BANDA ACEH — Menu sahur yang sehat sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW dapat menjadi salah satu kunci untuk menjaga energi dan memastikan umat Muslim tetap fokus dalam beribadah selama bulan Ramadan. Pemilihan makanan yang tepat saat sahur tidak hanya membantu menjaga kestabilan energi, tetapi juga mencegah tubuh terasa lemas di siang hari.
Kunci Sahur yang Tepat
Menjaga vitalitas selama puasa adalah hal penting yang harus diperhatikan. Salah satu jawaban atas pertanyaan ini adalah lemak. Menurut dr. Zaidul Akbar, seorang dokter, pendakwah, dan praktisi pengobatan sunah terkenal di Indonesia, lemak merupakan jenis makanan yang bertindak sebagai slow release food. Artinya, energi dari lemak akan digunakan oleh tubuh secara bertahap, berbeda dengan karbohidrat yang cenderung cepat habis dan membuat seseorang merasa lapar kembali.
Contoh lemak yang bisa dikonsumsi saat sahur adalah butter yang berasal dari lemak hewani sapi grass-fed. Menurutnya, mengonsumsi butter bersama kurma bisa memberikan tenaga, bahkan disebut sebagai kebiasaan Nabi Muhammad SAW, yakni mengonsumsi kurma dengan lemak.
Variasi Makanan Saat Sahur
Untuk variasi, dr. Zaidul menyarankan menggabungkan kurma dengan butter dan garam mineral non-rafinasi. Kombinasi ini dinilai baik untuk menjaga hidrasi tubuh, terutama karena garam mineral membantu memenuhi kebutuhan cairan selama berpuasa.
Selain butter, pilihan lain yang disarankan adalah minyak FCO (Fractionated Coconut Oil) atau minyak zaitun. Keduanya dinilai baik untuk memberikan energi yang stabil kepada tubuh saat berpuasa. Jika seseorang tetap ingin mengonsumsi nasi saat sahur, dr. Zaidul menyarankan agar nasi dicampur sedikit minyak zaitun atau FCO agar tenaga lebih stabil. Namun, ia juga menekankan pentingnya mengurangi konsumsi karbohidrat simpleks seperti nasi.
Pentingnya Cairan dalam Sahur
Selain lemak, dr. Zaidul juga mengingatkan bahwa sahur tidak boleh mengabaikan kebutuhan cairan. Menurutnya, komposisi tubuh manusia sekitar 70% adalah air, sehingga saat sahur sebaiknya memperbanyak konsumsi air putih, bukan minuman berwarna seperti teh atau kopi yang cukup dinikmati sesekali saja.
Dalam hadits Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa sahur memiliki keberkahan. “Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan,” (Bukhari, 1923). Dari sini, kita bisa memahami betapa pentingnya sahur dalam menjaga kesehatan dan kebugaran selama berpuasa.
Lima Komponen Penting Sahur Sehat
Sahur sehat akan membuat hari-hari puasa lebih bertenaga, sehingga membantu aktivitas harian dan ibadah. Berikut lima komponen penting sahur sehat:
- Makanan tinggi protein: Contohnya telur, Greek yogurt, kacang-kacangan, lentil, ikan, dan ayam. Protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
- Karbohidrat whole grain: Seperti roti gandum, oatmeal, quinoa, hingga barley. Karbohidrat ini lebih lambat dicerna dan memberi energi bertahan lama.
- Lemak sehat: Bisa berupa alpukat, nut butter, kacang dan biji-bijian, serta ground flaxseed.
- Buah dan sayur: Semangka, stroberi, mentimun, dan selada memiliki kandungan air tinggi dan membantu hidrasi tubuh.
- Minum air: Setidaknya 2–3 cangkir air untuk membantu mencegah dehidrasi selama berpuasa.
Makanan yang Harus Dihindari
Ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari saat sahur, terutama makanan asin, makanan tinggi lemak tidak sehat seperti gorengan, serta makanan tinggi gula sederhana. Makanan jenis ini berisiko membuat cepat haus, memicu heartburn, memperburuk acid reflux, hingga membuat tubuh lemas karena lonjakan gula darah yang cepat.
Kesimpulan
Menurut dr. Zaidul Akbar, sahur tidak harus selalu makan berat, tetapi yang paling penting adalah mengubah kebiasaan secara bertahap. Ia sering sahur hanya dengan FCO satu atau dua sendok, kurma, dan air yang cukup. Keberkahan sahur juga berkaitan dengan pesan bagi tubuh agar tidak terus memproduksi asam lambung berlebihan, sehingga Nabi tetap menganjurkan sahur meski hanya sekadar makan kurma dan minum.







