaya ada 21 bus. Kami transit dulu di Kantor Majelis Agung GKJW Wilayah Jawa Timur Kota Malang sebelum nantinya kami akan berangkat dari sini jalan kaki ke Stadion Gajayana,” ujar Thoriq.
Menurutnya, sambutan hangat dari GKJW menjadi bukti nyata bahwa peringatan 1 Abad NU bukan hanya milik warga Nahdliyin semata, melainkan juga dirayakan dalam semangat kebersamaan lintas iman.
“Ini bukti bahwa kegiatan NU tidak hanya disambut oleh jamaah NU saja, tapi saudara-saudara kita yang lain juga ikut andil,” katanya.
Komunikasi yang Baik Antara PCNU Surabaya dan GKJW
Proses komunikasi hingga penggunaan lokasi transit tersebut terjalin melalui koordinasi antara pengurus PCNU Kota Surabaya dengan pihak GKJW. Jemaah yang berangkat berasal dari 31 kecamatan di Surabaya, masing-masing diorganisasi oleh koordinator kecamatan.
Meski bersifat transit, fasilitas yang disediakan dinilai cukup membantu jemaah. “Fasilitas di sini ada toilet, tempat istirahat sementara, dan konsumsi gratis. Ini sangat membantu kami,” tambah Thoriq.
Ia pun berharap, di usia satu abad ini, NU semakin kokoh dan memberi manfaat luas bagi bangsa. “Semoga NU semakin maju, semakin kuat, dan memberikan manfaat untuk seluruh rakyat Indonesia,” harapnya.
Ikhtiar Merawat Persaudaraan Lintas Iman
Sementara itu, Ketua Majelis Agung GKJW, Pendeta Natanael Hermawan, menyebut penerimaan jemaah Nahdliyin bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar merawat persaudaraan lintas iman yang telah terjalin lama.
“Ketika saudara-saudara dari PCNU Kota Surabaya datang dan menyampaikan maksudnya, kami langsung menyambut dengan sukacita. Ini bukan hanya soal transit, tetapi ikhtiar merawat persaudaraan antara GKJW dan Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.
Pendeta Natanael juga menyinggung kedekatan historis antara NU dan GKJW. Ia menyebut, NU yang berdiri pada 1926 di Tebuireng, Jombang, dan GKJW yang lahir pada 1931 di Mojowarno, Jombang, memiliki akar sejarah yang berdekatan secara waktu maupun geografis.
Nilai Historis Kantor GKJW di Malang
Kantor Majelis Agung GKJW di Malang juga memiliki nilai historis tersendiri. Terutama berkaitan dengan presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Gus Dur pernah mengajar di tempat ini selama tujuh tahun, dari 1974 sampai 1981, tentang Teologi Islam atau Islamologi kepada para pendeta,” jelasnya.
Peristiwa transit jemaah NU ini pun disebut sebagai napak tilas persaudaraan para pendahulu. Pihak GKJW ingin meneruskan relasi baik yang sudah dirintis sebelumnya oleh para pendiri. Agar persaudaraan ini tetap lestari sebagai sesama anak bangsa, khususnya di Jawa Timur dan Kota Malang.
“Kami punya area sekitar tiga hektare. Karena Malang dingin dan ini malam hari, kami sediakan teh, kopi panas, juga ‘pala pendem’, supaya saudara-saudara Nahdliyin tidak masuk angin,” tandasnya.
Momentum Mujahadah Kubro Sebagai Representasi Toleransi
Momen Mujahadah Kubro 1 Abad NU ini menjadi potret hidup toleransi di Malang, ketika perbedaan keyakinan justru menguatkan persaudaraan. Dengan adanya kegiatan seperti ini, masyarakat di Kota Malang menunjukkan bahwa persatuan dan kebersamaan dapat terwujud meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.







