Bubur Kacang Ijo Bu Umi: Inovasi Rasa yang Menggugah Generasi Z
Bubur kacang ijo sering dianggap sebagai hidangan tradisional yang identik dengan rasa rumahan dan nostalgia. Namun, di area Kampung Inggris Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, sajian sederhana ini hadir dengan wajah baru yang justru digemari oleh anak muda dan pelajar dari berbagai daerah.
Adalah Bubur Kacang Ijo Bu Umi, sebuah kedai kecil yang baru beroperasi sekitar dua bulan lalu. Meski usianya masih muda, kedai ini telah berhasil mencuri perhatian Gen Z berkat inovasi topping yang kekinian tanpa menghilangkan rasa autentik.
Awal Mula Ide Usaha
Pemilik Bubur Kacang Ijo Bu Umi adalah Umi Nadia atau bernama lengkap Nadhiatul Khairunnisa. Ia mengungkapkan bahwa ide usaha ini berasal dari kerinduan akan masakan ibunya. “Saya ini pecinta bubur, tapi bubur buatan ibu. Di Pare ini saya nggak nemu bubur yang rasanya seperti itu. Jadi kalau kangen ya harus bikin sendiri,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Dari dapur rumah itulah, Umi Nadia melihat peluang. Kampung Inggris dikenal sebagai kawasan pendatang yang dihuni ribuan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, menu bubur kacang ijo dengan cita rasa rumahan justru jarang ditemukan.
Inovasi Topping yang Menarik Minat
Untuk menarik minat Gen Z, Umi Nadia memutuskan untuk menghadirkan topping yang kekinian. Bubur kacang ijo yang biasanya disajikan polos kini dipadukan dengan aneka topping seperti es krim, Oreo, hingga buah durian dan nangka.
Di Bubur Kacang Ijo Bu Umi tersedia sekitar 10 varian menu. Untuk bubur kacang ijo, pilihan toppingnya antara lain original, nangka, durian, es krim, es krim nangka, es krim durian, hingga menu spesial yang berisi semua topping sekaligus.
Menu spesial menjadi favorit pelanggan karena menyajikan sensasi lengkap, mulai dari lembutnya bubur kacang ijo, legit buah, dinginnya es krim, hingga renyahnya oreo dalam satu cup.
Harga dan Pilihan Menu
Untuk menu utama bubur kacang hijau dan ketan hitam, tersedia varian burjo original seharga Rp 7.000. Pengunjung juga bisa menambahkan aneka topping kekinian seperti nangka atau oreo dengan harga Rp 9.000, hingga ice cream yang dibanderol Rp 10.000.
Bagi pecinta durian, tersedia varian burjo + durian seharga Rp 12.000. Kombinasi topping pun dibuat semakin variatif, mulai dari burjo + Ice cream + nangka, burjo + ice cream + oreo yang masing-masing dibanderol Rp 12.000, hingga burjo + ice cream + durian seharga Rp 15.000.
Sementara menu burjo spesial menjadi favorit pembeli karena menghadirkan seluruh topping dalam satu porsi, yakni nangka, durian, ice cream, dan oreo, dengan harga Rp 16.000.
Selain menu bubur, Umi Nadia juga menyediakan menu pendamping berupa CIKUMY atau cilok cireng kuah creamy yang dijual seharga Rp 10.000. Makanan ini menjadi alternatif camilan gurih yang melengkapi sajian manis bubur kacang hijau.
Permintaan Tinggi dan Pelanggan Setia
Dalam sehari, Umi Nadia mengaku bisa menghabiskan sekitar 7 kilogram kacang hijau dan 2 kilogram ketan hitam. “Alhamdulillah mulai banyak pesanan, rata-rata memang masih di bawa pulang,” jelasnya.
Menariknya, banyak pelanggan datang kembali dan menjadi langganan. Menurut Umi Nadia, hal itu menjadi indikator bahwa cita rasa yang ditawarkan memang diterima lidah anak muda.
“Alhamdulillah customer balik lagi. Kalau nggak cocok kan nggak mungkin balik. Banyak yang jadi langganan,” bebernya.
Salah satu pelanggan, Syahkal (18), pelajar asal Ambon yang sudah enam bulan belajar di Kampung Inggris Pare mengaku hampir setiap sore membeli bubur di tempat tersebut.
“Saya biasanya beli dibungkus dua, kalau satu kurang. Rasanya nggak terlalu manis dan pas di mulut, jadi nggak eneg,” tuturnya.
Ke depan, Bubur Kacang Ijo Bu Umi Berharap Berkembang
Kombinasi rasa tradisional dengan sentuhan modern inilah yang membuat Bubur Kacang Ijo Bu Umi terasa relevan bagi Gen Z. Tidak sekadar makanan, tetapi juga menghadirkan rasa pulang bagi para perantau muda.
Ke depan, Umi Nadia berharap bisa mengembangkan usahanya lebih jauh. Ia bercita-cita memiliki tempat yang lebih luas agar pelanggan bisa menikmati bubur dengan lebih nyaman.
“Pengennya punya tempat yang lebih luas, terus nambah menu lagi. Harus ada inovasi supaya nggak monoton,” harapnya.







